Kebijakan Dividen Interim Baru BCA: Arus Kas Rutin untuk Pemegang Saham
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) memperkenalkan sebuah inisiatif strategis yang signifikan terkait pembagian dividen. Bank swasta terbesar di Indonesia ini berencana untuk membagikan dividen interim hingga tiga kali dalam setahun mulai tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk memberikan aliran kas yang lebih teratur dan berkelanjutan kepada para pemegang saham, terutama investor ritel yang menjadi tulang punggung pertumbuhan perseroan.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan bahwa pembagian dividen interim lebih dari satu kali dalam setahun merupakan sebuah terobosan baru yang dirancang khusus oleh perseroan. Rencana ambisius ini menggarisbawahi komitmen BCA untuk terus berinovasi dalam memberikan nilai tambah kepada para pemegang sahamnya.
“Pembagian dividen interim setiap kuartal ini diharapkan dapat menambah cashflow bagi pemegang saham yang selama ini senantiasa bersama kami,” ujar Hendra dalam sebuah pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini telah melalui pertimbangan matang terhadap kondisi keuangan perseroan dan telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris, menunjukkan adanya fondasi yang kuat dan terencana di balik keputusan ini.
Keputusan penting ini disampaikan secara resmi dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BCA yang diselenggarakan di Menara BCA Grand Indonesia, Jakarta. Dalam forum tersebut, para pemegang saham tidak hanya menyetujui rencana dividen interim, tetapi juga mengesahkan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025 yang mencapai Rp57,5 triliun. Sebagian dari laba tersebut akan dialokasikan untuk pembagian dividen tunai sebesar Rp336 per saham.
Lebih lanjut, BCA mencatat adanya peningkatan yang menggembirakan pada nilai dividen final dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk tahun buku 2025, perseroan mengumumkan pembagian total dividen final sebesar Rp41,3 triliun. Angka ini mencerminkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) yang mencapai 72%, sebuah peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan DPR tahun buku 2024 yang berada di kisaran 67,4%. Peningkatan DPR ini menunjukkan optimisme perseroan terhadap kinerja keuangan dan prospek bisnis di masa depan.
Hendra Lembong menegaskan bahwa di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah di tahun 2026, BCA tetap memegang teguh fokusnya pada penguatan fundamental bisnis. Perseroan berkomitmen untuk menjalankan strategi secara prudent atau hati-hati, memastikan stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.
Kinerja Unggul BCA Sepanjang Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi periode yang impresif bagi BCA, terbukti dari catatan pertumbuhan laba bersih yang solid sebesar 4,9%, mencapai Rp57,5 triliun. Kinerja keuangan yang kuat ini didukung oleh berbagai faktor, termasuk pertumbuhan kredit yang konsisten. Secara konsolidasian, BCA berhasil mencatat pertumbuhan kredit sebesar 7,7% secara year on year (YoY), mencapai Rp993 triliun per Desember 2025.
Pertumbuhan kredit BCA sepanjang tahun 2025 bahkan menunjukkan rata-rata sebesar 10,8%. Penyaluran kredit ini tersebar luas ke berbagai sektor ekonomi yang vital, mencakup manufaktur, perdagangan, perhotelan, restoran, hingga sektor rumah tangga. Kredit usaha (UMKM) menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan ini, dengan kenaikan sebesar 9,9% YoY, mencapai Rp756,5 triliun pada akhir tahun 2025.
Di segmen pembiayaan konsumer, BCA juga mencatat kinerja yang positif. Total outstanding pembiayaan konsumer mencapai Rp224,1 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang terus diminati, tercatat sebesar Rp142,3 triliun, serta Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang mencapai Rp56,6 triliun. Sementara itu, segmen pinjaman konsumer lainnya, yang didominasi oleh penggunaan kartu kredit, menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,8% YoY, mencapai Rp25,2 triliun.
“Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA. Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen untuk hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” jelas Hendra Lembong saat konferensi pers kinerja BCA sepanjang 2025.
Sebagai bagian dari komitmennya terhadap program perumahan nasional, BCA juga mulai mendukung penyaluran KPR subsidi atau Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bagi sektor swasta sejak Oktober 2025. Inisiatif ini menunjukkan peran aktif BCA dalam memfasilitasi kepemilikan rumah bagi masyarakat.
Dari sisi kualitas kredit, BCA berhasil mempertahankan rasio loan at risk (LAR) yang membaik menjadi 4,8%, turun dari 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga tetap terjaga di level yang aman, yaitu 1,7%, dengan pencadangan yang dinilai memadai untuk mengantisipasi potensi risiko.
Selain kredit konvensional, pembiayaan ke sektor berkelanjutan juga menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan. Kredit berkelanjutan tercatat tumbuh 11,7% YoY, mencapai Rp255 triliun, atau setara dengan 25,8% dari total portofolio pembiayaan BCA. Dalam segmen ini, pembiayaan energi baru terbarukan mengalami lonjakan luar biasa, hingga dua kali lipat menjadi Rp6,2 triliun. Kredit untuk kendaraan listrik pun mengalami peningkatan pesat sebesar 53% YoY, mencapai Rp3,6 triliun.
Per Desember 2025, total Dana Pihak Ketiga (DPK) BCA menunjukkan pertumbuhan yang sehat sebesar 10,2% YoY, mencapai Rp1.249 triliun. Pertumbuhan DPK ini menjadi fondasi penting bagi ekspansi kredit dan operasional BCA.
Jumlah transaksi yang diproses oleh BCA juga mengalami peningkatan signifikan. Total frekuensi transaksi BCA pada tahun 2025 naik 17% YoY, mencapai 42 miliar transaksi. Puncaknya, BCA pernah memproses transaksi hingga hampir 300 juta dalam satu hari, menunjukkan kapasitas dan efisiensi operasionalnya. Frekuensi transaksi melalui mobile banking dan internet banking menjadi pendorong utama pertumbuhan ini, dengan kenaikan 19% YoY.
Dari sisi pendapatan, BCA mencatat pertumbuhan net interest income (pendapatan bunga bersih) sebesar 4,1% YoY. Pendapatan selain bunga juga menunjukkan kinerja yang kuat, naik 16% YoY. Secara keseluruhan, pendapatan operasional BCA mengalami peningkatan 5,4% YoY. Kinerja yang solid ini turut didukung oleh membaiknya rasio cost to income (CIR), yang pada akhirnya menopang pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY menjadi Rp57,5 triliun.



















