Jakarta Islamic Center: Semangat Keislaman Tetap Menyala Pasca Kebakaran
Meskipun dilanda musibah kebakaran hebat pada tahun 2022 lalu, semangat aktivitas di Jakarta Islamic Center (JIC), Koja, Jakarta Utara, tidak pernah padam. Sebagai pusat pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta, JIC terus menjadi saksi bisu berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan, termasuk pada momentum bulan suci Ramadhan.
Berdiri megah di atas lahan seluas kurang lebih sepuluh hektare, JIC merupakan kompleks masjid terbesar di pesisir ibu kota. Lebih dari sekadar pusat syiar Islam, JIC telah menjelma menjadi sebuah landmark yang kerap dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk beragam aktivitas. Mulai dari kegiatan pendidikan, olahraga, pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga sarana rekreasi keluarga.
Menjelang Ramadhan tahun ini, suasana di kompleks JIC terasa semakin hidup. Masyarakat berdatangan dalam kelompok-kelompok, membawa aneka camilan, makanan, dan minuman. Di selasar kompleks, tikar digelar, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Faisal, salah seorang warga Tanjung Priok, adalah salah satu dari sekian banyak yang datang bersama teman-temannya untuk menggelar tradisi munggahan, menyambut datangnya bulan puasa.
“Di sini enak, nggak harus bayar. Anak-anak juga leluasa, luas banget kan tempatnya,” ujar Faisal, menjelaskan alasannya memilih JIC sebagai tempat berkumpul pada Selasa sore pekan lalu.
Selain berkumpul dan menikmati hidangan yang dibawa dari rumah, Faisal juga memanfaatkan kunjungannya ke JIC untuk mencari informasi mengenai berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan selama Ramadhan. Ia memiliki niat untuk melaksanakan itikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, namun ia perlu memastikan kembali ketersediaan fasilitas, mengingat area utama masjid JIC masih dalam proses perbaikan pasca kebakaran. “Alhamdulillah tetap ada itikaf di sepuluh hari terakhir. Tarawih juga ada setiap malam,” tambahnya dengan nada lega.
Informasi yang diperoleh Faisal sejalan dengan pengumuman resmi yang disampaikan oleh pengurus JIC. Untuk Ramadhan tahun ini, JIC akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan ibadah yang meliputi salat tarawih sebanyak 23 rakaat, itikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan, serta berbagai agenda lainnya seperti kajian jelang buka puasa, tadarus Al-Qur’an, khataman Al-Qur’an, kuliah subuh, dan pesantren kilat (sanlat). Pengumuman tersebut mengimbau masyarakat untuk memakmurkan masjid dengan berbagai rangkaian ibadah penuh keberkahan di Masjid Raya Jakarta Islamic Centre.
Lebih jauh lagi, JIC turut ambil bagian dalam penentuan awal Ramadhan dengan menyelenggarakan kegiatan rukyatul hilal. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari yang sama ketika Faisal dan rombongannya melakukan munggahan. Tim Falakiyah Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) melakukan pengamatan hilal di titik observasi JIC, tepatnya di lantai 11 Gedung Wisma. Pengamatan dimulai menjelang azan Magrib, dan hasilnya dilaporkan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan awal bulan Ramadhan.
“JIC turut berpartisipasi dalam penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah sebagai bentuk kontribusi untuk bangsa dan umat,” ungkap Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan PPIJ, KH. Rasyidi. Kegiatan rukyatul hilal ini sekaligus menjadi penanda resminya dimulainya berbagai kegiatan Ramadhan di JIC, sebagaimana yang telah diumumkan oleh pengurus. Geliat aktivitas ibadah di JIC memang tidak pernah terhenti, dan dengan segenap daya upaya, JIC terus berupaya menjaga nyala semangat Islam dari masa ke masa.
Sejarah JIC: Dari Lokalisasi Menjadi Pusat Peradaban Islam
Keberadaan Jakarta Islamic Center memiliki akar sejarah yang panjang dan menarik. Jauh sebelum kompleks masjid megah ini berdiri, lokasi yang sama pernah menjadi tempat bagi lokalisasi yang dikenal luas dengan nama Kramat Tunggak. Lokalisasi ini telah eksis sejak tahun 1970-an, dan seiring waktu berkembang dari ratusan menjadi ribuan Pekerja Seks Komersial (PSK), menjadikannya salah satu lokalisasi paling terkenal, tidak hanya di Jakarta dan Indonesia, tetapi juga hingga ke kawasan Asia Tenggara.
Perubahan drastis terjadi pada tahun 1999, ketika pemerintah memutuskan untuk menutup total lokalisasi Kramat Tunggak. Inisiatif untuk membangun sebuah pusat kegiatan keislaman di lokasi tersebut kemudian dicetuskan oleh Gubernur Sutiyoso. Setelah melalui proses studi komparasi dan penyusunan master plan yang mendalam, termasuk studi banding ke pusat-pusat Islam di Mesir, Iran, Inggris, hingga Perancis, pembangunan JIC pun dimulai. Akhirnya, pada tahun 2003, Gubernur Sutiyoso meresmikan Jakarta Islamic Center.
Sejak saat itu, JIC telah menjadi salah satu pusat kegiatan umat Islam terkemuka di Jakarta. Komitmennya untuk melayani umat tidak pernah surut, meskipun berbagai tantangan harus dihadapi. Salah satunya adalah peristiwa kebakaran yang menyebabkan kerusakan parah pada area masjid. Namun demikian, meskipun proses perbaikan fisik belum sepenuhnya dimulai, berbagai kegiatan keagamaan dan ibadah di JIC tetap terlaksana dengan memanfaatkan area lain yang masih berfungsi di dalam kompleks tersebut, menunjukkan ketangguhan dan dedikasi JIC dalam menjalankan misinya.



















