Banjir rob atau genangan air laut di wilayah pesisir kian menjadi ancaman serius yang mengintai masyarakat sekitar. Fenomena ini tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga berdampak pada infrastruktur, kesehatan, dan perekonomian lokal. Kondisi ini semakin memperkuat kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko banjir rob.
Faktor Penyebab Banjir Rob
Banjir rob terjadi ketika pasang air laut mencapai titik tertinggi dan menggenangi daratan di wilayah pesisir. Menurut Prof Dr Yonvitner, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Gravitasi Bulan: Pasang air laut dipengaruhi oleh posisi bulan, khususnya saat bulan purnama.
- Perubahan Iklim: Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim memperparah risiko banjir rob.
- Aktivitas Manusia: Pengambilan air tanah berlebihan dan reklamasi pantai yang tidak terencana menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence), yang memperbesar kerentanan terhadap banjir rob.
Selain itu, faktor seperti gelombang tinggi dan curah hujan yang tinggi bisa memperparah kondisi banjir rob. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami penyebab dan cara menghadapinya.
Peringatan dari BPBD DKI Jakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan terhadap potensi banjir rob hingga 9 April 2026 di wilayah pesisir utara Jakarta. Peringatan ini dikeluarkan berdasarkan informasi dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok tentang Peringatan Dini Banjir Pesisir (Rob).
Menurut BPBD DKI Jakarta, puncak pasang maksimum terjadi pada pukul 23.00-02.00 WIB di wilayah:
- Kamal
- Muara Kapuk
- Muara Penjaringan
- Pluit
- Ancol
- Kamal Marunda
- Cilincing
- Kalibaru
- Muara Angke
- Tanjung Priok
- Kepulauan Seribu
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas di daerah pesisir saat pasang tinggi, serta memastikan sistem drainase berjalan baik.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Banjir rob tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan perekonomian. Menurut Prof Yonvitner, banjir rob dapat mengakibatkan:
- Kerusakan ekosistem pesisir, termasuk hutan mangrove.
- Merugikan sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata.
- Gangguan akses air bersih dan fasilitas kesehatan.
- Kehilangan mata pencaharian bagi masyarakat pesisir.
Jika terjadi terus-menerus, struktur sosial masyarakat bisa berubah drastis. Oleh karena itu, perlunya strategi mitigasi dan adaptasi yang efektif untuk mengurangi risiko bencana ini.
Strategi Mitigasi dan Adaptasi
Untuk mengurangi risiko banjir rob, Prof Yonvitner menyarankan pendekatan berbasis alam dan teknologi, seperti:
- Memperkuat tanggul pantai dan memperluas penanaman mangrove untuk menahan gelombang.
- Mengendalikan pengambilan air tanah guna mencegah penurunan muka tanah lebih lanjut.
- Membangun permukiman adaptif, seperti rumah terapung, bagi masyarakat yang tetap tinggal di zona rawan.
- Meningkatkan literasi masyarakat tentang langkah evakuasi dan pengelolaan lingkungan pesisir.
Pemerintah juga perlu mengembangkan kebijakan inovatif, seperti sistem peringatan dini dan desain infrastruktur tahan rob, untuk mengurangi dampak banjir rob.
Informasi dan Layanan Darurat
Masyarakat diimbau untuk memantau informasi terkini melalui situs resmi BPBD DKI Jakarta, yaitu pantaubanjir.jakarta.go.id. Selain itu, ada beberapa kanal darurat yang bisa digunakan untuk melaporkan potensi banjir atau mendapatkan informasi terkini, antara lain:
- Situs pantaubanjir.jakarta.go.id
- Aplikasi JAKI untuk laporan warga
- Website dan media sosial BPBD DKI Jakarta
- Jakarta Siaga 112 untuk penanganan darurat
Dengan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan, masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman banjir rob. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam mengurangi risiko bencana ini.
Penulis : wafaul




















