Desa Pesisir yang Berubah dengan Inisiatif Kemandirian
Di kawasan pesisir, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika laut tenang, warga bisa mendapatkan rezeki dari hasil tangkapan ikan. Namun, saat ombak tinggi, kehidupan bisa terganggu dan penghasilan berhenti. Dari situasi ini, muncul kebutuhan untuk menciptakan usaha alternatif yang tetap berlandaskan potensi desa, agar ekonomi keluarga tidak hanya bergantung pada satu sumber.
Di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau, lahan pesisir yang dulu terbengkalai kini mulai hidup kembali. Kelompok warga bernama “Tuah Bersatu” membangun sumber penghasilan baru melalui budi daya ikan kakap putih dan usaha turunan lainnya.
Awal Mula Inisiatif
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran (46), menjelaskan bahwa inisiatif ini dimulai dari kegelisahan warga yang selama ini hanya mengandalkan hasil tangkapan laut. “Dulu kami nelayan, habis melaut ya sudah, istirahat. Tidak ada kegiatan lain. Dari situ kami berpikir bagaimana ada tambahan penghasilan,” ujarnya.
Dengan lahan kosong di pesisir, kelompok ini mulai merintis budi daya kakap putih pada 2022 dan aktif sejak 2023. Seiring waktu, usaha berkembang bertahap sesuai kesiapan kelompok—mulai dari hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah.
Perkembangan Usaha
“Awalnya kakap, lalu berkembang ke hidroponik dan terasi. Sekarang sudah masuk ayam petelur dan bank sampah. Semua bertahap,” kata Amran.
Dari sisi ekonomi, dampaknya mulai terasa. Unit peternakan ayam saja mampu memasarkan sekitar 100 ekor ayam per bulan dengan omzet sekitar Rp10–12 juta. Sementara unit hidroponik yang dikelola kaum ibu setempat menjadi tumpuan baru melalui penjualan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis.
“Memang belum besar, tapi sangat membantu ekonomi keluarga,” ucap Amran.
Peningkatan Kapasitas SDM
Menurut Amran, manfaat yang paling fundamental adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Warga yang dulunya hanya memiliki keterampilan melaut, kini mulai menguasai teknik budi daya hingga manajemen usaha.
“Kami jadi banyak belajar, kenal dengan Kepala Dinas, dapat ilmu dari ahli. Itu yang paling terasa,” jelasnya.
Pendampingan Program TJSL
Dalam perjalanan pengembangan, kelompok Tuah Bersatu mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah Tbk Anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mulai dari pembukaan lahan hingga penguatan teknis dan pengembangan usaha secara bertahap.
Amran berharap pendampingan dapat terus berlanjut, khususnya dalam pengembangan pakan mandiri untuk budidaya ikan agar biaya operasional bisa ditekan.
“Harapan kami program ini terus dikembangkan. Kami ingin lebih mandiri dan bisa membantu masyarakat lebih luas lagi,” harapnya.
Perubahan yang Berarti
Bagi warga Sawang Laut, perubahan ini bukan sekadar bantuan, melainkan proses belajar yang membuat mereka lebih percaya diri membangun usaha bersama. Di titik inilah Amran melihat pendampingan bukan hanya soal modal dan alat, tetapi juga ruang untuk tumbuh—dari nelayan yang selama ini bergantung pada hasil laut, menjadi kelompok yang mulai berani merancang masa depan ekonominya sendiri.
Program ini dijalankan melalui skema TJSL dan diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi lokal berbasis potensi desa, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu komoditas, tetapi berkembang menjadi ragam sumber penghasilan yang lebih tahan uji.
Inisiatif yang menyentuh aspek sosial dan lingkungan ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan Grup. Atas konsistensi pengelolaan lingkungan dan dampak sosial yang dibangun di sekitar wilayah operasi, PT Timah Tbk meraih penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.




