No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Halim Perdanakusuma: Sang Pilot Veteran PD II

Erwin by Erwin
25 Maret 2026 - 21:44
in Berita Utama
0

Sang Elang dari Madura: Kisah Heroik Halim Perdanakusuma yang Terlupakan


Setiap hari, jutaan orang mengucapkan namanya. Ia tertera di tiket pesawat, terdengar dalam pengumuman keberangkatan, terlukis di peta digital, dan menjadi titik temu dalam percakapan singkat: “Ketemu di Halim, ya.” Namun, ironisnya, sedikit sekali yang benar-benar mengenal sosok di balik nama megah ini. Halim Perdanakusuma telah direduksi menjadi sekadar penanda geografis, nama bandara yang kehilangan ingatan. Padahal, sebelum landasan pacu dan terminal keberangkatan menyandang namanya, ia adalah seorang pilot tempur legendaris.

Elang Perang Dunia II: Julukan “Black Mascot” dan Keberuntungan yang Legendaris

Halim Perdanakusuma adalah pilot tempur ulung asal Madura yang mengukir sejarah di langit Eropa selama Perang Dunia II. Ia bekerja untuk pasukan Sekutu, khususnya Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force – RAF), dan sering kali menjadi ujung tombak dalam misi pengeboman terhadap markas-markas militer Nazi Jerman. Siapa sangka, seorang pemuda dari Sampang, Madura, bisa menorehkan jejak di kancah perang terbesar dalam sejarah manusia sebagai pilot tempur berpengalaman kelas dunia, jauh sebelum Indonesia memiliki Angkatan Udara sendiri. Ia dijuluki “Black Mascot” karena misi-misinya selalu berhasil dan ia selalu pulang dengan selamat, bahkan dari tugas-tugas paling berbahaya sekalipun. Keberuntungannya dalam pertempuran menjadi legenda di kalangan rekan-rekannya.

Dari Sampang ke Kokpit Perang: Perjalanan Tak Terduga Seorang Pilot

Abdul Halim Perdanakusuma lahir pada 18 November 1922 di Sampang, Madura. Wilayah yang jauh dari bayangan industri militer modern, tanpa tradisi penerbangan, apalagi akademi udara. Namun, sejarah memiliki jalannya sendiri. Ketika Perang Dunia II meletus, Halim muda justru melihatnya sebagai “kawah candradimuka” untuk menggembleng dirinya. Ia tidak belajar terbang dari simulator atau ruang kelas yang nyaman. Ia belajar dari udara Eropa yang membara, dari misi-misi pengeboman yang mengincar jantung pertahanan Nazi, dari setiap lepas landas yang berisiko tidak kembali.

Halim bergabung dengan Angkatan Udara Kanada (Royal Canadian Air Force) sebelum akhirnya menjadi bagian dari Royal Air Force (RAF). Ia bukan sekadar figuran dari negeri kolonial, melainkan seorang pilot tempur yang diakui kemampuannya.

Misi-Misi Berbahaya di Langit Eropa

  • 44 Misi Pengeboman: Halim menjalankan 44 misi pengeboman udara di Eropa, menyasar instalasi militer dan basis pertahanan Nazi Jerman. Angka ini sangat signifikan, mengingat setiap misi berarti taruhan antara keterampilan, keberanian, dan nasib.
  • Pangkat Wing Commander: Di RAF, Halim berhasil mencapai pangkat Wing Commander. Posisi ini tidak mungkin diraih tanpa kompetensi, keberanian, kepemimpinan, dan jam terbang yang tinggi. Di titik ini, ia bisa saja memilih kehidupan yang nyaman di Eropa yang mulai pulih dari perang, dengan pensiun terhormat dan status mapan.

Panggilan Ibu Pertiwi: Memilih Indonesia yang Baru Merdeka

Namun, semua itu berubah ketika Halim mendengar kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bayangkan berada di puncak karier, diakui di lingkungan militer paling disegani dunia, dengan masa depan cerah menanti. Lalu, memilih pulang ke Indonesia yang baru merdeka, yang masih kacau, miskin, dan belum memiliki apa-apa. Keputusan ini bukan sekadar emosional, melainkan pilihan moral yang membutuhkan keberanian luar biasa. Kembali ke Indonesia saat itu berarti merangkul ketidakpastian, sementara Eropa menawarkan segalanya.

Baca Juga  Ribuan Kuota Mudik Gratis Lebaran 2026 Disiapkan Kemenhub

Halim tiba di Indonesia pada awal 1947 dan segera menemui Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TNI Angkatan Udara pertama. Ia menyatakan kesiapannya untuk “mati demi mempertahankan kemerdekaan ini,” sebuah janji yang ia buktikan dengan tindakan nyata.

Membangun Sayap Pertahanan Republik: Peran di TNI Angkatan Udara

Halim direkrut dan diangkat menjadi Komodor Udara (setara Marsekal Pertama) di TNI Angkatan Udara. Berdasarkan keahlian dan pengalaman tempurnya, ia dipercaya sebagai Perwira Operasi Udara. Tanggung jawabnya sangat luas:

  • Menembus Blokade: Bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi udara, termasuk menembus blokade Belanda untuk mencari logistik penting bagi perjuangan.
  • Siasat Serangan Udara: Menyusun strategi serangan udara terhadap daerah lawan.
  • Operasi Penerjunan Pasukan: Melaksanakan operasi penerjunan pasukan di luar Jawa.
  • Pembinaan Wilayah: Menyelenggarakan penerbangan dalam rangka pembinaan wilayah.
  • Instruktur Navigasi: Di sela-sela kesibukannya, ia juga menjadi instruktur navigasi di sekolah penerbangan yang dirintis oleh Agustinus Adisutjipto.

Serangan Balasan Pertama: Menunjukkan Superioritas Udara Indonesia

Ketika Agresi Militer Belanda I meletus, Halim mendapat perintah untuk menyusun serangan balasan. Pada dini hari 29 Juli 1947, atas persetujuan pimpinan AURI, Halim memimpin pesawat-pesawat Indonesia untuk melakukan serangan udara pertama. Targetnya adalah markas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Serangan ini berhasil dan sukses, melambungkan nama AURI. Untuk pertama kalinya setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia mampu menunjukkan superioritas kekuatan udaranya.

Namun, keberhasilan ini harus dibayar mahal. Sore harinya, Belanda membalas dengan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya di langit Maguwo, Yogyakarta. Tiga perintis AURI gugur: Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, dan Juru Radio Opsir Udara Adisoemarmo Wiryokusumo.

Beban Tanggung Jawab yang Semakin Berat

Pasca tragedi tersebut, Halim Perdanakusuma menggantikan posisi Adisutjipto sebagai Wakil Kepala Staf AURI. Beban tanggung jawabnya semakin berat. Di tengah kesibukannya, pada 24 Agustus 1947, Halim menikah dengan Koesdalina di Madiun. Dua bulan setelah menikah, ia mendapat tugas baru yang sangat strategis: membangun angkatan udara di Sumatera. Tujuannya adalah menghubungkan Jawa dan Sumatera, menembus blokade Belanda, sekaligus menyiapkan basis perjuangan jika Jawa jatuh.

Misi Rahasia di Sumatera: Menyelamatkan Republik dengan Emas Rakyat

Didampingi Opsir Udara II Iswahjudi, Halim berangkat ke Sumatera. Di sana, ia diangkat sebagai Komandemen Tentara Sumatera. Bersama Iswahjudi, mereka disibukkan dengan misi mengangkut senjata dan amunisi, menembus blokade udara Belanda yang sangat ketat. Penerbangan dilakukan di malam hari, menyelinap di antara radar dan patroli musuh. Bayangkan ketegangan terbang dalam gelap, tanpa navigasi modern, hanya mengandalkan insting dan keberanian, sementara di bawah sana ada musuh yang siap menembak jatuh kapan saja.

Selama di Sumatera, Halim berhasil menjalin kerja sama erat dengan tentara dan masyarakat. Bersama rakyat, mereka membangun lapangan udara darurat. Lebih menakjubkan lagi, mereka berhasil menghimpun emas dari rakyat untuk membeli pesawat. Bukan dari APBN, bukan dari pinjaman luar negeri. Melainkan dari emas sumbangan rakyat. Salah satu hasilnya adalah sebuah pesawat Avro Anson dengan registrasi VH-PBY, dibeli seharga 12 kg emas murni, dan kemudian diberi nomor registrasi RI-003.

Baca Juga  NU: Masa Depan Gerakan Ekonomi Umat

Gugur di Langit Asing: Akhir Misi yang Sunyi

Desember 1947. Langit Thailand baru saja ditinggalkan. Halim dan Iswahjudi mengudara sekali lagi, membawa Avro Anson RI-003, pesawat yang lahir dari dua belas kilogram emas, keringat rakyat Sumatera, dan doa yang tak sempat diucapkan. Di dalamnya, senjata-senjata berdesakan: karabin, bren gun, pistol, granat—harapan yang diasah menjadi peluru.

Misi mereka kali ini rumit: mengantar pulang Keegan, warga Australia yang menjual pesawat tersebut, menjajaki pembelian senjata baru, dan menemui perwakilan RI di luar negeri. Selesai di Bangkok, RI-003 membelok ke Singapura. Namun, langit Malaya (kini Malaysia) menyimpan takdir lain.

Di atas Perak, awan menggulung bagai tirai besi. Kabut tebal merayap, membungkus sayap, membutakan mata navigasi. Badai datang tanpa diundang, mengguncang badan pesawat bagai tangan raksasa yang tak kenal ampun. Bahkan Halim, yang 44 kali selamat dari neraka pengeboman Eropa, hanya bisa merasakan kendali lepas dari genggamannya. Pesawat oleng. Daratan mendekat. Lalu hening.

Tidak ada dentuman tembakan. Tidak ada ledakan di angkasa. Tidak ada duel di udara. Hanya langit yang tiba-tiba memadamkan lampunya, dan dua pilot terbaik republik ini jatuh di tempat yang tak pernah mereka kenal: Labuhan Bilik Besar, di antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin, Pantai Lumut, Malaysia.

Bayangkan detik-detik terakhir itu. Udara yang dulu menjadi sahabat, kini menjadi lawan. Kokpit yang dulu menjadi singgasana, kini menjadi keranda terbang. Seorang anak Sampang yang pernah mengepung Nazi dari ketinggian, harus berpulang di ujung misi yang sunyi, di negeri jiran, dalam cuaca yang tak sudi berkompromi. Langit tak selalu setia. Namun, Halim tetap setia memenuhi janjinya: mati demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tragisnya, Halim meninggal tidak di tanah kelahirannya, melainkan di tanah asing yang tiba-tiba menjadi rumah terakhirnya, dimakamkan di Masjid Adki, diselimuti Merah Putih.

Jasad yang Ditemukan di Negeri Jiran: Misteri yang Menambah Duka

Laporan pertama mengenai jatuhnya pesawat RI-003 diterima polisi Lumut pada 14 Desember 1947. Berita ini mendapat perhatian luas dan disiarkan oleh surat kabar berbahasa Inggris. Tim penyelamat di lokasi kejadian hanya menemukan jasad Halim. Sementara itu, Iswahjudi bersama seluruh senjata yang mereka bawa, lenyap tanpa jejak hingga kini. Misteri ini menambah duka di balik tragedi tersebut.

Karena di daerah Lumut belum ada pemakaman Islam, jenazah Halim sempat dimakamkan di Teluk Murok, sekitar 30 km dari Lumut. Atas persetujuan pihak RI, pemakaman dilaksanakan secara Islam pada 19 Desember 1947 di Masjid Adki, diselimuti bendera Merah Putih. Di nisannya terpahat: “Jenazah Komodor Muda Udara A. Halim yang gugur di Tanjung Hantu tanggal 14 Desember 1947.”

Halim meninggalkan seorang istri, Koesdalina, yang saat itu tengah mengandung empat bulan. Sebelum berangkat tugas, ia berpesan: jika kelak anak yang lahir laki-laki, beri nama Ian Santoso untuk mengenang sahabat karibnya semasa Perang Dunia II di Eropa. Ian Santoso kemudian tumbuh dan mengikuti jejak ayahnya, menjadi prajurit TNI AU dan penerbang. Jabatan terakhirnya adalah Marsekal Madya TNI (Purn.) Ian Santoso Perdanakusuma, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Sebuah garis darah yang tak terputus dari pengabdian sang ayah.

Baca Juga  Husniah Talenrang: Akhir Tahun, Doa Lebih Utama dari Pesta

Nama yang Diabadikan, Ingatan yang Perlahan Sirna


Nama Halim Perdanakusuma diabadikan menggantikan nama Pangkalan Udara Cililitan melalui Surat Penetapan KASAU pada 17 Agustus 1952. TNI AU juga menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta, yang kemudian diselaraskan menjadi Marsekal Muda TNI AU Anumerta. Pada 15 Februari 1961, pemerintah menganugerahkan Bintang Maha Putera Tingkat IV. Dan melalui Keputusan Presiden RI No. 063/TK/1975, Abdul Halim Perdanakusuma ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Kerangka jenazahnya yang bersemayam di Malaysia kemudian dipulangkan dan dimakamkan kembali dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, pada Hari Pahlawan 10 November 1975.

Hari ini, Halim Perdanakusuma hidup sebagai nama bandara. Ia disebut tanpa jeda, tanpa cerita, tanpa kesadaran. Ribuan orang melintas di terminal yang memakai namanya, naik turun pesawat, sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa pernah bertanya: siapa gerangan yang namanya kami pakai setiap hari ini?

Padahal, di balik nama itu ada sejarah panjang: 44 misi pengeboman di langit Eropa, julukan “Black Mascot” yang melegenda, kepulangan yang tak mudah di saat dunia lain menawarkan kenyamanan, serangan balasan atas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa, misi-misi rahasia menembus blokade, 12 kilogram emas dari rakyat Sumatera untuk membeli pesawat, pesan kepada istri yang sedang hamil empat bulan, jasad yang hilang, senjata yang tak pernah ditemukan, dan pengorbanan yang tak pernah ia hitung sebagai utang piutang.

Halim bukan sekadar pahlawan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa keahlian kelas dunia bisa diabdikan sepenuhnya untuk republik yang baru lahir. Bahwa nasionalisme sejati bukan soal slogan di atas kertas, bukan soal atribut yang dipakai setahun sekali. Nasionalisme sejati adalah soal pulang. Pulang ketika dunia lain menawarkan kenyamanan. Pulang ke Indonesia yang masih berdarah-darah, masih miskin, masih terancam, tapi tetap ia pilih sebagai tempat untuk hidup dan mati.

Mungkin sudah waktunya, setiap kali kita menyebut “Halim,” kita berhenti sejenak. Bukan untuk menunggu boarding. Bukan untuk melihat jadwal kedatangan. Tetapi untuk mengingat, bahwa di langit yang sama dengan pesawat-pesawat yang kini lepas landas dengan aman, seorang anak Sampang pernah mempertaruhkan segalanya. Bahwa di langit itulah, Indonesia pernah dipertahankan. Dan di langit yang sama, ia memilih pulang, meski tahu itu bisa jadi terbang terakhirnya.

Maka, lain kali jika Anda berkata, “Ketemu di Halim, ya,” sempatkanlah bertanya dalam hati: Halim yang mana? Biarkan jawabannya membawa Anda pada kisah tentang seorang pemuda dari Madura yang menjadikan perang sebagai sekolahnya, yang pulang saat republik memanggil, dan yang namanya kini kita pakai setiap hari tanpa pernah benar-benar mengenalnya. Karena mengenal Halim berarti mengenal kembali arti pulang. Arti pengabdian. Arti memilih Indonesia di saat segalanya lebih mudah di tempat lain. Mungkin, hanya dengan mengenalnya, kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mencintai negeri yang ia perjuangkan hingga titik darah penghabisan?

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Akademisi UIN RIL: Kepuasan Publik Operasi Ketupat Krakatau 2026 Mencapai 98,2 Persen
Berita Utama

Akademisi UIN RIL: Kepuasan Publik Operasi Ketupat Krakatau 2026 Mencapai 98,2 Persen

26 Mei 2026 - 07:43
Kisah petugas PLN jaga terang tanpa henti untuk kunjungan wapres dan hilirisasi garam
Berita Utama

Kisah petugas PLN jaga terang tanpa henti untuk kunjungan wapres dan hilirisasi garam

26 Mei 2026 - 05:18
Bacaan Liturgi Selasa 26 Mei 2026, Pekan Biasa VIII Paskah A
Berita Utama

Bacaan Liturgi Selasa 26 Mei 2026, Pekan Biasa VIII Paskah A

26 Mei 2026 - 04:06
Briptu Alim Dihukum Rp 400 Juta Usai Mangkir dari Pernikahan
Berita Utama

Briptu Alim Dihukum Rp 400 Juta Usai Mangkir dari Pernikahan

26 Mei 2026 - 03:08
Erika Carlina Pilih Lupakan Kritik, Kini Fokus Bahagiakan Anaknya
Berita Utama

Erika Carlina Pilih Lupakan Kritik, Kini Fokus Bahagiakan Anaknya

26 Mei 2026 - 02:24
Profil Soimah Pancawati, Artis yang Nikahkan Putranya dengan Selebgram Jogja, Pernah Dikritik karena Ospek Calon Mantu
Berita Utama

Profil Soimah Pancawati, Artis yang Nikahkan Putranya dengan Selebgram Jogja, Pernah Dikritik karena Ospek Calon Mantu

18 Mei 2026 - 22:11
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

6 Desember 2025 - 03:04
Cak Nur dan Hardi Selamat Hood mendatangi kantor KPU Kota Batam untuk mendaftarkan diri maju di Pilkada tahun 2024. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

29 Agustus 2024 - 18:04
Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

10 Maret 2026 - 21:44
Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

28 Maret 2026 - 10:07
Sidang pembacaan tuntutan terdakwa mantan Kasat Resnarkoba Polresta Barelang, Kompol Satria Nanda di PN Batam. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

26 Mei 2025 - 16:54
5 Berita Terpopuler: Desta Ajak Dimas Djayadiningrat; Anji Menikah Kembali

5 Berita Terpopuler: Desta Ajak Dimas Djayadiningrat; Anji Menikah Kembali

26 Mei 2026 - 14:13
Cek jadwal dan tiket KRL Jogja Solo hari ini, Senin 25 Mei 2026

Cek jadwal dan tiket KRL Jogja Solo hari ini, Senin 25 Mei 2026

26 Mei 2026 - 12:47
Mimbar untuk Dijual

Mimbar untuk Dijual

26 Mei 2026 - 12:03
Trans Batam Tambah 19 Armada Baru, Koridor Nongsa-Batam Centre Diintegrasikan dengan Bandara Hang Nadim

Trans Batam Tambah 19 Armada Baru, Koridor Nongsa-Batam Centre Diintegrasikan dengan Bandara Hang Nadim

26 Mei 2026 - 12:00
Spesifikasi dan Harga Terbaru Galaxy A56: Apakah Layak Dibeli?

Spesifikasi dan Harga Terbaru Galaxy A56: Apakah Layak Dibeli?

26 Mei 2026 - 11:42

Pilihan Redaksi

5 Berita Terpopuler: Desta Ajak Dimas Djayadiningrat; Anji Menikah Kembali

5 Berita Terpopuler: Desta Ajak Dimas Djayadiningrat; Anji Menikah Kembali

26 Mei 2026 - 14:13
Cek jadwal dan tiket KRL Jogja Solo hari ini, Senin 25 Mei 2026

Cek jadwal dan tiket KRL Jogja Solo hari ini, Senin 25 Mei 2026

26 Mei 2026 - 12:47
Mimbar untuk Dijual

Mimbar untuk Dijual

26 Mei 2026 - 12:03
Trans Batam Tambah 19 Armada Baru, Koridor Nongsa-Batam Centre Diintegrasikan dengan Bandara Hang Nadim

Trans Batam Tambah 19 Armada Baru, Koridor Nongsa-Batam Centre Diintegrasikan dengan Bandara Hang Nadim

26 Mei 2026 - 12:00
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.