Memaksimalkan Sisa Ramadan: Menjelang Akhir Bulan Suci, Tingkatkan Ibadah dan Hindari Lalai
Bulan Ramadan, sebuah anugerah istimewa dari Allah SWT, menawarkan berbagai keutamaan yang berlimpah bagi umat Islam. Seiring berjalannya waktu, kita semakin mendekati akhir bulan penuh berkah ini. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, meningkatkan kualitas ibadah, dan tidak terlena oleh kesibukan atau kenikmatan duniawi yang fana.
Wakil Pimpinan Dayah Raudhatul Quran, Darussalam Aceh Besar, Provinsi Aceh, Tgk Nikmal Maula MPd, menekankan bahwa kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah. “Karena itu, umat Islam diminta untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan meningkatkan amal ibadah,” ujarnya.
Keutamaan Ramadan yang Perlu Disyukuri
Tgk Nikmal Maula, seorang dai muda yang menempuh pendidikan di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, menjelaskan bahwa keistimewaan bulan Ramadan begitu besar hingga umat-umat terdahulu, bahkan sebelum masa Nabi Muhammad SAW, dikisahkan memiliki rasa “cemburu” terhadap keutamaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad. Keutamaan ini mencakup berbagai aspek ibadah yang dilipatgandakan pahalanya.
“Dalam bulan Ramadhan Allah menyediakan berbagai kelebihan, di antaranya pahala ibadah yang dilipatgandakan,” tegas putra sulung dari Dr Tgk H Sulfanwandi Hasan MA dan Hj Ummi Erliyanti Yusuf SE ini.
Salah satu keutamaan paling istimewa yang ditawarkan Ramadan adalah malam Lailatul Qadar. Malam ini memiliki nilai ibadah yang jauh melampaui seribu bulan, setara dengan sekitar 83 tahun. Berdasarkan keterangan dari Nabi Muhammad SAW, malam Lailatul Qadar ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dengan kemungkinan besar jatuh pada malam-malam ganjil.
Meneladani Rasulullah di Sepuluh Malam Terakhir
Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan teladan terbaik bagi umatnya. Beliau senantiasa meningkatkan intensitas ibadahnya secara signifikan pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Bahkan, Nabi mengajak seluruh keluarganya untuk bangun dan beribadah bersama demi meraih rahmat Lailatul Qadar.
“Sebagai umat Rasulullah, kita perlu meneladani beliau dengan menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan,” ajak Tgk Nikmal Maula, seorang alumni Dayah Ulee Titi, Aceh Besar.
Memperbanyak Zikir dan Doa: Kunci Kedekatan dengan Allah
Selain meningkatkan ibadah ritual, Tgk Nikmal Maula juga menekankan pentingnya memperbanyak zikir, terutama istighfar dan tahlil. Nabi Muhammad SAW, yang maksum dan terjaga dari dosa, bahkan beristighfar setidaknya seratus kali setiap hari. Mengingat banyaknya khilaf dan dosa yang kita perbuat sebagai manusia, sudah sepantasnya kita untuk lebih giat memohon ampunan kepada Allah SWT.
“Orang yang melazimkan istighfar dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan ampunan, kebersihan jiwa, serta dibukakan pintu-pintu rezeki,” jelas Tgk Nikmal Maula.
Selain istighfar, kalimat tahlil “La Ilaha Illallah” juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Kalimat tauhid ini merupakan pondasi keimanan seorang Muslim. “Syahadat La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah adalah rukun Islam pertama. Semua ibadah lain berdiri di atas fondasi kalimat tauhid tersebut,” terang pria yang juga dikenal sebagai mutawif di sebuah travel umrah ini.
Oleh karena itu, Tgk Nikmal Maula mengajak seluruh umat Islam untuk memperbanyak zikir, baik istighfar maupun tahlil, sebagai upaya untuk memperbarui iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zikir dapat dilakukan kapan saja, namun waktu-waktu yang sangat dianjurkan antara lain:
- Menjelang waktu sahur
- Menjelang waktu berbuka puasa
- Waktu-waktu mustajabah lainnya yang diijabah oleh Allah SWT
Pada akhirnya, Tgk Nikmal Maula mengingatkan umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak doa. Doa yang dipanjatkan hendaknya mencakup permohonan ridha Allah dan surga-Nya, ampunan atas segala dosa, serta perlindungan dari murka Allah dan siksa neraka. Kesempatan emas ini jangan sampai terlewatkan begitu saja.



















