Dailami Minta Izin Konser Israel & New Breed di Jakarta Ditunda

Diposting pada

Rencana konser grup musik Israel & New Breed di Jakarta kembali memantik penolakan. Senator DPD RI Dailami Firdaus, yang merupakan cucu ulama besar Betawi KH Abdullah Syafii, meminta pemerintah dan instansi perizinan tidak melanjutkan proses acara tersebut sebelum ada kepastian pembatalan. Ia juga mendesak penjualan tiket dan promosi yang sudah beredar dihentikan lebih dulu.

Acara bertajuk Til The Whole World Knows Tour 2026 itu dijadwalkan berlangsung pada 24 Oktober 2026 di The Music Hall, Grha Pengharapan Building, Jakarta. Menurut Dailami, keberadaan informasi konser di platform penjualan tiket dan materi promosi internasional membuat isu ini tidak bisa dianggap ringan, karena berpotensi memunculkan reaksi di tengah masyarakat.

Dalam pernyataan tertulisnya pada Ahad, 4 Oktober 2026, Dailami menegaskan bahwa sikap pemerintah seharusnya sejalan dengan garis kebijakan luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Ia menilai setiap kegiatan publik perlu diuji tidak hanya dari sisi hiburan, tetapi juga dari kesesuaiannya dengan prinsip kemanusiaan dan sensitivitas sosial di Indonesia.

“Pemerintah harus tegas dan konsisten dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina. Jangan sampai kegiatan yang berpotensi menimbulkan persoalan di tengah masyarakat justru dibiarkan berjalan tanpa pertimbangan yang matang,” kata Dailami. Ia juga meminta kementerian dan lembaga terkait, aparat keamanan, serta pihak yang terlibat dalam proses perizinan untuk menelaah rencana konser itu secara menyeluruh.

Dailami menambahkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif perlu lebih selektif saat menilai kegiatan hiburan berskala besar. Ia mengakui konser dapat menggerakkan ekonomi, membuka peluang usaha, dan menarik pengunjung, namun menurutnya manfaat tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan.

Ia menilai aspek ketertiban umum, dampak sosial, dan potensi keresahan warga harus ditempatkan setara dengan pertimbangan ekonomi. Karena itu, ia meminta izin penyelenggaraan tidak diterbitkan sampai ada penegasan resmi bahwa konser tersebut batal. Dailami juga menyebut transparansi penyelenggara dan koordinasi antarlembaga penting agar tidak muncul pembiaran atas persoalan yang bisa memicu ketegangan.

Penolakan terhadap rencana konser ini sebelumnya memang sudah menguat di ruang publik. Sejumlah figur seperti Chiki Fawzi, Wanda Hamidah, Annisa Theresia Maqdisia, dan seniman pantomim Wanggi Hoed menyerukan boikot di media sosial. Sorotan itu berkaitan dengan rekam jejak vokalis Israel & New Breed, Israel Houghton, yang pada Oktober 2023 sempat menyampaikan dukungan kepada Israel melalui media sosial saat situasi di Gaza memburuk.

Isu ini juga sempat disorot sejumlah organisasi keagamaan. Pada 1 Oktober 2026, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim meminta penjelasan terbuka dari penyelenggara. Sehari kemudian, pada 3 Oktober 2026, PP PERSIS juga menuntut keterbukaan soal tujuan konser, pihak yang terlibat, serta kemungkinan kaitannya dengan agenda politik pro-Israel. Dailami menilai rangkaian penolakan itu menjadi alasan bagi pemerintah untuk berhati-hati sebelum mengambil keputusan.

Sumber: news.republika.co.id

Tinggalkan Balasan