Upacara Pelepasan Penuh Haru: Gorontalo Berduka atas Kepergian Dua Putri Terbaiknya
Suasana duka yang mendalam menyelimuti rumah keluarga Mustaki di Kelurahan Wongkaditi Barat, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo, pada Minggu pagi. Sejak mentari mulai meninggi, kediaman tersebut telah dipadati oleh ratusan pelayat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada dua kakak beradik, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas tragis. Jalan Pangeran Hidayat, yang biasanya riuh oleh aktivitas sehari-hari, pagi itu bertransformasi menjadi lautan manusia berpakaian serba putih, sebuah simbol kesucian dan penghormatan terakhir bagi kedua almarhumah. Para pelayat duduk berjejer di sepanjang jalan, menciptakan suasana khidmat yang mencekam menjelang prosesi pelepasan jenazah.
Sekitar pukul 07.35 Waktu Indonesia Tengah, keluarga besar bersama para pelayat memulai persiapan untuk upacara pelepasan. Acara ini menjadi sorotan utama karena dihadiri langsung oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail. Kehadiran orang nomor satu di Gorontalo ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah penanda betapa besarnya rasa kehilangan yang dirasakan oleh masyarakat Gorontalo atas wafatnya dua sosok muda yang telah memberikan kontribusi berarti di bidang pendidikan dan hukum.
Gubernur Gusnar Ismail bertindak sebagai inspektur upacara, memimpin jalannya prosesi pelepasan jenazah dengan penuh khidmat. Ratusan pelayat menyaksikan dengan hening ketika gubernur berdiri tegak di hadapan dua peti jenazah yang bersemayam. Dalam kesempatan tersebut, Gusnar Ismail menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga Mustaki. Ia menekankan bahwa kepergian Fanni dan Yessi merupakan kehilangan yang sangat besar bagi masyarakat Gorontalo.
“Mereka adalah putri terbaik daerah ini. Satu berkiprah di dunia pendidikan, satu lagi di bidang hukum. Keduanya telah memberikan kontribusi nyata,” ujar Gusnar Ismail, menegaskan betapa berharganya kedua almarhumah bagi pembangunan daerah.
Kehadiran gubernur juga menjadi bentuk penghormatan pemerintah daerah terhadap profesi kedua almarhumah. Yessi Sukersi Mustaki dikenal sebagai seorang pendidik yang berdedikasi, mengajar bahasa Inggris dan Mandarin di SMP Negeri 5 Kota Gorontalo. Sementara itu, adiknya, Fanni Anelsia Mustaki, meniti karir di bidang hukum sebagai Pranata Humas di bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Gorontalo. Tidak mengherankan jika banyak kolega dari dunia pendidikan dan kejaksaan turut hadir dalam prosesi pelepasan. Mereka datang bukan hanya sebagai kerabat atau sahabat, tetapi juga sebagai rekan kerja yang merasakan kehilangan sosok yang berharga dan profesional.
Upacara pelepasan berlangsung dalam suasana khidmat, diwarnai dengan doa-doa yang dipanjatkan untuk ketenangan arwah kedua almarhumah. Tangis keluarga pecah tatkala jenazah mulai dipersiapkan untuk diberangkatkan menuju peristirahatan terakhir di pekuburan keluarga yang tidak jauh dari rumah duka. Prosesi pelepasan ini menjadi saksi bisu betapa besar cinta dan kasih sayang yang dirasakan masyarakat Gorontalo terhadap Fanni dan Yessi.
Kronologi Kecelakaan yang Merenggut Nyawa
Kabar duka ini datang dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, pada Sabtu (14/3/2026). Dua kakak beradik tersebut menghembuskan napas terakhir dalam sebuah insiden kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga. Keduanya sedang dalam perjalanan dari Gorontalo menuju Manado menggunakan mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA. Rencananya, mereka hendak mengunjungi ibu mereka dan berkumpul menjelang perayaan Idul Fitri. Namun, takdir berkata lain, dan rencana bahagia itu berubah menjadi tragedi yang mengejutkan banyak pihak.
Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Minahasa Selatan, Iptu Engelina Yusuf, membenarkan peristiwa tragis tersebut. “Mereka berdua yang meninggal dunia,” ujarnya, mengonfirmasi kabar duka. Ia menambahkan bahwa dalam kecelakaan itu, seorang penumpang bernama Doni mengalami luka ringan, sementara pengemudi mobil, Ismail, menderita luka berat.
Menurut keterangan Iptu Engelina Yusuf, penyebab utama kecelakaan diduga karena mobil melaju dengan kecepatan tinggi, yang mengakibatkan pengemudi kehilangan kendali. Kendaraan tersebut oleng, keluar dari jalur, menabrak sebuah pohon, sebelum akhirnya menghantam sebuah rumah makan yang berada di pinggir jalan. Benturan keras tersebut menyebabkan bagian depan mobil ringsek parah dan bangunan rumah makan mengalami kerusakan yang signifikan. Video yang beredar di media sosial menampilkan kondisi mobil yang hancur lebur dan atap seng bangunan rumah makan yang roboh akibat kekuatan benturan.
Peristiwa tragis ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga Mustaki, tetapi juga bagi masyarakat Gorontalo yang mengenal kedua almarhumah. Apris Doda, seorang tetangga korban, mengenang Fanni dan Yessi sebagai pribadi yang ramah dan baik hati. “Kalau ketemu selalu menyapa tetangga. Orangnya baik-baik semua,” tuturnya, menggambarkan betapa dekatnya mereka dengan lingkungan sekitar. Kehilangan ini dirasakan tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh lingkungan sekitar yang telah lama mengenal dan menyayangi mereka.
Dalam struktur keluarga, Fanni dan Yessi adalah bagian dari tiga bersaudara. Saudara laki-laki mereka bekerja di Rumah Sakit Kandou, Manado. Kini, keluarga besar harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan dua putri terbaik mereka sekaligus dalam satu peristiwa yang menyayat hati. Upacara pelepasan yang dipimpin langsung oleh Gubernur Gusnar Ismail menjadi simbol penghormatan terakhir dari pemerintah dan seluruh masyarakat Gorontalo, sebuah upaya untuk memberikan kekuatan dan ketabahan bagi keluarga Mustaki dalam menghadapi cobaan yang begitu berat. Kehadiran gubernur menunjukkan bahwa pemerintah daerah senantiasa berdiri bersama rakyat, baik dalam suka maupun dalam duka.





















