Kisah Pemudik Tempuh Ratusan Kilometer dengan Kaki dan Tekad Kuat
Perjalanan pulang kampung seringkali diwarnai berbagai cerita, mulai dari suka cita berkumpul keluarga hingga perjuangan tak terduga demi mencapai tujuan. Di tengah hiruk pikuk arus mudik, terselip kisah-kisah pilu namun penuh inspirasi tentang semangat pantang menyerah demi bertemu orang terkasih.
Saeful Tony: Dari Cikarang ke Kebumen Tanpa Ongkos
Saeful Tony, seorang pemudik asal Cikarang, Bekasi, harus menempuh perjalanan luar biasa menuju kampung halamannya di Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kisahnya bermula saat seluruh bekal uangnya untuk ongkos pulang kampung dicuri di Terminal Cikarang. Tanpa sepeser pun di kantong, kerinduan untuk bertemu keluarga mendorongnya untuk nekat berjalan kaki.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar dua minggu ini dimulai dengan langkah-langkah berat namun penuh harapan. Saeful menjalani hari-harinya dengan berjalan kaki di siang hari, memanfaatkan malam untuk beristirahat di masjid-masjid yang ia temui sepanjang rute. Setiap langkahnya adalah bukti perjuangan, menempuh ratusan kilometer demi sebuah pertemuan.
Titik terang dalam perjalanannya muncul saat ia bertemu dengan Aipda Agus Narto, anggota Propam Polres Ciamis, di daerah Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Aipda Agus Narto yang sedang bertugas di Pos Pelayanan Operasi Ketupat, melihat sosok Saeful yang tampak kelelahan berjalan kaki sambil membawa tas.
“Saat saya berjaga di Pos Pelayanan Karangkamulyan, ada bapak-bapak yang jalan kaki membawa tas,” ungkap Aipda Agus Narto. Ia kemudian menghampiri Saeful dan menanyakan tujuannya. Saeful pun menceritakan kondisinya yang kecopetan dan terpaksa berjalan kaki dari Cikarang ke Kebumen. Pengakuan Saeful bahwa ia telah berjalan kaki selama dua minggu dari Cikarang hingga Ciamis, membuat Aipda Agus Narto terkejut sekaligus iba. Selama perjalanannya, Saeful bertahan hidup dengan menerima sedekah dari orang-orang baik yang ia temui. Merasa tersentuh, Aipda Agus Narto kemudian membantu Saeful dengan mengantarkannya ke Terminal Bus Kota Banjar dan membiayai ongkosnya.
Asep Kumala Seta: Cilok Tak Laku, Mudik dengan Kaki
Kisah perjuangan serupa juga dialami oleh Asep Kumala Seta (31), seorang pemudik dari Bandung. Asep memutuskan untuk berjalan kaki dari Kota Bandung menuju kampung halamannya di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Lebaran kali ini tak membawa banyak berkah baginya. Jualan cilok yang menjadi sumber penghasilannya tak lagi laris manis.
Dalam tasnya, hanya tersisa 50 butir cilok dan sebotol sirup. Uang di saku tak cukup untuk membeli tiket bus yang harganya melonjak drastis saat musim mudik. Penghasilan yang tak menentu membuat Asep kesulitan menyisihkan uang. Ia menjelaskan bahwa akhir-akhir ini jualannya seringkali tidak habis, sementara ia masih harus menyetor sebagian pendapatan kepada bosnya.
“Setoran biasanya tujuh ratus ribu, untungnya cuma tiga ratus. Tapi belakangan jarang habis. Kadang cuma dapat seratus ribu, disetor tujuh puluh ribu ke bos. Uang pulang jadi kurang,” ujar Asep dengan nada lirih. Kondisi ini memaksanya untuk menempuh perjalanan pulang kampung dengan berjalan kaki, sesekali ia pun mencoba mencegat truk yang bersedia memberinya tumpangan.
Edi Rasidi: Penuhi Nazar dengan Gerobak Siomay
Tak kalah inspiratif, Edi Rasidi (50), seorang pedagang siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, juga memilih untuk mudik dengan cara yang tidak biasa. Ia berjalan kaki dari Cilacap menuju kampung halamannya di Pemalang, sebuah perjalanan yang diperkirakan sejauh 130 kilometer. Uniknya, Edi mendorong gerobak siomaynya sepanjang ratusan kilometer.
Perjalanan ini bukan semata-mata untuk pulang kampung, tetapi juga untuk menunaikan sebuah nazar. Dua tahun lalu, Edi mengalami kecelakaan yang cukup parah pada kakinya, bahkan sempat membuatnya tidak bisa berjalan. “Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir. Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan,” tuturnya.
Kini setelah kakinya pulih, ia bertekad untuk menjalankan nazarnya. Gerobak siomay yang ia dorong bukan hanya sebagai alat dagang, tetapi juga sebagai bagian dari rencana hidupnya. Ia berencana membawa gerobak tersebut pulang ke kampung halaman untuk melanjutkan usahanya di sana. Perjalanan yang ia mulai pada tanggal 16 Maret 2023 ini hanya dibekali uang saku Rp40 ribu. Sepanjang perjalanannya, ia juga mendapat bantuan dari orang-orang baik yang ditemui di jalan. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa semangat dan tekad kuat dapat mengatasi berbagai rintangan, bahkan dalam perjalanan pulang kampung yang penuh tantangan.



















