Berburu Takjil Ramadan: Tips Aman Memilih Makanan untuk Kesehatan
Bulan Ramadan selalu identik dengan tradisi berburu takjil, momen di mana berbagai jenis jajanan manis, kue-kue berwarna-warni, hingga aneka gorengan membanjiri sudut-sudut kota, tak terkecuali di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Suasana meriah ini memang sangat menggoda selera. Namun, di tengah keasyikan memilih hidangan berbuka puasa, masyarakat perlu diingatkan untuk lebih cerdas dan cermat dalam memilih makanan demi menjaga kesehatan tubuh.
Waspadai Tampilan Menggiurkan, Perhatikan Indikator Kesehatan
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Bangka Selatan, Slamet Wahidin, menekankan pentingnya kewaspadaan saat berburu takjil. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpikat oleh tampilan makanan yang terlalu menarik. Menurutnya, makanan dengan warna yang sangat mencolok atau memiliki tekstur yang tidak lazim bisa menjadi indikasi penggunaan bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan.
“Jika warna makanan terlihat terlalu terang dan mencolok, atau teksturnya tidak seperti biasa, misalnya terasa lebih kenyal dari semestinya atau terlalu kental, maka kita perlu berhati-hati,” ujar Slamet Wahidin.
Langkah sederhana seperti mengamati warna dan tekstur makanan dapat menjadi cara awal yang efektif untuk mendeteksi potensi penggunaan bahan tambahan berbahaya. Salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan adalah intensitas warna. Kue atau minuman dengan warna yang sangat cerah dan mencolok patut dicurigai. Penggunaan pewarna tekstil seperti rhodamin B, yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi konsumsi manusia, seringkali disalahgunakan untuk memberikan warna merah yang sangat terang pada makanan. Padahal, zat ini sangat berbahaya bagi kesehatan jika tertelan.
Bahan Berbahaya yang Mengintai di Balik Takjil
Rhodamin B bukanlah bahan tambahan pangan yang diizinkan penggunaannya. Konsumsi rhodamin B secara terus-menerus dapat menimbulkan dampak buruk yang serius pada berbagai organ tubuh. Selain rhodamin B, zat berbahaya lain yang juga perlu diantisipasi adalah formalin dan boraks.
- Formalin: Umumnya digunakan sebagai pengawet jenazah atau dalam industri. Penggunaannya dalam makanan sangat dilarang karena toksisitasnya.
- Boraks: Seringkali disalahgunakan untuk menciptakan tekstur makanan yang lebih kenyal dan membuatnya tahan lebih lama. Boraks juga berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi.
“Ketiga zat ini, yaitu rhodamin B, formalin, dan boraks, adalah zat yang paling harus kita waspadai bersama. Pasalnya, ketiganya sama sekali bukan bahan tambahan pangan yang diizinkan untuk dikonsumsi oleh manusia,” tegas Slamet.
Selain Warna, Perhatikan Tekstur dan Aroma
Selain warna, tekstur makanan juga memberikan petunjuk penting mengenai keamanannya. Makanan yang terasa sangat kenyal, memiliki elastisitas yang luar biasa, atau tidak mudah basi meski telah berada di suhu ruang selama berjam-jam patut dicurigai. Contohnya adalah gorengan yang tetap terasa renyah dalam waktu yang sangat lama, atau kue basah yang teksturnya tidak berubah sama sekali hingga malam hari. Hal-hal ini bisa menjadi indikasi adanya penambahan bahan kimia yang tidak semestinya.
Saran penting lainnya adalah mencium aroma makanan sebelum memutuskan untuk membelinya. Bau yang menyengat atau tidak lazim bisa menjadi tanda adanya penambahan bahan kimia tambahan yang mungkin berbahaya.
Kebersihan dan Harga: Faktor Pendukung Keamanan Pangan
Tips berikutnya yang tak kalah penting adalah memperhatikan kebersihan lapak pedagang dan cara pengolahan makanan. Pilihlah pedagang yang terlihat menjaga kebersihan peralatan makan mereka, menutup makanan dengan baik untuk mencegah debu dan lalat hinggap, serta menggunakan sarung tangan atau alat bantu saat menyajikan makanan. Kebersihan tempat berjualan seringkali mencerminkan tingkat kepedulian pedagang terhadap kualitas dan keamanan produk yang mereka jual.
“Lingkungan yang bersih secara signifikan mengurangi risiko kontaminasi bakteri maupun zat berbahaya lainnya yang dapat membahayakan konsumen,” urai Slamet.
Harga juga dapat menjadi salah satu pertimbangan. Jika Anda menemukan makanan dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pedagang lain yang menjual jenis makanan serupa, kewaspadaan ekstra diperlukan. Meskipun tidak selalu demikian, harga yang terlalu murah terkadang dapat mengindikasikan penggunaan bahan baku dengan kualitas yang diragukan atau bahkan penggunaan bahan-bahan berbahaya untuk menekan biaya produksi.

Tanggung Jawab Bersama Menjaga Keamanan Pangan
Selain memberikan imbauan kepada masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga secara aktif mengingatkan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar tidak tergoda untuk menggunakan bahan-bahan berbahaya demi meraup keuntungan semata. Keuntungan sesaat yang diperoleh dari praktik tidak sehat ini tidak sebanding dengan risiko kesehatan serius yang dapat ditanggung oleh masyarakat. Penggunaan bahan kimia berbahaya tidak hanya melanggar peraturan yang berlaku, tetapi juga secara langsung mengancam keselamatan konsumen.
Slamet Wahidin menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab kolektif. Tanggung jawab ini diemban bersama oleh pemerintah, para pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya kesadaran kolektif dan partisipasi aktif dari semua pihak, Kabupaten Bangka Selatan dapat menjadi daerah yang senantiasa menjaga keamanan pangannya. Dengan lebih teliti dalam memperhatikan warna, tekstur, aroma, serta kebersihan para penjual takjil, masyarakat dapat secara signifikan meminimalkan risiko kesehatan yang mungkin timbul saat berburu hidangan berbuka puasa.
“Marilah kita bersama-sama mengolah dan memilih makanan yang sesuai dengan standar kesehatan yang telah ditetapkan. Karena konsumen dapat mengalami kerugian yang sangat besar dari sisi kesehatan apabila terpaksa mengonsumsi makanan yang menggunakan bahan-bahan berbahaya,” tutup Slamet Wahidin.



















