Kisah Sarah Kim, influencer keturunan Korea Selatan, baru-baru ini menarik perhatian publik. Melalui sebuah podcast, ia mengungkapkan realitas pahit dalam kehidupan rumah tangganya: dirinya kini harus menjadi tulang punggung keluarga karena sang suami, Andrew Min, memilih untuk tidak bekerja. Situasi yang dihadapi Sarah Kim ini bukanlah anomali. Banyak istri di luar sana yang mungkin saja mendapati diri mereka berada dalam posisi serupa, di mana tanggung jawab finansial keluarga sepenuhnya jatuh ke pundak mereka. Lantas, apa langkah yang bijak bagi seorang istri ketika suaminya enggan mencari nafkah?
Memahami Akar Masalah dan Langkah Awal
Menghadapi situasi di mana suami tidak mau bekerja tentu memerlukan penanganan yang cermat dan strategis. Psikolog Meity Arianty memberikan pandangan mendalam mengenai langkah-langkah yang dapat diambil oleh seorang istri dalam kondisi seperti ini.
1. Mengingatkan Suami akan Tanggung Jawabnya
Langkah fundamental yang harus ditempuh oleh seorang istri adalah secara konsisten mengingatkan suaminya mengenai kewajiban dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Menurut Meity, sangat penting bagi seorang suami untuk disadarkan kembali akan perannya yang krusial sebagai kepala keluarga dan, yang terpenting, sebagai pencari nafkah. Tanggung jawab ini bukan hanya sekadar soal materi, tetapi juga menyangkut kontribusi dalam membangun dan menafkahi keluarga.
2. Jangan Pernah Mengabaikan Masalah yang Ada
Salah satu jebakan yang sering kali dihadapi istri adalah kecenderungan untuk mengabaikan masalah demi menghindari konflik atau pertengkaran. Meity menekankan bahwa sikap apatis atau membiarkan masalah berlarut-larut justru dapat berdampak negatif. Sikap cuek dari istri bisa jadi dianggap sebagai pemakluman oleh suami, yang pada akhirnya mengurangi motivasinya untuk berubah atau berusaha mencari pekerjaan.
“Jangan karena alasan menghindari pertengkaran sehingga istri terkesan mengabaikan atau cuek yang membuat suami jadi keenakan,” jelas Meity. Sikap ini, meski terlihat sebagai cara untuk menjaga kedamaian sesaat, justru bisa memperparah situasi dalam jangka panjang.
Melibatkan Pihak Lain untuk Mendukung
Ketika upaya personal istri dirasa belum membuahkan hasil, ada baiknya untuk tidak ragu mencari dukungan dari pihak lain.
3. Meminta Bantuan Keluarga
Jika istri merasa telah melakukan berbagai upaya untuk mengingatkan suami namun tak kunjung berhasil, Meity menyarankan untuk melibatkan anggota keluarga terdekat. Kehadiran dan campur tangan keluarga, baik dari pihak istri maupun suami, diharapkan dapat memberikan perspektif baru dan membantu menyadarkan suami akan tanggung jawabnya.
“Mintalah bantuan kepada keluarga untuk mengingatkan atau menyadarkan jika istri tidak mampu,” ujar Meity. Dukungan keluarga dapat memberikan kekuatan tambahan bagi istri dan menjadi dorongan bagi suami untuk merenungkan kembali tindakannya.
4. Pertimbangkan Konseling Pernikahan
Dalam beberapa kasus, akar permasalahan suami yang enggan bekerja bisa jadi lebih kompleks dan memerlukan penanganan profesional. Oleh karena itu, konseling pernikahan menjadi salah satu opsi yang sangat direkomendasikan. Melalui sesi konseling, pasangan dapat dibantu untuk mengidentifikasi akar masalah, memperbaiki komunikasi, dan mencari solusi bersama yang konstruktif.
Meity menyarankan agar pasangan tidak ragu untuk mencari bantuan dari profesional, seperti psikolog, atau bahkan tokoh agama yang dianggap bijaksana. “Boleh juga konseling pernikahan. Siapa tahu butuh jalan tengah atau bantuan profesional, ke pemuka agama atau psikolog,” katanya.
Langkah Terakhir: “Shock Therapy”
Ketika berbagai cara persuasif dan dukungan dari pihak lain telah diupayakan namun suami tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerja, maka langkah yang lebih tegas mungkin perlu dipertimbangkan.
5. Memberikan “Shock Therapy”
Meity mengimbau agar istri dapat memberikan semacam “shock therapy” atau terapi kejut. Tujuannya adalah untuk memberikan dorongan yang kuat kepada suami agar ia merasa terdorong untuk kembali berusaha mencari pekerjaan atau bahkan memulai usaha sendiri.
Contoh dari “shock therapy” ini bisa bermacam-macam, tergantung pada kondisi spesifik rumah tangga. Salah satu contoh yang disebutkan Meity adalah meminta suami untuk tidak pulang ke rumah terlebih dahulu sampai ia menunjukkan niat dan usaha konkret untuk mencari pekerjaan atau berwirausaha, dengan disertai batasan waktu yang jelas. Langkah ini tentu harus diambil dengan pertimbangan matang dan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan luka yang lebih dalam, namun lebih kepada sebuah penegasan akan konsekuensi dari ketidakbertanggungjawaban.
Menghadapi situasi seperti ini memang tidak mudah, namun dengan kesabaran, strategi yang tepat, dan dukungan yang memadai, diharapkan setiap istri dapat menemukan jalan keluar terbaik bagi keutuhan rumah tangganya.



















