Mengapa rupiah sempat kembali menembus area Rp18.000 per dolar AS

Diposting pada

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pekan ini dan sempat menyentuh Rp 18.031 per dolar AS pada Selasa (29/9). Namun pada Jumat (2/10) pukul 12.20 WIB, mata uang Garuda sudah bergerak menguat sekitar 0,48% secara harian ke level Rp 17.879 per dolar AS. Pergerakan ini dipicu kombinasi faktor luar negeri dan kebutuhan valas di dalam negeri yang belum sepenuhnya reda.

Dari sisi global, tekanan datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang masih cenderung ketat. Imbal hasil aset dolar yang tinggi membuat investor global lebih memilih menempatkan dana di instrumen AS yang dianggap lebih aman. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menyoroti imbal hasil US Treasury di atas 5% untuk tenor 10 tahun sebagai salah satu pemicu arus dana keluar dari negara berkembang.

Faktor lain yang ikut menekan rupiah adalah kenaikan harga minyak. Eskalasi geopolitik di Timur Tengah mendorong harga energi naik dan berdampak ke banyak negara, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, kondisi ini berarti kebutuhan dolar untuk impor energi bisa meningkat, sementara di sisi lain biaya subsidi dalam negeri juga berpotensi ikut tertekan. Kombinasi tersebut membuat rupiah rentan bergerak melemah.

Permintaan dolar di pasar domestik juga belum stabil. Kebutuhan valas untuk aktivitas ekspor-impor membuat kurs lebih mudah bergejolak ketika sentimen eksternal memburuk. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung cepat merespons kabar yang dianggap memperburuk prospek rupiah, termasuk kemungkinan kebijakan suku bunga tinggi di AS bertahan lebih lama dari perkiraan.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia memilih mengubah pola intervensi. Otoritas moneter itu mengurangi intervensi di pasar spot dan lebih banyak memakai instrumen domestic non deliverable forward (DNDF) serta non-deliverable forward (NDF) untuk menjaga pasokan devisa. Rizal menilai langkah ini bisa membantu meredam ekspektasi negatif di pasar.

Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, melihat DNDF dan NDF berguna untuk menahan tekanan psikologis dan memberi lindung nilai, tetapi tidak bisa menggantikan kebutuhan dolar nyata untuk pembayaran impor maupun utang. Ia memperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, kisaran Rp 17.800–Rp 18.300 per dolar AS bisa menjadi skenario kerja bila tekanan global bertahan dan stabilisasi BI tetap efektif. Rizal juga menilai level Rp 18.000 masih berpeluang kembali diuji selama harga minyak tetap tinggi, imbal hasil AS belum turun, dan kebutuhan valas domestik masih besar.

Dengan demikian, arah rupiah tidak hanya ditentukan oleh sentimen luar negeri, tetapi juga oleh kecukupan pasokan devisa dan kemampuan menjaga ekspektasi pasar di dalam negeri. Jika tekanan global mereda tanpa didukung stabilitas pasokan dolar, pelemahan rupiah dikhawatirkan bisa berlangsung lebih lama.

Sumber: www.momsmoney.id

Tinggalkan Balasan