Fakta Terkini Mengenai Kecelakaan Maut Bus ALS di Jalintim Muratara
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengungkapkan bahwa hanya lima penumpang dari total belasan yang tercatat dalam daftar manifest bus PT Antar Lintas Sumatera (ALS) yang terlibat dalam kecelakaan maut di Jalintim Muratara. Kecelakaan tersebut terjadi pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, dan menewaskan 16 korban jiwa termasuk dua sopir.
Manifest tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga menjadi dasar pemberian santunan. Jasa Raharja memastikan seluruh korban tetap berhak menerima santunan sesuai Undang-Undang Nomor 33 dan 34 Tahun 1964.
Bobby Nasution menyoroti ketidaklengkapan data manifest penumpang bus ALS. Ia berdialog dengan manajemen ALS, keluarga korban, Jasa Raharja, serta Dinas Perhubungan Sumut, saat mengunjungi loket ALS di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Kamis (7/5/2026). Ia mempertanyakan kejanggalan data penumpang bus jurusan Pati–Medan yang mengalami kecelakaan fatal.
Direktur ALS, Chandra Lubis, mengakui pihaknya hanya memiliki lima data penumpang karena sebagian penumpang naik di tengah perjalanan. Bobby menegaskan bahwa kondisi ini menjadi peringatan keras bagi operator transportasi untuk memperbaiki sistem pencatatan penumpang.
Ketidaklengkapan manifest dinilai berdampak besar terhadap proses identifikasi korban maupun penyaluran bantuan. Kepala Kanwil Jasa Raharja Sumut, Nasjwin Andi Nurdin, menegaskan bahwa data penumpang merupakan elemen krusial dalam penanganan kecelakaan. Ia menekankan, penumpang yang naik di tengah perjalanan tetap wajib didata.
Nasjwin menjelaskan, manifest tidak hanya berfungsi sebagai administrasi, tetapi juga menjadi dasar pemberian santunan. Tanpa data yang akurat, proses penyaluran bantuan berpotensi terhambat. Meski demikian, Jasa Raharja memastikan seluruh korban tetap berhak menerima santunan sesuai Undang-Undang Nomor 33 dan 34 Tahun 1964.
- Santunan korban meninggal dunia maksimal Rp 50 juta
- Biaya perawatan hingga Rp 20 juta
- Santunan cacat tetap maksimal Rp 50 juta
- Jika tidak ada ahli waris, bantuan pemakaman juga disediakan
Pencairan santunan saat ini masih menunggu hasil identifikasi tim forensik. “Kalau hari ini kami dapat informasi, hari ini juga bisa dibayarkan. Semua tergantung kepastian data,” ujarnya.
Bobby juga mengungkapkan telah berkoordinasi dengan Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, terkait penanganan kecelakaan. Komunikasi dilakukan sejak proses evakuasi korban dari Muratara ke Palembang. “Kita tahu kejadiannya melibatkan truk membawa minyak, jadi memang butuh proses identifikasi yang lebih detail,” kata Bobby.
Sementara itu, Herman Deru memastikan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menanggung seluruh kebutuhan keluarga korban selama berada di Palembang. “Makan, minum, penginapan, tempat tinggal keluarga korban selama di Palembang ditanggung Pemprov,” ujarnya. Ia juga menegaskan pemerintah akan membantu pemulangan jenazah ke daerah asal setelah proses identifikasi selesai.
Armada Bus ALS Akan Diremajakan
Armada bus ASL yang terlibat kecelakaan maut di Jalintim Muratara Sumsel sebenarnya tidak lama lagi akan berakhir masa operasionalnya. Sesuai jadwal, bus tersebut memasuki masa pensiun pada Oktober 2026. Selanjutnya armada bus ALS akan diremajakan.
Hal itu diungkap Muhamad Fadli (29), kernet bus ALS yang selamat dalam insiden tabrakan maut dengan truk tangki BBM. “Bus itu habis masa pakainya bulan 10 nanti, rencananya mau peremajaan. Sebelum kejadian, mobil sempat kering air radiator di Lahat, lalu sopir yang meninggal itu mulai menyetir dari Empat Lawang dan sempat bongkar barang di Lubuklinggau,” ujar Fadli, Kamis (7/5/2026).
Pria asal Riau tersebut berencana berhenti bekerja sebagai kernet bus seusai kecelakaan tragis menewaskan 16 orang pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Fadli selamat bersama tiga penumpang setelah melompat keluar darah jendela depan bus ALS yang pecah setelah terjadi tabrakan keras.
Fadli menceritakan armada pengangkut penumpang tersebut dijadwalkan menjalani peremajaan pada Oktober 2026. Bus dengan nomor polisi BK-7778-DL yang disebut telah beroperasi hampir 25 tahun itu terbakar setelah bertabrakan dengan truk tangki minyak bernomor BG-8196-QB. Fadli mengaku api langsung muncul dari bagian depan bus sesaat setelah tabrakan terjadi.
Saat itu, sebagian besar penumpang sedang tidur atau bermain ponsel sehingga tidak sempat menyelamatkan diri. Menurut dia, proses evakuasi menjadi sulit karena pintu bus tidak dapat dibuka dari dalam, sementara bagian belakang kendaraan dipenuhi paket barang.
“Pintu hanya bisa dibuka dari luar. Penumpang selamat lainnya keluar lewat jendela depan yang pecah. Saya bahkan melihat salah satu penumpang perempuan keluar dengan kondisi baju terbakar,” kenang Fadli.
Sejarah PT Antar Lintas Sumatera (ALS)
Mengutip informasi dari laman busals.com, PT Antar Lintas Sumatera (ALS) adalah operator transportasi umum yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Perusahaan ini berdiri pada 29 September 1966 dan kini berkantor pusat di Jalan Sisingamangaraja, Amplas, Medan.
ALS melayani rute antarkota dan antarprovinsi, khususnya untuk trayek di wilayah Pulau Sumatra dan Jawa. Berdasarkan informasi dari laman resminya, pada awalnya rute yang ditawarkan cukup terbatas, yakni trayek pulang-pergi Medan–Kotanopan dan Medan–Bukittinggi menggunakan bus Chevrolet C50.
Pada tahun 1972, ALS mulai melakukan ekspansi besar-besaran. Mereka membuka trayek ke berbagai kota di Sumatra seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Bandar Lampung. Pada tahun 1980-an, jangkauan layanan mulai merambah ke Pulau Jawa seiring dengan berkembangnya kapasitas kapal feri untuk mengangkut kendaraan, hingga akhirnya mencapai Pulau Bali.
Kini, ALS melayani transportasi dari dan ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Purwokerto, Malang, Kudus, Solo, Yogyakarta, Semarang, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bogor.
Mengutip Redbus.id, setelah lebih dari lima dekade beroperasi, armada PT Antar Lintas Sumatera kini telah mencapai 400 unit bus dengan berbagai pilihan kelas layanan.
Awal Mula Kecelakaan
Kecelakaan maut tersebut terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Saat itu bus tengah melaju dari arah Lubuklinggau menuju ke Jambi. Kasat Lantas Polres Muratara AKP M Karim mengatakan berdasarkan dugaan awal, kecelakaan terjadi saat sopir bus mencoba menghindari lubang di jalan sehingga kehilangan kendali.
“Sesampainya di tempat kejadian, diduga mobil ALS menghindari lubang dan hilang kendali,” ujar Karim. Bus kemudian masuk ke jalur berlawanan dari arah Lubuklinggau menuju Jambi dan menabrak truk tangki Seleraya yang datang dari arah berlawanan.
“Benturan tersebut menyebabkan kebakaran hebat pada kedua kendaraan,” katanya. AKP Karim menyebut identitas para korban mulai diketahui setelah tim melakukan pendataan di lokasi kejadian dan rumah sakit. “Alhamdulillah sekarang untuk data nama-nama sudah diketahui,” ujarnya.
Akibat kecelakaan tersebut, pengemudi dan penumpang truk tangki meninggal dunia di lokasi kejadian. Sopir Bus ALS juga dilaporkan tewas, sementara sejumlah penumpang mengalami luka bakar dan menjalani perawatan di RSUD Rupit. Sebanyak 14 penumpang bus yang meninggal dunia telah dievakuasi ke RS Bhayangkara Palembang untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Evakuasi Korban dengan Helikopter
Sementara itu, satu orang korban selamat dalam kecelakaan bus ALS di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, akan dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang. Saat ini korban Ngadiono (44), warga Desa Tlogoayu, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, yang kini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rupit.
“Untuk proses pemulihan pascaoperasi, korban akan menjalani perawatan secara penuh di RS Bhayangkara sampai sembuh,” ujar Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto, saat menggelar konferensi pers, Kamis (7/5/2026). Budi menjelaskan, kondisi Ngadiono mengalami luka bakar 50 persen sehingga proses evakuasi pun bisa dilakukan dengan helikopter.
Berbeda dua korban lain, yakni Jumiatun (35), istri Ngadiono, warga Pati, dan Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal, mereka mengalami luka bakar 90 persen sehingga tak bisa dibawa dengan helikopter. “Dua korban lain dibawa menggunakan ambulans, karena kondisi mereka yang tidak dimungkinkan,” kata Budi. “Ketiga korban ini akan dievakuasi ke Palembang besok pagi (Jumat hari ini—Red) dengan jalur darat dan helikopter,” jelasnya.
Daftar Nama-Nama Korban
Dalam kecelakaan tersebut, total 16 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara tiga korban mengalami luka bakar serius dan satu korban lainnya mengalami luka ringan. Sebanyak 16 kantong jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang sejak Kamis dini hari sekitar pukul 05.00 WIB untuk proses identifikasi.
Berikut daftar korban meninggal yang telah teridentifikasi:
* Aryanto (49), sopir mobil tangki Seleraya asal Lubuk Linggau
* Martoni (48), kernet mobil tangki Seleraya asal Muratara
* Alif (44), sopir Bus ALS asal Jawa Tengah
* Saf (50), kenek Bus ALS asal Medan
* Maleh (42), kru Bus ALS asal Medan
* Relodo, penumpang Bus ALS
* Zulkifli, penumpang Bus ALS
* Aldi Sulistiawan, penumpang Bus ALS
* Rani, penumpang Bus ALS
* Bela, anak Aldi dan Rani
* Celinton, penumpang Bus ALS
* Hisyamsiah Bachri, penumpang Bus ALS
* Sukardi, penumpang Bus ALS
* Salim, penumpang Bus ALS
* Budiyanto, penumpang Bus ALS
* Barhul Ulum, penumpang Bus ALS
Sementara itu, empat korban dilaporkan selamat. Tiga di antaranya mengalami luka bakar serius dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Rupit, yakni:
* Jumiatun (35) warga Pati, Jawa Tengah
* Ngadiono (44), kwarga Pati, Jawa Tengah
* Muhammad Fahrul Hubaidi (31), warga Tegal
* M. Fadli bin Ibrahim (30), kenek Bus ALS asal Riau, mengalami luka ringan dan telah diperbolehkan pulang.






