Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirim pesan terbuka kepada warga Amerika Serikat dan mendorong mereka memakai hak pilih untuk menekan perubahan kebijakan Washington terhadap Iran. Seruan itu disampaikan menjelang pemilu sela November, di tengah hubungan Iran-AS yang masih tegang dan perang yang terus menjadi beban politik bagi pemerintahan Donald Trump. Dalam suratnya, IRGC menuduh Gedung Putih menyesatkan publik soal konflik dengan Iran dan meminta warga AS menentukan arah baru lewat kotak suara.
Pesan tersebut dipublikasikan beberapa pekan sebelum pemungutan suara yang akan menentukan komposisi Kongres. Bagi IRGC, momentum itu dinilai tepat karena isu perang, biaya hidup, dan arah kebijakan luar negeri sedang berada di pusat perdebatan politik Amerika. Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menegaskan bahwa sasaran surat itu bukan langsung pemerintahan Trump, melainkan masyarakat Amerika yang memiliki wewenang memilih. Ia menyebut pesan tersebut ditujukan agar warga AS mengambil kembali kendali dari para politisi yang dianggap korup.
Isi surat itu juga memuat klaim bahwa pemerintahan Trump membohongi publik mengenai perang dengan Iran. IRGC bahkan menulis bahwa sistem politik Amerika sedang berada pada titik paling lemah dan meminta warga Negeri Paman Sam untuk “bangun”. Seruan ini muncul ketika Washington dan Teheran belum keluar dari siklus saling ancam setelah kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya tercapai runtuh pada Juli. Upaya mediator untuk membuka kembali perundingan pun sejauh ini belum menghasilkan kesepakatan baru.
Dari sisi narasi konflik, IRGC membawa versi yang sangat berbeda dari pemerintah Amerika Serikat. Dalam surat yang dikutip Times, kelompok itu menyatakan Iran telah memenangkan perang dan menilai AS gagal mencapai tujuan saat melancarkan serangan. IRGC juga mengklaim Iran masih mempertahankan pengaruh atas Selat Hormuz dan program nuklirnya tetap bertahan. Klaim tersebut berlawanan dengan pernyataan Washington yang menyebut operasi militernya berhasil.
Serangan verbal IRGC terhadap Trump tidak datang tanpa latar politik domestik di Amerika. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Agustus menunjukkan 59 persen responden di AS tidak mendukung serangan militer ke Iran. Sebanyak 54 persen lainnya menilai biaya operasi itu tidak sepadan. Di saat yang sama, tekanan biaya hidup menjadi isu yang lebih luas menjelang pemilu sela. Konflik dengan Iran juga ikut memengaruhi pasar energi karena gangguan pelayaran di Selat Hormuz sempat mendorong harga energi naik dan menambah tekanan inflasi.
IRGC turut menyoroti Selat Hormuz sebagai bagian dari perang narasi. Mohebbi menolak anggapan bahwa Iran kehilangan kendali atas jalur strategis itu. Ia mengatakan, upaya kapal kecil melewati selat dengan biaya tinggi tidak berarti jalur tersebut benar-benar terbuka. Sementara itu, data perdagangan menunjukkan arus pelayaran dan ekspor minyak dari kawasan Teluk mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Data Kpler mencatat ekspor minyak mentah dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mencapai level tertinggi sejak perang dimulai, sedangkan Lloyd’s List Intelligence melaporkan pelayaran kapal Saudi melalui Selat Hormuz pada tiga pekan pertama September melampaui total pelayaran dalam satu bulan penuh sejak konflik pecah.
Di bagian lain suratnya, IRGC juga menyerang alasan utama yang kerap dipakai Washington untuk membenarkan tindakan militernya, yakni ancaman senjata nuklir Iran. Kelompok itu menyebut Gedung Putih sebagai “pabrik kebohongan tiada henti”. Teheran selama ini menegaskan program pengayaan uraniumnya hanya untuk tujuan sipil. Penilaian intelijen AS pada Maret 2025 menyatakan Iran tidak sedang mengembangkan bom nuklir, sementara IAEA melaporkan pada Juni 2025 Iran telah memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Pada September, IAEA menyatakan belum bisa memverifikasi kondisi penuh persediaan tersebut.
Sumber: jawapos.com




