Ramadan: Pola Minum Dokter Surabaya Cegah Dehidrasi

Diposting pada

Menjaga Hidrasi Optimal Selama Ramadan: Kunci Tetap Bugar dan Sehat

Bulan Ramadan adalah periode istimewa yang diiringi dengan kewajiban menahan lapar dan haus dari fajar hingga senja. Meskipun menjadi tantangan, menjaga keseimbangan cairan tubuh selama periode puasa ini sangat krusial untuk menghindari dehidrasi dan menjaga stamina. Waktu minum yang terbatas, hanya antara waktu berbuka puasa hingga sahur, mengharuskan umat Muslim untuk menerapkan strategi hidrasi yang cerdas agar kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi.

Dehidrasi, atau kekurangan cairan, selama lebih dari 12 jam dapat memicu berbagai keluhan fisik. Gejalanya bisa ringan, seperti rasa lemas dan sakit kepala, namun juga bisa berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan pola minum yang tepat menjadi kunci utama agar tubuh tetap bugar dan sehat sepanjang bulan Ramadan.

Kebutuhan Cairan Tubuh Selama Berpuasa

Menurut seorang dokter dari RSIA Kendangsari Merr Surabaya, dr. Karlina Amalia, pemenuhan kebutuhan cairan selama berpuasa bukan semata-mata soal jumlah total yang diminum, melainkan juga bagaimana cairan tersebut dikonsumsi secara teratur dalam interval waktu yang tepat. Ia menekankan bahwa minum dalam jumlah besar sekaligus tidaklah efektif dan justru dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

“Kebutuhan cairan memang harus dipenuhi, tapi bukan berarti minum banyak sekaligus. Minum harus terkontrol sejak buka puasa sampai sahur,” ujar dr. Karlina Amalia.

Kebutuhan cairan rata-rata untuk orang dewasa adalah sekitar 2 hingga 2,5 liter per hari, yang setara dengan kurang lebih 6 hingga 8 gelas air. Angka ini tetap menjadi acuan, namun cara pemenuhannya perlu disesuaikan dengan kondisi berpuasa.

Strategi Jitu Mencegah Dehidrasi: Pola Minum 2-2-2

Untuk menyiasati keterbatasan waktu minum, dr. Karlina Amalia merekomendasikan sebuah metode praktis yang dikenal sebagai “pola 2-2-2”. Pola ini sangat efektif untuk memastikan asupan cairan terdistribusi secara merata dari waktu berbuka hingga sahur.

Pola 2-2-2 ini terdiri dari pembagian sebagai berikut:

  • 2 gelas saat berbuka puasa: Segera setelah adzan Maghrib berkumandang, mulailah dengan meminum dua gelas air untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.
  • 2 gelas setelah berbuka (malam hari): Di sela-sela waktu setelah berbuka hingga sebelum tidur, konsumsi kembali dua gelas air. Ini bisa diminum setelah sholat Tarawih atau saat berkumpul bersama keluarga.
  • 2 gelas sebelum tidur atau saat sahur: Porsi terakhir adalah dua gelas air yang diminum sebelum tidur atau saat menjalani sahur. Jika memilih minum saat sahur, pastikan tidak berlebihan agar tidak mengganggu kenyamanan.

Dengan menerapkan pola ini, tubuh akan mendapatkan asupan cairan secara bertahap dan optimal. Distribusi cairan yang merata ini membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan mencegah tubuh mengalami kekurangan cairan yang signifikan. Hasilnya, aktivitas harian dapat dijalani dengan lebih baik tanpa mudah merasa haus atau lemas.

Hindari Minum Berlebihan Sekaligus

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan adalah menenggak air dalam jumlah sangat banyak saat sahur, misalnya 1-2 liter sekaligus. dr. Karlina Amalia mengingatkan bahwa praktik ini justru tidak efektif. Ketika tubuh menerima cairan dalam jumlah yang berlebihan dalam satu waktu, ginjal akan bekerja keras untuk mengeluarkan kelebihannya melalui urine.

“Kalau sahur banyak minum misalnya 2 liter, nanti kondisinya tidak enak, akan beser. Karena tubuh merespons kelebihan cairan dengan mengeluarkannya,” jelasnya.

Ini berarti, minum berlebihan tidak serta-merta membuat tubuh lebih siap menghadapi puasa seharian. Sebaliknya, hal ini bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat frekuensi buang air kecil meningkat, yang justru bisa mengurangi kadar air dalam tubuh.

Nutrisi Seimbang dan Pentingnya Sahur

Selain asupan cairan, dr. Karlina Amalia juga menekankan pentingnya nutrisi yang seimbang dari makanan bergizi. Ia berpendapat bahwa tambahan suplemen vitamin umumnya tidak terlalu dibutuhkan jika asupan nutrisi harian sudah tercukupi dari konsumsi makanan sehat, buah-buahan, dan sayuran.

Namun, dalam kondisi tertentu, seperti saat tubuh sedang tidak fit atau bagi ibu hamil, suplemen vitamin tetap bisa dikonsumsi sesuai dengan anjuran dokter. Jika memutuskan untuk mengonsumsi suplemen, waktu terbaik adalah setelah sahur, karena penyerapan vitamin cenderung lebih efektif setelah tubuh mendapatkan asupan makanan.

Hal terpenting lainnya adalah jangan pernah melewatkan sahur. Sahur memiliki peran fundamental dalam menjaga energi dan hidrasi tubuh selama menjalani puasa. Dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan meminum air sesuai pola yang dianjurkan saat sahur, tubuh akan memiliki bekal energi dan cairan yang cukup untuk menghadapi hari puasa.

Secara keseluruhan, kombinasi antara pola minum yang teratur, asupan nutrisi yang seimbang, dan keharusan untuk tidak melewatkan sahur adalah kunci untuk meminimalkan risiko dehidrasi dan menjaga kesehatan serta kelancaran ibadah puasa Ramadan. Dengan persiapan yang matang, bulan penuh berkah ini dapat dijalani dengan penuh kebugaran dan keberkahan.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan