Satu warga tewas, 38 kasus DBD di Bangko

Diposting pada



BAGANSIAPIAPI (.CO) – Sejak Januari hingga April 2026, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, mencatatkan sebanyak 38 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari jumlah tersebut, satu warga Kelurahan Bagan Barat dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Bagansiapiapi.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah kasus DBD mengalami fluktuasi setiap bulannya. Pada Januari tercatat 10 kasus, Februari sebanyak 9 kasus, Maret meningkat menjadi 12 kasus, dan April tercatat 7 kasus.

Beberapa wilayah menjadi titik konsentrasi penyebaran DBD. Dua kelurahan dengan jumlah kasus tertinggi adalah Kelurahan Bagan Hulu dan Kelurahan Bagan Barat. Kedua daerah ini kini menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan penanganan oleh petugas kesehatan.

Sudirman, yang merupakan perwakilan dari Puskesmas Bagansiapiapi, menjelaskan bahwa berbagai langkah pencegahan telah dilakukan sebelum adanya korban jiwa. Upaya tersebut meliputi penyuluhan kepada masyarakat, ajakan gotong royong untuk membersihkan lingkungan, penggunaan ambulans keliling sebagai media informasi, fogging, serta penaburan abate di area yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Kami telah melakukan berbagai upaya sebelum adanya korban jiwa. Namun, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan tetap menjadi hal yang paling penting, terutama dalam mencegah genangan air,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Hal ini meliputi rutin menguras tempat penampungan air, menjaga lingkungan dari tumpukan sampah, serta memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah.

Menurut Sudirman, penanganan DBD membutuhkan kerja sama antara petugas kesehatan dan masyarakat. Kebersihan lingkungan menjadi faktor utama dalam memutus rantai penyebaran penyakit, selain langkah-langkah pencegahan yang telah dilakukan.

Langkah-Langkah Pencegahan DBD

  • Penyuluhan kepada masyarakat

    Petugas kesehatan rutin memberikan edukasi tentang cara mencegah penyebaran DBD. Mereka menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan bersih dan menghindari genangan air.

  • Ajakan gotong royong

    Masyarakat diajak untuk bekerja sama membersihkan lingkungan sekitar, terutama area yang rawan menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk.

  • Penggunaan ambulans keliling

    Ambulans digunakan sebagai alat sosialisasi, sehingga informasi tentang DBD bisa tersampaikan secara luas kepada masyarakat.

  • Fogging

    Fogging dilakukan di wilayah yang memiliki potensi tinggi penyebaran nyamuk. Teknik ini membantu mengurangi populasi nyamuk dewasa.

  • Penaburan abate

    Abate diberikan di tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat perkembangan jentik nyamuk, seperti bak air atau saluran air.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan DBD

Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran DBD. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Rutin menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember, atau kaleng bekas.
  • Menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
  • Memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah, termasuk di pekarangan dan saluran air.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan jika menemukan indikasi penyebaran DBD, seperti banyaknya nyamuk atau gejala demam yang tidak kunjung sembuh. Dengan kerja sama yang baik, penyebaran DBD dapat diminimalkan dan keamanan kesehatan masyarakat dapat terjaga.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan