Rivalitas Chelsea dan Arsenal Kembali Memanas Pasca-Kekalahan Arsenal di Final Liga Champions
Arsenal kembali gagal meraih gelar Liga Champions setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) dalam laga final yang berlangsung di Puskas Arena, Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. Kegagalan tersebut membuat The Gunners harus menunda impian mengangkat trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Pada pertandingan tersebut, Arsenal sempat unggul lebih dahulu pada menit ke-5, tetapi PSG berhasil menyamakan kedudukan pada babak kedua sebelum akhirnya menang 4-3 melalui adu penalti. Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi tim asuhan Mikel Arteta, yang sebelumnya telah memperlihatkan performa luar biasa sepanjang musim.
Beberapa saat setelah pertandingan berakhir, akun Instagram resmi Chelsea mengunggah foto yang menampilkan trofi Liga Champions dan trofi Piala Dunia Antarklub milik mereka. Unggahan tersebut disertai keterangan promosi tur stadion Stamford Bridge dengan pesan: “Ayo kunjungi markas trofi London.” Meski tidak menyebut Arsenal secara langsung, waktu unggahan tersebut membuat banyak penggemar mengaitkannya dengan kekalahan rival sekota mereka di final Liga Champions.
Kolom komentar unggahan Chelsea langsung dipenuhi berbagai respons dari para pendukung sepak bola. Sebagian fans Chelsea menganggap unggahan tersebut sebagai sindiran halus kepada Arsenal yang kembali gagal meraih trofi Liga Champions. Beberapa komentar bahkan secara terang-terangan membandingkan koleksi gelar Eropa kedua klub. Contohnya, salah satu pengguna Instagram menulis: “Aku mencintaimu HAHAHAHAHAHA,” sementara akun lainnya menulis: “Arsenal belum pernah melihat trofi sebanyak ini sebelumnya.”
Di sisi lain, sejumlah pendukung Arsenal menilai unggahan tersebut hanya bagian dari strategi pemasaran klub yang kebetulan dipublikasikan berdekatan dengan final Liga Champions. Namun, rivalitas antara Chelsea dan Arsenal memang menjadi salah satu yang paling sengit di sepak bola Inggris. Kedua klub sama-sama berbasis di London dan telah berulang kali bersaing dalam perebutan gelar domestik maupun kompetisi Eropa.
Perbedaan terbesar di level Eropa adalah Chelsea telah dua kali menjuarai Liga Champions, yakni pada 2011/2012 dan 2020/2021. Sementara Arsenal masih menunggu trofi Liga Champions pertama mereka, dengan final 2025/2026 menjadi kesempatan kedua setelah sebelumnya gagal pada partai puncak musim 2005/2006. Akibatnya, unggahan sederhana Chelsea tentang koleksi trofi mereka pun langsung memancing spekulasi dan menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar sepak bola, terutama setelah Arsenal kembali pulang dengan tangan hampa dari panggung terbesar sepak bola Eropa.
Komentar Arteta Mengenai Kekalahan Tim
Pelatih Arsenal Mikel Arteta turut menyayangkan kegagalan timnya menjadi juara. Ia mengatakan, “Saat ini tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sakit ini, tetapi kami harus mengakui perjalanan luar biasa yang telah kami lalui musim ini.” Arteta juga mengakui kualitas PSG yang menurutnya layak menyandang status tim terbaik dunia saat ini.
“Mereka sangat sulit untuk dihadapi. Itulah alasan mereka bisa menjadi juara dua kali berturut-turut. Kualitas individu pemain mereka dan cara tim itu dilatih sangat luar biasa.” Arteta menambahkan, “Saya ingin mengucapkan selamat kepada Paris, terutama kepada Luis Enrique. Menurut saya mereka adalah tim terbaik di dunia saat ini. Apa yang mereka lakukan ketika menguasai bola dan kualitas individu yang mereka miliki benar-benar luar biasa.”
Meskipun kecewa, Arteta menegaskan bahwa Arsenal harus segera bangkit dan kembali menunjukkan ambisi besar untuk musim depan. Ia menilai level persaingan di Eropa dan Inggris terus meningkat sehingga timnya harus berkembang lebih jauh lagi. “Kemajuan yang telah kami tunjukkan dalam beberapa tahun terakhir harus kami ulangi lagi. Level kompetisi semakin tinggi dan persaingan sangat luar biasa.”
Arteta juga menyampaikan rencananya untuk evaluasi musim ini. “Sekarang saya akan meluangkan waktu beberapa hari bersama keluarga. Setelah itu kami akan mengevaluasi musim ini dan membuat sejumlah keputusan penting jika ingin mencapai level yang lebih tinggi.” Ia menutup dengan tekad kuat, “Kami harus sangat ambisius, bergerak cepat, dan membuat keputusan yang cerdas karena saya yakin tim ini mampu melakukannya.”




