Warga Galung Tulu Bangun Tenda Darurat Pasca Kebakaran, Harapkan Bantuan Jelang Lebaran
Polewali Mandar, Sulawesi Barat – Musibah kebakaran yang melanda Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, meninggalkan luka mendalam bagi 58 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar rumah mereka ludes dilalap api, memaksa para penyintas untuk hidup dalam ketidakpastian. Empat hari pasca kejadian, warga secara gotong royong mendirikan tenda-tenda darurat di atas puing-puing bekas tempat tinggal mereka. Kehidupan yang serba terbatas ini mereka jalani dengan harapan besar akan uluran tangan bantuan, terutama menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Para korban kebakaran, yang kini berjumlah 57 KK, sebelumnya terpaksa mengungsi sementara di rumah kerabat terdekat. Namun, keinginan untuk kembali ke lokasi bekas rumah mereka muncul kuat. Keputusan ini diambil agar mereka dapat segera membersihkan sisa-sisa puing dan mulai membenahi diri. Sumarni, salah seorang korban terdampak, mengungkapkan kegundahannya saat ditemui di lokasi.
“Kita dirikan tenda ini di lahan bekas rumah terbakar, berharap ada bantuan perbaikan rumah,” tuturnya kepada awak media. Ia menceritakan bahwa rumahnya mengalami kerusakan parah, di mana tidak ada satu pun bagian yang dapat diselamatkan, mulai dari atap hingga tiang penyangga.
Harapan Sumarni dan ratusan warga lainnya tertuju pada pemerintah daerah untuk memberikan bantuan yang memadai, guna membangun kembali hunian yang layak. Apalagi, momen hari raya Idul Fitri semakin dekat, sebuah perayaan yang seharusnya disambut dengan suka cita, namun kini terasa suram bagi mereka. “Harapannya ada bantuan perbaikan rumah, supaya nanti ada yang bisa ditempati lebaran,” imbuh Sumarni dengan nada prihatin.
Meskipun demikian, Sumarni mengakui bahwa bantuan berupa sembako dan beberapa perlengkapan rumah tangga dasar telah mereka terima. Bantuan ini sangat membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Namun, untuk membangun kembali rumah yang hancur lebur, bantuan tersebut belum mencukupi. Oleh karena itu, para korban kebakaran secara tegas meminta adanya dukungan dari pemerintah terkait pembangunan rumah yang layak huni.
Bantuan Sembako dan Kebutuhan Dasar Mulai Disalurkan
Di tengah kondisi yang memprihatinkan, berbagai pihak mulai bergerak memberikan bantuan. Petugas sosial kebencanaan terlihat sibuk mengumpulkan dan menyusun paket sembako di posko tenda utama. Bantuan ini disalurkan kepada setiap KK yang terdampak musibah. Selain sembako, warga yang berjumlah 57 KK ini juga menerima bantuan berupa tikar, kompor, dan obat-obatan.
Pantauan di lokasi menunjukkan, petugas kebencanaan mendistribusikan paket sembako secara terorganisir. Setiap paket sembako yang diberikan kepada satu KK terdiri dari:
- Beras 25 kg
- Mie instan
- Sembako lain (kopi, gula, minyak, kue, biskuit)
- Telur satu rak
- Air mineral empat dos
Secara bergantian, warga dari 57 KK ini berbaris di posko darurat untuk menerima bantuan yang telah disiapkan. Kondisi di lokasi tenda darurat terlihat cukup padat. Warga membangun tenda posko masing-masing di atas lahan bekas puing rumah yang terbakar. Aktivitas memasak mulai terlihat untuk memenuhi kebutuhan harian, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan makanan bergizi.
Sinergi Pemerintah dan Brimob untuk Dapur Umum
Untuk meringankan beban para korban, Pemerintah Daerah (Pemda) Polman bersama dengan petugas kepolisian dari Korps Brimob bahu membahu mendirikan dapur umum. Keberadaan dapur umum ini sangat krusial dalam menyediakan makanan hangat dan layak bagi para pengungsi. Dapur umum ini beroperasi untuk memastikan bahwa kebutuhan pangan para korban, khususnya anak-anak dan lansia, terpenuhi dengan baik selama mereka tinggal di tenda darurat.
Inisiatif ini menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah daerah dan aparat keamanan dalam penanganan bencana. Dengan adanya dapur umum, beban para korban untuk mencari dan menyiapkan makanan sehari-hari dapat berkurang, sehingga mereka bisa lebih fokus pada upaya pemulihan dan pembenahan diri.
Meskipun bantuan sembako dan pendirian dapur umum telah berjalan, harapan terbesar warga Galung Tulu tetap pada pembangunan kembali rumah mereka. Musibah kebakaran ini tidak hanya merampas harta benda, tetapi juga merenggut rasa aman dan kenyamanan. Menjelang Lebaran, keinginan untuk kembali memiliki atap di atas kepala menjadi impian utama yang mereka sandarkan pada kepedulian dan bantuan dari berbagai pihak.



















