Bencana katastropik yang mengguncang Sumatra pada penghujung tahun 2025 dan awal tahun 2026 lalu, meninggalkan luka mendalam serta memicu perdebatan sengit mengenai krisis ekologi berskala besar yang terjadi. Di luar jumlah korban jiwa yang mencapai lebih dari 1.200 orang, banjir bandang dahsyat itu juga merenggut nyawa seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis). Satwa langka ini ditemukan terkubur di bawah timbunan lumpur dan kayu di kawasan Pidie Jaya, Aceh.
Analisis mendalam terhadap kematian tragis gajah tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa tingkat kerusakan ekologi yang parah berbanding lurus dengan skala bencana yang terjadi. Namun, jika dilihat dari perspektif perilaku hewan, kematian gajah ini menunjukkan sebuah fenomena yang tidak lazim.
Gajah, seperti yang diuraikan dalam berbagai kajian, merupakan satwa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dan kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, mereka dikenal memiliki sensitivitas yang tajam dalam mendeteksi datangnya bencana alam. Kemampuan adaptif ini terbukti pada peristiwa tsunami dahsyat yang melanda Aceh dan beberapa wilayah di Samudra Hindia pada tahun 2004. Berkat kepekaan mereka, tidak ada laporan mengenai gajah yang menjadi korban dalam bencana alam tersebut. Fenomena ini secara logis memunculkan pertanyaan krusial: mungkinkah perilaku satwa dapat dimanfaatkan secara praktis sebagai sistem deteksi dini bencana alam?
Kesaksian Anomali Perilaku Satwa dalam Bencana
Sejarah mencatat bahwa kesaksian mengenai anomali tingkah laku satwa kerap muncul bersamaan dengan kejadian bencana alam. Namun, narasi-narasi ini seringkali hanya berfungsi sebagai penguat tanda-tanda bencana yang sudah ada, bukan sebagai alarm peringatan dini atau dasar prosedur preventif. Padahal, Indonesia secara geografis terletak di zona rawan bencana, terutama bencana geologis. Selain itu, kekayaan biodiversitas Indonesia yang dihuni oleh berbagai spesies satwa, membuka peluang besar bagi perilaku mereka untuk menjadi sinyal penting dalam mendeteksi peningkatan aktivitas seismik maupun vulkanik.
Berbagai tulisan yang membahas potensi ini sebenarnya banyak tersebar di berbagai media, umumnya diulas dalam ranah ilmu terapan. Namun, kajian sejarah juga menawarkan perspektif berharga dengan menyajikan data-data mengenai anomali perilaku satwa pada bencana di masa lalu. Setidaknya, peristiwa erupsi Krakatau pada tahun 1883 memberikan narasi awal bahwa anomali satwa telah mulai diperhatikan, meskipun belum sepenuhnya diperhitungkan, sebagai gejala awal dari kondisi geologis yang tidak stabil.
Satwa-Satwa yang Menunjukkan Perilaku Aneh
Letusan dahsyat Krakatau pada 27 Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana katastropik terbesar dalam sejarah modern. Bencana ini diperkirakan merenggut nyawa sekitar 4.000 orang akibat gelombang tsunami dan memuntahkan jutaan kubik abu vulkanik yang merusak berbagai ekosistem. Selain tanda-tanda geologis yang muncul sebelum bencana, berbagai kesaksian mencatat adanya anomali tingkah laku satwa sebelum, selama, dan setelah erupsi.

Film “Krakatoa: The Last Days” yang dirilis pada tahun 2006, menampilkan visualisasi fenomena ini dengan bimbingan dari para ahli, termasuk seorang geolog Belanda bernama Rogier Verbeek. Sebagai seorang ilmuwan, Verbeek menerima laporan mengenai keanehan perilaku satwa, salah satunya dari seorang perempuan Belanda bernama Johanna Beyenrick. Ia melaporkan kekhawatiran terhadap kudanya yang mengamuk, ayam peliharaannya yang berhenti bertelur, serta burung-burung yang menghilang dari pepohonan. Johanna adalah istri dari seorang pemilik perkebunan yang tinggal di dekat Pantai Anyer, lokasi yang cukup strategis untuk mengamati aktivitas Krakatau yang berada di lepas pantai.
Pasca letusan pada 27 Agustus 1883, Rogier Verbeek sendiri turut mengutarakan kesaksian mengenai anomali satwa dalam catatannya yang berjudul “Krakatau” (1885). Ia menuliskan tentang satwa-satwa peliharaannya yang menunjukkan kegelisahan, enggan keluar rumah, dan berusaha untuk mendekat ke sumber cahaya.
Anomali perilaku satwa di sekitar letusan Krakatau juga diulas secara mendalam oleh Simon Winchester dalam bukunya “Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883” (2006). Ia menceritakan keganjilan perilaku seekor gajah kecil milik Wilson’s Great World Circus, yang hampir setiap malam sejak awal Agustus 1883 menggelar pertunjukan di Batavia, ketika Krakatau mulai bergejolak. Kisah yang terungkap cukup unik, mengenai upaya seorang pawang bernama Miss Nanette Lochart dalam menenangkan dan mengamankan gajah kecil yang ‘mengamuk’ saat pertunjukan berlangsung. Ia bahkan berinisiatif menyembunyikan dan membaringkan gajah tersebut di salah satu kamar Hotel des Indes, Batavia. Gajah itu kemudian menimbulkan kegaduhan dengan merusak isi kamar hotel, yang semakin menambah kepanikan penghuni hotel lain yang mengira hotel akan roboh.
Pertarungan antara Takhayul dan Sains dalam Menafsirkan Perilaku Satwa
Kondisi prabencana seringkali memicu perdebatan menarik antara interpretasi ‘ilmiah’ dan ‘takhayul’, yang turut menyertai berbagai gejolak yang ditunjukkan oleh Krakatau. Sebagian masyarakat lokal menafsirkan gemuruh Krakatau sebagai manifestasi kemarahan entitas gaib yang diyakini menghuni gunung tersebut. Dalam konteks lain, film “Krakatoa” juga menyertakan penelaahan naskah Pustaka Raja Purwa (dibuat pada abad ke-15), yang memberikan bahan analitis bagi para geolog Belanda bahwa gunung tersebut pernah mengalami letusan besar di masa lalu.
Namun, para geolog Belanda seperti Rogier Verbeek cenderung berhati-hati dalam mengartikan persepsi lokal, termasuk berbagai anomali perilaku satwa. Ia meyakini bahwa fenomena tersebut adalah ‘takhayul yang tidak dapat dipercaya’. Simon Winchester dalam analisisnya menyadari bahwa perkembangan ilmu geologi pada akhir abad ke-19 belum cukup memadai untuk memperhitungkan anomali satwa sebagai sebuah bentuk keilmiahan. Fenomena ini bahkan masih dianggap sebagai sains semu yang bercampur dengan takhayul.
Meskipun demikian, beberapa ilmuwan mulai percaya bahwa insting satwa memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam merespons perubahan di dalam perut bumi. Seorang saksi letusan, R.A. van Sandick, dalam bukunya “In Het Rijk van Vulkaan” (1890), mempercayai hal ini melalui analisisnya terhadap fenomena migrasi burung laut dari Batavia yang terjadi sekitar tiga hari sebelum erupsi.
Pengembangan Sistem Peringatan Dini Berbasis Perilaku Satwa
Pertimbangan terhadap anomali satwa yang telah diperdebatkan sejak akhir abad ke-19 nyatanya belum menjadi prosedur baku dalam mitigasi bencana. Padahal, banyak bencana besar telah terjadi di Indonesia dalam rentang waktu tiga abad terakhir. Bahkan dalam skala internasional, perilaku satwa belum menjadi sistem peringatan dini bencana yang terintegrasi, meskipun beberapa hasil penelitian terkait hal ini telah mulai diakui.
Salah satu riset penting dalam bidang ini dilakukan oleh ICARUS (International Cooperation for Animal Research Using Space). Proyek penelitian ini memanfaatkan satelit untuk melacak pergerakan satwa, termasuk potensinya sebagai alarm bencana alam. Berdasarkan informasi dari laman resminya, salah satu pijakan riset ICARUS adalah peristiwa gempa dan tsunami di Indonesia pada tahun 2004. Saat itu, kesaksian masyarakat mengenai perilaku gajah yang bergerak menjauhi pantai ke arah pedalaman cenderung diabaikan sebagai sinyal peringatan dini.
Di Indonesia sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) belum secara resmi memberlakukan perilaku satwa sebagai prosedur baku dalam sistem peringatan dini. Namun, menariknya, pada erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada November 2020, masyarakat yang tinggal di wilayah lereng Merapi telah mulai mempertimbangkan perilaku monyet sebagai bahan pertimbangan untuk mengungsi. Laporan dari media lokal pada edisi 7 November 2020 menyebutkan bahwa masyarakat di Kelurahan Glagaharjo (Sleman) telah menyaksikan monyet-monyet turun gunung sebelum Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status Merapi dari level Waspada ke Siaga.
Secara umum, mempertimbangkan perilaku satwa sebagai salah satu indikator alami dalam sistem peringatan dini bencana merupakan langkah yang perlu terus dikembangkan sebagai pelengkap instrumen geofisika modern. Sejarah telah membuktikan bahwa pengalaman masa lalu menyediakan preseden penting dalam pengambilan keputusan terkait manajemen risiko bencana. Dalam konteks ini, prinsip pembelajaran historis tidak hanya bersifat retrospektif, tetapi juga mengandung dimensi preventif dan mitigatif yang sangat krusial untuk menghadapi potensi bencana di masa depan.



















