Pesta Kaitetu Ambon: Suara Ely Toisutta

Diposting pada

Pesta Tradisi 31 Januari Kaitetu-Tanah Putih: Simbol Persaudaraan Lintas Iman di Ambon

AMBON – Semangat kebersamaan dan toleransi lintas iman kembali membahana di Dusun Hila Tanah Putih, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Pesta Tradisi 31 Januari Kaitetu-Tanah Putih yang diselenggarakan pada Sabtu, 31 Januari 2026, menjadi bukti nyata kekayaan budaya dan harmoni masyarakat Ambon. Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, yang turut merasakan dan mengapresiasi kekentalan tradisi ini.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah penegasan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat. Salah satu simbol yang paling menonjol dalam perayaan ini adalah penyajian ayam sageru. Lebih dari sekadar hidangan, ayam sageru melambangkan ikatan persaudaraan yang kuat, bahkan melintasi batas-batas keyakinan. Kehadirannya menegaskan bahwa dalam bingkai tradisi ini, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi kekuatan yang menyatukan.

Tak hanya ayam sageru, minuman sageru yang juga disajikan memiliki makna yang mendalam. Minuman ini menjadi representasi dari kebersamaan, persaudaraan yang erat, dan persatuan yang kokoh di antara seluruh elemen masyarakat. Dalam setiap tegukan, terkandung harapan agar tali silaturahmi terus terjaga dan semakin menguat.

Rangkaian kegiatan dalam Pesta Tradisi 31 Januari ini sangat kaya dan sarat makna. Acara dibuka dengan berbagai aktivitas yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Salah satu agenda penting adalah kunjungan rumah, yang memungkinkan para peserta untuk saling bersilaturahmi dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Kunjungan rumah ini diikuti oleh sesi nyanyian gandong, sebuah tradisi bernyanyi bersama yang mencerminkan kehangatan dan keakraban. Melodi dan lirik yang dinyanyikan bersama-sama membangkitkan rasa persatuan dan kebahagiaan kolektif. Puncak dari seluruh rangkaian acara adalah makan patita bersama. Tradisi makan bersama ini menjadi momen istimewa di mana seluruh masyarakat berkumpul dalam satu meja, berbagi hidangan, dan menikmati kebersamaan dalam suasana yang penuh suka cita.

Kehadiran ratusan warga dari Negeri Kaitetu dan Dusun Hila Tanah Putih yang memenuhi tradisi ini menunjukkan betapa pentingnya acara ini bagi mereka. Suasana meriah semakin terasa dengan penampilan tarian katreji yang dibawakan oleh anak-anak kecil dari Dusun Hila Tanah Putih. Tarian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi ajang pelestarian seni budaya lokal kepada generasi muda.

Pesan Toleransi dan Keberlanjutan dari Wakil Wali Kota

Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap pelaksanaan Pesta Tradisi 31 Januari Kaitetu-Tanah Putih. Ia secara tegas mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa melestarikan tradisi luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur.

“Tradisi ini mengajarkan kepada kita nilai-nilai yang sangat fundamental: kebersamaan, toleransi, dan saling menjaga antar sesama,” ujar Toisutta. Ia menekankan bahwa di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, nilai-nilai seperti inilah yang harus terus dijaga agar tidak terkikis.

Lebih lanjut, Toisutta juga menyentil pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ia berpandangan bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab bersama demi keberlanjutan generasi yang akan datang. Visi Ambon sebagai kota yang inklusif, toleran, dan berkelanjutan, menurutnya, akan terwujud jika seluruh elemen masyarakat bersinergi dan bergandengan tangan dengan pemerintah.

“Pembangunan yang kuat tidak hanya diukur dari kemajuan fisik dan infrastruktur semata,” tegas Toisutta. “Namun, pembangunan yang sesungguhnya juga tercermin dari kuatnya persaudaraan, tegaknya keadilan sosial, dan tingginya kepedulian antar sesama.”

Menjaga Kedamaian dan Ketertiban Selama Pesta Rakyat

Pesta Tradisi 31 Januari ini merupakan bagian dari rangkaian pesta rakyat yang akan berlangsung selama tiga hari penuh. Untuk memastikan kemeriahan acara berjalan lancar dan damai, Toisutta memberikan pesan khusus kepada masyarakat. Ia mengajak seluruh warga untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan selama perayaan berlangsung.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah larangan terhadap konsumsi minuman keras (miras). “Boleh bersukacita, boleh badendang, boleh bernyanyi sampai pagi, tapi tolong jaga ketertiban. Jangan ada miras supaya kedamaian dan kebersamaan ini tetap terjaga,” pesannya dengan tegas namun penuh kasih.

Ia berharap dengan pelestarian budaya dan tradisi turun-temurun ini, Kota Ambon dapat terus berkembang menjadi kota yang damai, berbudaya, dan berkelanjutan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan dengan iringan bersama dari lokasi pembukaan menuju gedung serbaguna di dalam dusun, menandai berakhirnya rangkaian acara pada hari itu dengan penuh rasa syukur.

Sebelum perayaan puncak ini, pada awal Januari, telah dilakukan kegiatan simbolis berupa perbaikan dan pergantian atap gereja dan masjid secara bergantian. Inisiatif ini semakin memperkuat narasi toleransi dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Ambon, membuktikan bahwa kehidupan harmonis lintas agama bukan hanya cita-cita, melainkan realitas yang terus dirawat dan dijaga.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan