Adab Sahur & Buka Puasa 2026: UAS Ingatkan Barokah

Diposting pada

Menyongsong Ramadan 1447 H: Panduan Lengkap Adab Sahur dan Berbuka Puasa

Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah (sekitar tahun 2026 Masehi) semakin dekat, hanya tinggal menghitung hari. Momen ini menjadi waktu yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di antara berbagai amalan yang disyariatkan, puasa Ramadan merupakan ibadah wajib yang memiliki kekhususan tersendiri. Namun, ibadah puasa ini tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan juga diiringi dengan adab-adab penting yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, terutama terkait waktu sahur dan berbuka puasa.

Ustadz Abdul Somad, dalam berbagai kesempatan, telah menjelaskan secara rinci mengenai tuntunan Nabi Muhammad SAW terkait kedua momen krusial dalam ibadah puasa ini. Memahami dan mengamalkan adab sahur dan berbuka puasa tidak hanya menyempurnakan ibadah kita, tetapi juga mengandung hikmah dan keberkahan tersendiri.

Keutamaan Sahur: Memulai Ibadah dengan Berkah

Sebelum matahari terbit dan azan Subuh berkumandang, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan sahur. Sahur bukan sekadar aktivitas makan untuk mengisi perut, melainkan sebuah sunnah yang memiliki nilai ibadah mendalam.

  • Sahur adalah Sunnah Nabi: Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersahur. Hal ini menunjukkan bahwa sahur memiliki kedudukan penting dalam ibadah puasa.
  • Mengandung Berkah: Ustadz Abdul Somad menekankan bahwa di dalam sahur terdapat keberkahan. Ini berarti, dengan bersahur, kita tidak hanya mendapatkan energi fisik untuk berpuasa, tetapi juga keberkahan spiritual yang menopang ibadah kita.
  • Minimal Secukupnya: Bagi yang mungkin sulit untuk makan banyak saat sahur, sekadar minum seteguk air pun sudah termasuk dalam mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan betapa ringannya syarat untuk mendapatkan keutamaan sahur.

Waktu sahur yang ideal adalah hingga menjelang fajar. Namun, perlu dipahami adanya waktu imsak.

  • Imsak sebagai Peringatan: Imsak adalah tanda peringatan bahwa waktu sahur akan segera berakhir dan fajar akan segera terbit. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk segera menghentikan makan dan minum, serta bersiap untuk memulai ibadah puasa.
  • Mengakhirkan Sahur: Rasulullah SAW mengajarkan untuk mengakhirkan sahur sebisa mungkin, mendekati waktu fajar. Hal ini berbeda dengan berbuka puasa yang dianjurkan untuk disegerakan. Mengakhirkan sahur memberikan jeda yang lebih singkat antara makan terakhir dan dimulainya puasa, sehingga dapat memberikan kekuatan lebih saat menjalani puasa.

Keutamaan Berbuka Puasa: Menyegerakan dan Mengikuti Anjuran

Berbuka puasa adalah momen yang ditunggu-tunggu setelah seharian menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Sama seperti sahur, berbuka puasa juga memiliki adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

  • Menyegerakan Berbuka: Salah satu sunnah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah menyegerakan berbuka puasa. Ini berarti, segera membatalkan puasa begitu masuk waktu Maghrib, tanpa menunda-nundanya.
  • Hikmah Menyegerakan Berbuka: Hikmah di balik menyegerakan berbuka adalah memberikan hak kepada tubuh yang telah beristirahat dari asupan makanan dan minuman selama berjam-jam. Ini juga menunjukkan ketaatan kita terhadap perintah agama.
  • Waktu Berbuka yang Tepat: Berbuka puasa dilakukan tepat setelah masuknya waktu Maghrib. Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” sebelum memulai berbuka adalah salah satu bentuk adab yang baik.
  • Makanan Manis dan Kurma: Rasulullah SAW menganjurkan untuk berbuka puasa dengan sesuatu yang manis, seperti kurma. Hal ini karena setelah berjam-jam perut kosong, makanan manis dapat dengan cepat memberikan energi kembali kepada tubuh.

Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa ibadah puasa bukanlah tentang menahan lapar lebih lama demi mendapatkan pahala lebih. Bahkan, ada riwayat yang menyatakan bahwa puasa yang disambung tanpa berbuka pada waktunya justru tidak diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, menyegerakan berbuka adalah kunci untuk menyempurnakan ibadah puasa.

Doa Berbuka Puasa: Memohon Keberkahan dan Ampunan

Saat berbuka puasa, disunnahkan untuk memanjatkan doa. Terdapat dua versi doa berbuka puasa yang umum dibaca oleh umat Muslim, yang keduanya boleh diamalkan.

  1. Doa Versi Pertama:
    اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
    Artinya: “Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

  2. Doa Versi Kedua:
    ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
    Artinya: “Hilanglah dahaga, basahlah tenggorokan-tenggorokan, dan telah ada pahala, insyaAllah.”

Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa kedua doa tersebut boleh digunakan. Doa versi pertama, meskipun memiliki status hadits dhoif (lemah), masih boleh diamalkan jika memenuhi lima syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut adalah:

  • Tidak berkaitan dengan masalah akidah tauhid.
  • Tidak berkaitan dengan masalah halal dan haram.
  • Tidak terkait dengan riwayat pendusta (kazab).
  • Masih berada di bawah naungan hadits shahih.
  • Bertujuan sebagai motivasi untuk beramal.

Beliau juga menekankan agar umat Muslim tidak memperdebatkan perbedaan status hadits ini. Bagi yang ingin membaca doa versi pertama, dipersilakan. Begitu pula bagi yang memilih membaca doa versi kedua atau doa lainnya yang diajarkan. Yang terpenting adalah niat tulus dan kekhusyukan saat memanjatkan doa.

Dengan memahami dan mengamalkan adab sahur dan berbuka puasa ini, diharapkan ibadah puasa Ramadan kita semakin sempurna dan diterima oleh Allah SWT. Mari kita sambut bulan suci ini dengan semangat kebaikan dan ketaatan.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan