JAKARTA — Rupiah menutup perdagangan Senin (12/10/2026) dengan pelemahan tipis di tengah suasana hati-hati pelaku pasar yang masih menghindari aset berisiko. Tekanan ini muncul bersamaan dengan koreksi tajam di pasar saham domestik, sementara pasar regional juga bergerak dalam nuansa serupa. Pada penutupan perdagangan, mata uang Indonesia berada di level Rp 17.913 per dolar AS, turun 0,08% dibandingkan hari sebelumnya.
Data kurs acuan Bank Indonesia atau JISDOR juga menunjukkan arah yang sejalan. Rupiah ditutup di posisi Rp 17.899 per dolar AS, melemah 0,8% dibandingkan penutupan akhir pekan. Pergerakan tersebut menegaskan bahwa tekanan tidak hanya datang dari pasar spot, tetapi juga tercermin pada acuan resmi yang biasa menjadi rujukan pelaku pasar.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari sentimen risk-off yang sedang dominan di pasar ekuitas domestik maupun kawasan. Menurut dia, investor masih menahan diri karena beberapa faktor eksternal yang belum mereda, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan ini yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS.
Tekanan di pasar keuangan dalam negeri terlihat jelas dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Senin, indeks di Bursa Efek Indonesia anjlok 157,61 poin atau 2,59% dan berakhir di 5.936,15. Posisi itu sekaligus menjadi yang terendah dalam tiga bulan terakhir, atau sejak 3 Juli 2026. Koreksi saham yang dalam seperti ini kerap memperkuat kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.
Lukman menjelaskan, untuk saat ini belum ada data ekonomi besar dari dalam maupun luar negeri yang benar-benar menjadi fokus utama pasar. Karena itu, perhatian pelaku pasar diperkirakan masih akan tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, arah harga minyak mentah dunia, dan pergerakan imbal hasil obligasi. Ketiga faktor tersebut dianggap mampu memengaruhi sentimen global, arus dana, dan kekuatan dolar AS dalam jangka pendek.
Dengan kondisi tersebut, Lukman memperkirakan rupiah pada perdagangan Selasa (13/10) akan bergerak dalam kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS. Rentang ini menunjukkan pasar masih melihat peluang fluktuasi yang cukup lebar, seiring belum pulihnya selera risiko investor di tengah ketidakpastian eksternal dan melemahnya pasar saham domestik.




