Persiapan Matang Menuju Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh 2026 di Pura Agung Besakih
Denpasar – Upaya persiapan intensif tengah dilakukan oleh berbagai pihak terkait untuk menyukseskan pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh yang diagendakan pada tahun 2026. Jajaran instansi Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Karangasem, bersama dengan tokoh-tokoh adat seperti Perbekel Besakih, Bendesa Adat Besakih, hingga Pemucuk Pemangku Pura Agung Besakih, telah bergerak cepat dalam setiap tahapannya. Puncak dari rangkaian upacara akbar ini dijadwalkan akan berlangsung pada hari Kamis, 2 April 2026.
Pemucuk Pemangku Pura Agung Besakih, I Gusti Mangku Jana, menegaskan bahwa segala aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh telah dipersiapkan dengan sangat matang. Beliau mengungkapkan bahwa sebuah rapat gabungan telah dilaksanakan untuk mengevaluasi berbagai elemen krusial dalam penyelenggaraan karya, khususnya terkait alur kedatangan para pemedek (umat yang bersembahyang), pengaturan area parkir, dan aspek-aspek logistik lainnya.
Gubernur Bali, Wayan Koster, juga telah menunjukkan komitmennya dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026. Surat edaran ini secara khusus mengatur mengenai sistem Penganyar, yaitu pembagian giliran kedatangan umat dari berbagai daerah. Penganyar ini telah dibagi per-Kabupaten/Kota, bahkan mencakup umat yang berasal dari luar Bali. Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan massa yang berlebihan pada satu hari tertentu, sehingga seluruh umat dapat bersembahyang dengan lebih tertib dan nyaman.
“Jadi kita sudah atur termasuk kantong-kantong parkir agar pemedek bisa bersembahyang dengan nyaman,” ujar Mangku Jana, menekankan pentingnya kenyamanan dan kelancaran bagi setiap umat yang hadir.
Kepadatan massa tidak hanya menjadi perhatian di sepanjang jalur menuju Besakih atau di area parkir, tetapi juga di lingkungan pura itu sendiri. Hal ini dikarenakan, sebelum mencapai penataran agung, para pemedek biasanya akan melaksanakan persembahyangan terlebih dahulu di pedarman (tempat pemujaan leluhur) masing-masing.
“Pada intinya kesiapan Kita di Pura Agung Besakih dalam hal melaksanakan Karya Tahun 2026 ini sudah kita siapkan sebaik mungkin dengan mengevaluasi pelaksanaan Karya Tahun lalu. Dinas-dinas terkait Pihak-pihak terkait sudah siap dan mendukung Karya,” tambah Mangku Jana.
Untuk mengantisipasi potensi kepadatan, khususnya di area Pedarman Pasek yang cenderung memiliki jumlah pemedek yang lebih banyak dibandingkan pedarman lainnya, akan digelar rapat khusus yang membahas secara mendalam rute pergerakan pemedek di lokasi tersebut. Evaluasi dari pelaksanaan Karya Ida Batara Turun Kabeh pada tahun sebelumnya juga menitikberatkan pada pengaturan kendaraan para pemedek.
Mangku Jana menyampaikan harapan agar Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2026 dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Beliau juga berpesan kepada seluruh pemedek yang hadir untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan Pura Agung Besakih.
Rangkaian Prosesi dan Inovasi Berkelanjutan
Bendesa Adat Besakih, Mangku Widiarta, menjelaskan lebih lanjut mengenai tahapan-tahapan penting dalam rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh. Prosesi ini dimulai dengan ritual Netegang yang dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2026, dan hingga kini dilaporkan berjalan dengan lancar.
Fokus selanjutnya adalah pada pelaksanaan kegiatan Tawur Tabuh Gentuh, yang puncaknya dijadwalkan pada tanggal 18 Maret 2026. Progres pembangunan infrastruktur yang mendukung kegiatan ini dilaporkan telah mencapai 80 persen.
Menjelang puncak karya, serangkaian ritual penting akan dilaksanakan. Pada tanggal 30 Maret 2026, akan dilakukan prosesi Nedungang Ida Batara secara serentak pada pukul 14.00 siang. Keesokan harinya, 31 Maret 2026, umat akan menyaksikan prosesi Melasti Ida Batara ke Tegal Suci, yang diperkirakan akan dimulai pada pukul 09.00 pagi.
“Sementara untuk puncak Karya pada 2 April 2026, prosesi pengerjaan baik itu upakara bangunan dan yang lainnya hampir rampung 50 persen,” ungkap Mangku Widiarta, merujuk pada persiapan fisik dan ritual menjelang hari H.
Setelah puncak karya, Ida Bhatara akan nyejer (berstana) selama 21 hari. Prosesi penutup, yaitu Nyinab Ida Batara, akan dilaksanakan pada tanggal 23 April 2026.
Salah satu kebijakan yang tetap ditegakkan adalah larangan penggunaan plastik. Umat yang kedapatan membawa pembungkus plastik saat memasuki area Pura Agung Besakih akan diminta untuk menukarnya di area penukaran yang telah disediakan di basement Candi Bentar Manik Mas.
“Nantinya penjagaan akan dilakukan oleh Bakamda dan juga pecalang kami agar plastik tidak sampai ke pura. Nanti sudah ada di surat edaran nanti kami juga akan memberikan surat imbauan terkait larangan-larangan saat melakukan persembahyangan di Pura Agung Besakih,” tegas Mangku Widiarta.
Dengan segala persiapan yang telah dilakukan dan inovasi yang terus diterapkan, diharapkan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh pada tahun 2026 dapat berjalan lebih baik dari sebelumnya, menarik lebih banyak pemedek untuk melaksanakan persembahyangan, serta memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi seluruh umat yang hadir.



















