Dinamika Perceraian Ruben Onsu dan Sarwendah: Sang Pengacara Sarwendah Tegaskan Prioritas Anak
Kasus perceraian yang melibatkan pasangan selebritas Ruben Onsu dan Sarwendah, yang resmi diputus pada September 2024, terus memunculkan berbagai pernyataan dari kedua belah pihak, khususnya melalui kuasa hukum mereka. Alih-alih mereda, perdebatan seputar alasan di balik kandasnya rumah tangga mereka justru semakin mengemuka.
Baru-baru ini, Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, melontarkan sebuah tantangan terbuka. Ia mendesak pihak Sarwendah untuk tidak bungkam dan berani mengungkapkan secara gamblang akar permasalahan yang menyebabkan keretakan rumah tangga yang telah mereka bina. Tantangan ini seolah menjadi panggilan bagi Sarwendah untuk memberikan klarifikasi atas isu-isu yang beredar.
Namun, alih-alih terpancing untuk membuka diri, kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, justru memilih untuk tetap berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian. Chris menegaskan bahwa keputusan untuk menahan diri dan tidak membeberkan detail perceraian adalah langkah yang diambil murni demi melindungi masa depan dan kondisi mental anak-anak mereka.
“Belum lagi kemarin Bang Minola bilang, speak up aja kalau berani soal alasan pernikahan. Saya menjaga, menjunjung tinggi yang namanya privacy klien, ya,” ujar Chris Sam Siwu saat ditemui awak media di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Senin (1/6/2026). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Sarwendah dan tim kuasa hukumnya sangat mengutamakan privasi dan kesejahteraan anak-anak di atas segalanya.
Meskipun enggan untuk merinci secara spesifik, Chris Sam Siwu memberikan sebuah isyarat penting mengenai betapa beratnya perjalanan yang dilalui Sarwendah selama membina rumah tangga. Ia bahkan menyiratkan bahwa perlakuan yang diterima oleh kliennya membutuhkan ketahanan mental yang luar biasa untuk dihadapi seorang diri.
“Meskipun saya sudah tahu faktanya semua, dan itu buat saya, seorang ibu diperlakukan itu, seorang perempuan diperlakukan seperti itu menurut saya ya, itu hanya orang-orang yang kuat aja yang bisa tahan,” ungkap Chris dengan nada prihatin. Kata-katanya ini mengisyaratkan adanya situasi sulit yang dihadapi Sarwendah, yang membutuhkan kekuatan batin untuk menghadapinya.
Ketika didesak lebih jauh oleh para pewarta mengenai seberapa berat beban batin yang dirasakan oleh mantan personel grup vokal Cherrybelle tersebut, Chris memberikan jawaban yang semakin menguatkan dugaan adanya kesulitan yang signifikan.
“Wah, bukan sakit lagi kalau buat saya, ya. Tapi hanya orang-orang yang kuatlah, orang-orang yang kuat, nanti akan disampaikan oleh klien kami sendiri,” tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengalaman yang dialami Sarwendah melampaui sekadar rasa sakit biasa, melainkan sesuatu yang memerlukan ketangguhan luar biasa. Ia juga mengindikasikan bahwa Sarwendah sendiri yang nantinya akan memilih waktu yang tepat untuk berbagi ceritanya.
Prioritas Utama: Melindungi Anak-anak
Alasan utama di balik sikap diam Sarwendah selama ini adalah murni untuk melindungi ketiga buah hati mereka: Betrand Peto, serta Thalia dan Thania. Mengingat ketiga anak tersebut masih berada di bawah umur, Sarwendah memiliki kekhawatiran yang mendalam bahwa pengungkapan fakta-fakta masa lalu perceraian ini, jika dilakukan sekarang, dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang dan kesehatan mental mereka.
Chris Sam Siwu menjelaskan lebih lanjut bahwa penjelasan mengenai penyebab perceraian ini kemungkinan besar baru akan disampaikan secara terbuka kepada publik pada waktu yang tepat. Waktu yang dianggap tepat adalah ketika anak-anak mereka sudah mencapai usia dewasa, sehingga mereka memiliki pemahaman yang cukup untuk mencerna dan menerima situasi yang sebenarnya terjadi.
“Sewaktu yang pas, yang tepat karena anak-anaknya sekarang belum dewasa, sehingga itu yang dijaga sama klien kami. Pada saat anak-anaknya dewasa, sudah bisa diberi pengertian, itu akan disampaikan ke publik juga,” pungkas Chris Sam Siwu. Keputusan ini menunjukkan komitmen Sarwendah sebagai seorang ibu yang memprioritaskan kesejahteraan emosional anak-anaknya di atas kepentingan lainnya.
Keputusan untuk menunda pengungkapan detail perceraian ini merupakan strategi yang bijaksana, yang mencerminkan tanggung jawab besar Sarwendah sebagai orang tua. Dengan demikian, ia berupaya untuk meminimalkan potensi dampak negatif dari perpisahan orang tua terhadap anak-anak mereka, sembari tetap membuka kemungkinan untuk berbagi cerita di masa depan ketika anak-anak sudah siap secara emosional.




