Lonjakan Harga Pangan di Awal Ramadhan: Cabai dan Bawang Merah Melonjak Drastis
Memasuki bulan suci Ramadhan, masyarakat dihadapkan pada kenaikan harga sejumlah komoditas pangan penting. Di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dua komoditas yang paling merasakan lonjakan signifikan adalah cabai merah besar dan bawang merah. Fenomena ini tentu saja menjadi perhatian serius bagi para pedagang maupun konsumen yang bergantung pada kedua bahan pokok tersebut, terutama dalam persiapan hidangan selama bulan puasa.
Cabai Merah Besar: Dari Rp 30.000 ke Rp 40.000 per Kilogram
Seorang pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Andi (35), mengungkapkan bahwa harga cabai merah besar saat ini telah mencapai Rp 40.000 per kilogram. Kenaikan ini bukanlah kejadian mendadak, melainkan terjadi secara bertahap dalam kurun waktu sepekan terakhir. “Harga cabai merah besar hari ini Rp 40 ribu per kilogram. Sekarang lagi lumayan naik, lumayan mahal. Sudah naik sejak sekitar semingguan, naiknya bertahap,” ujar Andi pada Kamis (19/2).
Andi menjelaskan bahwa sebelum kenaikan ini, harga cabai merah besar masih berada di kisaran Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per kilogram. Namun, seiring dengan menipisnya pasokan, harga pun terus merangkak naik. “Awalnya sempat Rp 25-30 ribu per kilogram, semakin naik, naik. Kalau naik itu berarti stoknya menipis. Kalau lagi mahal biasanya karena barangnya sedikit,” tuturnya.
Menurut pandangan Andi, fluktuasi harga cabai sangat bergantung pada ketersediaan stok di sentra distribusi. Jika pasokan kembali melimpah, harga berpotensi untuk kembali turun. Sebaliknya, apabila stok terbatas, harga bisa saja terus mengalami kenaikan selama periode Ramadhan. “Perkiraan naik atau tidaknya selama Ramadhan tergantung stok di lokasi pusat. Kalau banyak stoknya ya turun lagi harganya. Kalau stok sedikit bisa naik lagi,” tambahnya.
Bawang Merah Ikut Meroket: Potensi Tembus Rp 60.000 per Kilogram
Tidak hanya cabai, harga bawang merah juga menunjukkan tren kenaikan yang cukup tajam dalam beberapa hari terakhir. Pedagang bawang merah, Aril (44), menyebutkan bahwa harga bawang merah kupas saat ini dijual seharga Rp 42.000 per kilogram. Sementara itu, untuk bawang merah yang masih berkulit, terutama yang berukuran besar, harganya bisa mencapai Rp 50.000 per kilogram. “Harga bawang merah yang kupas Rp 42 ribu per kilogram. Kalau yang kulit, yang besar-besar, sekitar Rp 50 ribuan,” jelasnya.
Aril menambahkan bahwa kenaikan harga ini mulai terasa sejak tanggal 15 hingga 16 Februari 2026. Sebelumnya, harga bawang merah masih berada di kisaran Rp 35.000 per kilogram. Namun, dalam kurun waktu tiga hari terakhir, harga tersebut melonjak drastis menjadi Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. “Harganya ini sedang naik, mulai naik dari tiga hari lalu sekitar tanggal 15-16 Februari. Awalnya Rp 35 ribuan per kilogram, sekarang sudah Rp 40-50 ribuan,” ungkapnya.
Dugaan Aril mengenai penyebab kenaikan harga ini adalah berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi utama, khususnya Brebes, Jawa Tengah. Menurutnya, kelancaran distribusi yang terganggu menjadi faktor utama menipisnya stok di pasar induk. “Menurut saya kenaikan ini karena dari Brebes stoknya mulai jarang, agak susah,” katanya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Aril memperkirakan bahwa harga bawang merah masih berpotensi terus naik selama bulan Ramadhan. Bahkan, jika pasokan tidak segera kembali normal, harganya bisa menembus angka Rp 60.000 per kilogram. “Kayaknya selama Ramadhan diperkirakan akan naik terus sampai Rp 60 ribu per kilogram,” ujar Aril. Ia juga menambahkan bahwa sejumlah inspeksi telah dilakukan oleh pihak berwenang untuk memastikan tidak ada praktik penimbunan yang memperparah kondisi ini.
Upaya Pengawasan untuk Menjaga Stabilitas Harga
Kenaikan harga cabai dan bawang merah ini tentu menjadi perhatian utama bagi semua pihak, mengingat kedua komoditas tersebut merupakan bahan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama menjelang dan selama bulan Ramadhan. Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tidak wajar, pengelola Pasar Induk Kramat Jati bersama dengan instansi terkait terus melakukan pengawasan ketat.
Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menegaskan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan kenaikan harga yang terjadi disebabkan oleh faktor pasokan yang memang berkurang, bukan karena adanya permainan spekulan. “Mereka memastikan kenaikan harga ini karena faktor pasokan, bukan permainan,” kata Agus pada Rabu (18/2). Ia menambahkan bahwa pengecekan telah dilakukan oleh Badan Pangan Nasional dan juga Bareskrim Polri.
Menurut Agus, pengawasan ini sangatlah krusial untuk menjaga stabilitas harga di pasar dan melindungi masyarakat dari praktik-praktik spekulasi yang dapat merugikan. Dengan adanya upaya ini, pengelola pasar berharap pasokan dapat segera membaik dan harga cabai serta bawang merah dapat terus menurun dan stabil sepanjang bulan Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri.
“Kami berharap cuaca membaik dan petani bisa panen secara normal. Kalau suplai lancar, harga juga akan lebih terkendali,” harapnya. Agus juga turut mengimbau masyarakat untuk berbelanja sesuai dengan kebutuhan dan tidak melakukan pembelian dalam jumlah berlebihan atau menimbun barang, guna membantu menjaga ketersediaan pasokan di pasar.



















