Ajakan untuk memboikot sejumlah merek kuliner asal Indonesia yang beroperasi di Malaysia tengah ramai dibahas di media sosial. Seruan itu muncul dari unggahan seorang netizen Malaysia di Threads, lalu menyebar luas dan memicu beragam tanggapan, mulai dari dukungan hingga pertanyaan soal alasan serta dampaknya bagi pelaku usaha.
Dalam unggahan berbahasa Melayu tersebut, sang pengguna membagikan daftar merek makanan dan minuman asal Indonesia yang diketahui sudah membuka gerai di Negeri Jiran. Ia juga mengajak warganet lain untuk ikut menyebarkan daftar itu sebagai bagian dari kampanye boikot yang disuarakannya.
Daftar yang dibagikan tidak hanya memuat restoran yang menyajikan hidangan khas Nusantara. Sejumlah merek kopi, teh, es krim, hingga minuman kekinian yang sudah berkembang di pasar Malaysia juga ikut disebut. Beberapa nama yang ikut disorot dalam percakapan warganet antara lain Kenangan Coffee dan Sari Ratu.
Unggahan tersebut kemudian memantik reaksi yang lebih luas di Threads. Sebagian pengguna menanggapi seruan itu dengan dukungan, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa produk-produk kuliner tertentu dijadikan sasaran, padahal keberadaan mereka di Malaysia juga melibatkan aktivitas bisnis, tenaga kerja, dan konsumen lokal.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana isu boikot dapat cepat meluas di ruang digital, terutama ketika menyangkut merek yang sudah dikenal publik. Dalam kasus ini, daftar yang disebarkan tidak berhenti pada satu jenis usaha, melainkan mencakup berbagai lini produk makanan dan minuman yang memiliki basis pelanggan cukup besar di Malaysia.
Hingga percakapan tersebut ramai diperbincangkan, unggahan itu tetap menjadi bahan diskusi di media sosial. Respons warganet memperlihatkan bahwa seruan boikot tidak selalu diterima seragam, sebab di sisi lain muncul pula perdebatan mengenai hubungan dagang, preferensi konsumen, dan dampak yang mungkin timbul bagi bisnis yang telah beroperasi lintas negara.
Sumber: depokraya.pikiran-rakyat.com




