Cesc Fabregas Ungkap Alasan Tak Biasa Memilih Como dan Perubahan Cara Pandangnya soal Taktik

Diposting pada

Cesc Fabregas mengungkap kisah di balik keputusannya bergabung dengan Como, klub Serie B Italia yang kemudian ia bawa menorehkan kebangkitan besar hingga lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Dalam acara Festival dello Sport di Trento, mantan gelandang Barcelona, Chelsea, dan Arsenal itu bercerita bahwa kepindahannya ke Stadio Giuseppe Sinigaglia tidak lahir dari rencana yang sangat matang, melainkan dari keyakinan pribadi bahwa proyek tersebut tepat untuknya.

Fabregas mengatakan ia sebenarnya memiliki beberapa tawaran lain saat memilih Como, tetapi dorongan utamanya datang dari intuisi. Ia menilai keputusan itu terasa aneh pada awalnya, apalagi karena dirinya sudah beberapa kali berlibur ke kota di tepi Danau Como tanpa sadar bahwa ada klub sepakbola di sana. Ia menyebut, “Terkadang Anda hanya harus mengikuti kata hati,” ketika menjelaskan alasan menerima pinangan klub Italia itu, seperti dikutip Football Italia.

Langkah ke Como menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya setelah masa bermain yang penuh trofi bersama tim-tim besar Eropa. Sebelum masuk dunia kepelatihan, Fabregas sudah mengoleksi gelar-gelar bergengsi, termasuk Premier League dan Liga Europa bersama Chelsea, lalu La Liga, Copa del Rey, dan Piala Dunia Antarklub FIFA bersama Barcelona. Di level internasional, ia juga menjadi bagian dari generasi emas Spanyol yang menjuarai dua Piala Eropa beruntun dan Piala Dunia 2010.

Meski pernah bekerja di bawah nama-nama besar seperti Arsene Wenger dan Vicente del Bosque, Fabregas menilai perubahan besar dalam cara pandangnya soal sepakbola justru datang saat bertemu Antonio Conte di Chelsea. Ia mengaku saat itu usianya sudah 29 tahun dan merasa sudah cukup berpengalaman, tetapi Conte membuka matanya terhadap detail taktis yang sebelumnya tidak ia alami. Menurut dia, Conte sangat menekankan rincian permainan, termasuk soal arah operan dan penempatan posisi, sesuatu yang semula terasa berlebihan baginya.

Fabregas juga menegaskan bahwa fondasi kepelatihannya sebenarnya sudah terbentuk sebelum ia resmi memulai karier manajerial pada 2023. Pengalaman bermain di level tertinggi, ditambah pelajaran dari berbagai pelatih elite, kemudian ia bawa ke Como. Salah satu prinsip yang ia pegang kuat adalah menjaga identitas tim dalam kondisi apa pun. Ia bahkan menggambarkan pendekatannya dengan pertanyaan sederhana sebelum laga: bagaimana cara kalah tanpa mengkhianati ide permainan sendiri.

Prinsip itu tampaknya mulai terlihat hasilnya. Como saat ini menempati posisi kedelapan di Serie A setelah mengumpulkan 10 poin dari lima pertandingan awal, hanya tertinggal tiga angka dari pemuncak klasemen, Roma. Perkembangan cepat itu membuat proyek Fabregas semakin mendapat sorotan, terlebih karena datang dari klub yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan.

Di sisi lain, Fabregas tetap menyadari bahwa dirinya masih terus belajar sebagai pelatih muda. Ia mengakui pernah terlibat ketegangan di pinggir lapangan, termasuk dengan Massimiliano Allegri, namun menganggap pengalaman itu bagian dari proses pendewasaan. Ia juga menyebut Gian Piero Gasperini sebagai salah satu sosok yang sangat dihormatinya karena selalu siap menjadi sumber pembelajaran dari pelatih yang lebih berpengalaman.

Sumber: www.goal.com

Tinggalkan Balasan