Nuanu Creative City Luncurkan Nuanu Future Talk: Wadah Kolaborasi dan Solusi Industri Kreatif
Nuanu Creative City, sebuah inisiatif yang berkembang pesat di Bali, baru saja memperkenalkan sebuah platform diskusi inovatif yang diberi nama Nuanu Future Talk. Acara ini dirancang khusus untuk menjadi jembatan yang mempertemukan para pemimpin industri terkemuka dan para pionir kreatif. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi diskusi mendalam mengenai isu-isu paling relevan saat ini serta memetakan tren yang akan membentuk masa depan berbagai sektor.
Peluncuran perdana Nuanu Future Talk yang mengambil tema “Gastronomi Leader” sukses digelar pada hari Rabu, 4 Maret. Antusiasme yang luar biasa terlihat jelas dari partisipasi publik, di mana acara yang bertempat di Labirin Dome ini tercatat sold out. Sebanyak 350 peserta hadir untuk mendengarkan pemikiran dari 20 pembicara ahli yang memiliki rekam jejak gemilang di bidangnya masing-masing.
Di antara para narasumber yang berbagi wawasan adalah tokoh-tokoh ternama seperti Hans Christian dari August, Syrco Bakker dari Syrco Base, Chris Smith yang dikenal melalui 7AM, Red Gun Powder, dan Woods, serta Wayan Kresna Yasa yang merupakan bagian dari HOME dan Kaum at Potato Head. Kehadiran mereka menegaskan komitmen Nuanu Future Talk untuk menghadirkan perspektif yang beragam dan berbobot.
Platform Berorientasi Solusi untuk Industri Kreatif
Ida Ayu Astari Prada, Direktur Brand and Communication Nuanu Creative City, menjelaskan bahwa Nuanu Future Talk dirancang bukan sekadar sebagai forum diskusi biasa. “Nuanu Future Talks dirancang sebagai ruang diskusi yang aplikatif dan berorientasi solusi,” ujarnya pada Rabu (4/3). Beliau menekankan bahwa pembahasan dalam platform ini akan menyentuh akar permasalahan industri, seperti bagaimana membangun dan mengelola bisnis hospitality di Bali dalam konteks kekinian. Pertanyaan mendasar lainnya yang diangkat meliputi cara memastikan operasional berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku, serta bagaimana mendorong peningkatan standar industri secara kolektif.
Lebih lanjut, Prada menegaskan bahwa Nuanu Future Talk ditargetkan untuk menghasilkan output yang konkret. Ini mencakup rekomendasi, solusi praktis, dan jawaban yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi industri kreatif saat ini. “Kehadiran pembicara yang baru pertama kali berkunjung ke Nuanu menjadi momentum perkenalan potensi kawasan ini sebagai pusat kolaborasi global,” tambahnya, menggarisbawahi peran Nuanu sebagai katalisator kolaborasi berskala internasional.
Gastronomi: Titik Awal yang Strategis
Pemilihan gastronomi sebagai tema utama dalam peluncuran perdana Nuanu Future Talk bukanlah tanpa alasan. Industri restoran di Bali saat ini tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan menunjukkan tingkat kematangan yang semakin tinggi. Perhatian yang terus mengalir dari pasar internasional, masuknya investor baru, serta kemunculan berbagai konsep kuliner inovatif yang dipimpin langsung oleh para chef berbakat, telah secara signifikan mengubah standar dan dinamika industri kuliner di Pulau Dewata.
Akibatnya, ekspektasi pasar pun semakin meningkat, yang secara otomatis turut menghadirkan tantangan-tantangan baru. Isu-isu krusial seperti kepatuhan terhadap regulasi, penerapan praktik bisnis yang berkelanjutan, manajemen tim yang efektif, hingga perumusan arah bisnis jangka panjang, kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor penentu utama bagi keberlangsungan dan kesuksesan sebuah usaha kuliner. Kemampuan sebuah bisnis untuk beradaptasi dan mengatasi tantangan-tantangan ini akan sangat menentukan apakah mereka mampu bertahan dan tumbuh secara stabil, atau hanya akan menjadi fenomena sesaat.
Adaptasi Tanpa Kehilangan Akar Budaya
Menanggapi perubahan dinamis ini, Conrad, Direktur Sutala, menyampaikan pandangannya. “Dunia berubah, cara kita menikmati kuliner seperti Be Geyol atau Sate Lilit pun berkembang. Kita harus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budaya,” katanya. Ia melihat Nuanu Future Talk bukan hanya sebagai ruang diskusi, melainkan sebagai langkah strategis untuk menemukan mitra-mitra terbaik bagi Sutala, yang merupakan kawasan creative hub terbaru di Nuanu.
Saat ini, Sutala menyediakan 60 gerai atau booth, di mana 70 persennya dialokasikan khusus untuk sektor kuliner, sementara sisanya diperuntukkan bagi bisnis non-F&B. Acara ini juga berfungsi sebagai ajang kurasi yang penting bagi para vendor dan restoran yang berminat untuk bergabung. Conrad menegaskan bahwa pintu kolaborasi terbuka lebar bagi seluruh talenta kreatif. “Kami ingin memastikan setiap UMKM yang bergabung memiliki nilai unik dan kualitas terbaik. Kami juga menyediakan zona halal dan area ramah keluarga untuk memastikan kenyamanan semua pengunjung,” jelas Conrad.
Nuanu: Membangun Momentum Nyata Melalui Kolaborasi
Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City, menambahkan bahwa Bali saat ini tidak lagi hanya membutuhkan opini mengenai dunia kulinernya. Sebaliknya, yang paling dibutuhkan adalah sebuah ruang yang memungkinkan para pelaku industri yang benar-benar terlibat dan bekerja di dalamnya untuk berpikir dan berdiskusi secara konstruktif. “Itulah yang sedang kami bangun di Nuanu Creative City, sebuah platform tempat beragam perspektif bertemu dan menciptakan momentum nyata,” ujar Lev Kroll.
Kroll menjelaskan bahwa kuliner dipilih sebagai titik awal yang paling alami untuk seri Future Talks ini. “Seiring kami mempersiapkan Sutala Market sebagai destinasi berbasis gastronomi, kami ingin menghadirkan yang terbaik dari dunia ke Indonesia, sekaligus memastikan yang terbaik dari Indonesia terwakili di sana. Oleh karena itu, kami duduk bersama para talenta terbaik untuk memastikan langkah ini kami jalankan dengan tepat,” tutur Lev Kroll, menggarisbawahi komitmen Nuanu untuk menghadirkan kualitas global sekaligus mengangkat potensi lokal.



















