Di tengah gemerlap kemajuan zaman dan arus budaya global, tersimpan permata-permata tradisi yang semakin hari semakin memudar. Salah satunya adalah seni pembuatan kain kulit kayu khas Kulawi, sebuah warisan budaya leluhur dari Sulawesi Tengah yang kini berada di ambang kepunahan. Proses pembuatan yang rumit dan panjang, ditambah minimnya regenerasi pengrajin, mengancam kelestarian kerajinan tangan nan unik ini.
Tradisi pembuatan kain kulit kayu di masyarakat Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bukanlah sekadar aktivitas menghasilkan selembar kain. Ia adalah sebuah ritual mendalam yang merefleksikan hubungan harmonis manusia dengan alam serta nilai-nilai filosofis yang diwariskan turun-temurun. Namun, realitas saat ini menunjukkan tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan seni adiluhung ini agar tidak lenyap ditelan waktu.
Warisan Leluhur yang Membutuhkan Regenerasi
Proses pembuatan kain kulit kayu Kulawi dimulai dari pemilihan pohon tertentu, biasanya jenis beringin atau pohon lokal lainnya. Kulit kayu bagian dalam kemudian dikupas dengan hati-hati, lalu dipukul-pukul menggunakan palu kayu hingga seratnya memisah dan menjadi lembaran yang halus. Proses ini membutuhkan kesabaran dan keahlian tinggi yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.
Setelah menjadi lembaran tipis, kulit kayu ini diolah lebih lanjut menjadi kain. Pewarnaan tradisional menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan semakin menambah keunikan dan nilai artistik kain ini. Setiap motif yang terukir memiliki makna tersendiri, seringkali berkaitan dengan cerita leluhur, alam, atau kepercayaan masyarakat setempat.
Ironisnya, para pengrajin yang masih menguasai teknik rumit ini sebagian besar telah berusia lanjut. Regenerasi pengrajin menjadi pekerjaan rumah besar bagi masyarakat Kulawi dan pemerintah daerah. Tanpa adanya generasi muda yang tertarik dan dibekali keterampilan untuk melanjutkan tradisi ini, kain kulit kayu Kulawi berisiko besar hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah.
Komitmen Politik dan Harapan Baru
Menyadari gentingnya situasi ini, sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah daerah mulai menunjukkan kepedulian. Komitmen untuk melestarikan kain kulit kayu Kulawi sempat tergerus oleh dampak gempa bumi besar yang melanda Sigi pada tahun 2018. Bencana tersebut merusak infrastruktur dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk para pengrajin.
Namun, optimisme kembali tumbuh. Bupati Sigi terpilih, Rizal Intjenae, secara tegas menyatakan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan kain kulit kayu Kulawi. Ia menekankan pentingnya regenerasi pengrajin sebagai kunci agar warisan budaya ini tidak hilang. Langkah konkret yang diusulkan adalah merealisasikan konsep rumah produksi.
Konsep rumah produksi ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelatihan bagi generasi muda, tetapi juga menjadi pusat produksi yang terkelola dengan baik. Tujuannya adalah memastikan kain kulit kayu tetap diproduksi, dilestarikan nilainya, dan bahkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui potensi ekonomi kreatifnya.
Potensi Ekonomi dan Identitas Budaya
Kain kulit kayu Kulawi bukan hanya sekadar artefak budaya. Ia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang dapat mendatangkan nilai ekonomi. Desain yang ditampilkan pada kain ini, seperti pakaian dan celana, mencerminkan kearifan masyarakat zaman dahulu. Keunikan dan nilai sejarahnya dapat menjadi daya tarik tersendiri di pasar, bahkan hingga ke luar Sulawesi.
Pengembangan kain kulit kayu menjadi produk yang lebih modern namun tetap mempertahankan esensi tradisionalnya dapat membuka peluang pasar baru. Kolaborasi dengan desainer lokal, penyelenggaraan pameran, dan promosi melalui platform digital dapat menjadi strategi efektif untuk memperkenalkan kembali keindahan dan keunikan kain ini kepada khalayak yang lebih luas.
Lebih dari sekadar potensi ekonomi, kain kulit kayu Kulawi adalah simbol identitas budaya Kabupaten Sigi. Ia merepresentasikan kekayaan intelektual, keterampilan, dan sejarah panjang masyarakatnya. Menjaganya berarti menjaga sebagian dari jiwa dan jati diri bangsa Indonesia.
Upaya pelestarian kain kulit kayu Kulawi ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya. Di era globalisasi yang serba cepat, kerajinan tradisional seperti ini menjadi jangkar yang mengingatkan kita akan akar dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Harapannya, melalui dukungan yang berkelanjutan dan keterlibatan aktif dari semua pihak, kain kulit kayu Kulawi dapat terus hidup dan menjadi kebanggaan Indonesia.
Penulis: Erwin



















