
Hobi yang Menyenangkan dan Terkendali
Bagi seorang bapak, memiliki hobi bisa menjadi cara untuk melepas kelelahan setelah menjalani tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Bisa saja hobi itu berupa mancing, bermain padel bersama teman, atau sekadar mengoleksi barang seperti mobil-mobilan, piringan hitam, atau action figure. Namun, penting bagi para bapak untuk memahami bahwa kepuasan pribadi tidak boleh sampai mengorbankan stabilitas rumah tangga. Hal ini terutama berkaitan dengan pembagian waktu dan alokasi anggaran.
Jangan sampai hobi yang mahal justru mengambil alih biaya kebutuhan pokok seperti makanan atau uang sekolah anak. Untuk itu, diperlukan strategi dan teknik pengelolaan keuangan yang baik. Salah satu caranya adalah dengan memisahkan pos anggaran antara kebutuhan dasar, investasi masa depan, dan keperluan hobi.
Contoh Penerapan Pengelolaan Keuangan
Aldo (40) merupakan contoh orang yang mengelola hobi dengan disiplin. Ia mulai menekuni hobi mengoleksi piringan hitam dalam beberapa bulan terakhir. Selain membeli mesin pemutar (turntable), belanja piringan hitam juga menjadi godaan. Harga piringan hitam bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada popularitas artis, tahun rilis, kondisi fisik, dan kelangkaan barang.
“Tiap kali belanja kadang lupa diri, pas bayar baru kaget lihat total harganya,” ujarnya. Akhirnya, Aldo memilih menggunakan fitur Kantong dari Bank Jago untuk membantu mengontrol pengeluaran hobi tersebut. Bahkan, ia membuat Kantong khusus bernama Vinyl. “Kalau saldo di kantong itu sudah habis, ya sudah enggak boleh belanja lagi,” tambahnya.
Di sisi lain, Rian (30) dari Bogor, Jawa Barat, menekuni hobi memancing sejak setahun terakhir. Meski membutuhkan perlengkapan khusus, Rian tidak selalu menghabiskan waktu setiap minggu untuk memancing. “Belum tentu seminggu itu main, tapi per bulan. Minimal dalam sebulan, mancing tuh 1 kali lah yang di laut lepas ya tapi. Kalau lagi sibuk sama kerjaan paling yang deket-deket di danau atau sungai aja,” katanya.
Dari sisi biaya, Rian mengatakan pengeluaran awal cukup besar karena harus membeli alat-alat pancing. Totalnya mencapai Rp 5 jutaan. Namun, pengeluaran bulanan untuk hobi ini hanya sekitar Rp 500 ribu. “Jadi masih affordable dan ramah di kantong rumah tangga lah. Keuangan tetep istri yang atur,” jelas Rian.
Strategi Pengelolaan Keuangan yang Efektif
Rian dan istri membagi penghasilannya dalam beberapa pos. Sebanyak 60 persen digunakan untuk kebutuhan harian seperti makan, transportasi, dan tagihan air serta listrik. Sementara itu, 20 persen dialokasikan untuk tabungan dan investasi, 10 persen untuk hobi, dan 10 persen sebagai dana darurat. Dalam mengatur keuangan, mereka menggunakan aplikasi Jago untuk memantau arus pemasukan dan pengeluaran secara rutin.
Perencana keuangan Andy Nugroho menegaskan bahwa alokasi dana untuk hobi perlu dibatasi agar tidak mengganggu kebutuhan utama. “Idealnya 10 persen. Itu memang secara pembagian pos-pos pengeluaran, saya biasa menyarankan seseorang yang memiliki hobi untuk melihat time-nya dia, bisa mengalokasikan 10 persen dari total pengeluarannya,” kata Andy.
Menurutnya, pengelolaan keuangan bisa dilakukan dengan satu atau beberapa rekening, tergantung kedisiplinan masing-masing individu. “Ya sebaiknya dia membaginya boleh dengan rekening yang berbeda, boleh dengan mungkin kantong uang yang berbeda, biasanya mereka mungkin bagi dalam kantong-kantong yang berbeda seperti itu,” terang Andy.
Selain itu, Andy menekankan bahwa setelah skema pos-pos pengeluaran dibuat, baik melalui rekening terpisah, fitur kantong digital, maupun metode amplop, kunci utamanya adalah disiplin dalam menjalankannya. Tanpa disiplin, perencanaan yang sudah tersusun rapi berpotensi tidak berjalan efektif dan justru membuat pengeluaran sulit dikendalikan.
Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga
Andy juga menyoroti pentingnya komunikasi antara pasangan dalam mengatur pengeluaran hobi. Menurutnya, tak ada rumus pasti apakah lebih baik meminta izin terlebih dahulu atau meminta maaf setelahnya, karena setiap pasangan memiliki dinamika komunikasi yang berbeda. Yang terpenting adalah adanya kesepahaman bahwa pengeluaran hobi tidak melampaui batas yang telah disepakati dan tidak mengganggu kebutuhan utama keluarga.
Selain membatasi pengeluaran hobi, Andy juga menekankan pentingnya tetap menyisihkan dana untuk investasi. Alokasi untuk investasi sebaiknya diposisikan setara dengan anggaran hobi, masing-masing sekitar 10 persen dari pendapatan. Ini penting agar keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga.
Tips Memilih Jenis Investasi
Andy menjelaskan bahwa jenis investasi mesti disesuaikan dengan profil risiko dari masing-masing pribadi. Dia mengklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, yakni konservatif, moderat, dan agresif.
Untuk profil risiko konservatif, seseorang bisa mencoba instrumen tabungan atau deposito. Selain itu, aset properti dan logam mulia juga bisa jadi andalan. Di profil ini, seseorang juga biasanya berinvestasi pada reksa dana pasar uang (RDPU).
Sementara itu, untuk profil risiko moderat, RDPU juga terkadang jadi pilihan, meskipun pertumbuhan potensi imbal hasilnya bisa lebih kecil daripada reksa dana pasar tetap (RDPT). Menurut Andy, di situasi sekarang justru RDPU yang pertumbuhannya lebih tinggi. Maka dengan speknya yang aman juga maka dikoleksilah instrumen ini oleh para investor yang bertipikal moderat.
Di sisi lain, untuk profil risiko agresif, Andy merekomendasikan produk high risk high return seperti saham dan valuta asing (valas). “Nah kebalikannya buat yang agresif itu contohnya adalah produk-produk yang cocok itu adalah yang seperti pasar saham gitu kan,” tutur Andy.
Pertimbangan berikutnya, Andy bilang, ketika mau berinvestasi mesti melihat tujuan. Contoh, jangan sampai uang yang diinvestasikan pada level agresif, malah ditarik lebih cepat alias tak menimbang aspek jangka panjang.
Menurut Andy, seseorang bisa menaruh dana di instrumen investasi paling pendek dalam jangka waktu satu tahun. Level menengah tiga tahun, dan untuk jangka panjang di atas lima tahun.
Selain itu, penting juga bagi masyarakat untuk melakukan diversifikasi investasi dengan membagi-bagi uang investasi ke berbagai jenis aset seperti saham, obligasi, emas, atau reksadana, alih-alih menaruh semuanya di satu tempat saja.
Teknologi Perbankan Bisa Permudah Investasi
Di zaman yang serba dinamis ini, banyak cara untuk membantu seseorang agar mencapai kesejahteraan finansial melalui investasi. Andy menuturkan, produk perbankan digital acapkali menawarkan kemudahan ini. Contohnya, ada teknologi perbankan yang bisa memudahkan pengguna untuk mulai berinvestasi, dan juga membantu mereka agar lebih disiplin dengan fitur yang memungkinkan mereka mengatur alokasi dana secara otomatis.
Salah satu bank yang menyediakan ekosistem untuk berinvestasi adalah Bank Jago. Di aplikasi Jago, investasi bisa dilakukan dengan lebih mudah karena terdapat tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah melihat seluruh portofolio investasi yang tersebar di berbagai platform ke dalam satu tab di Aplikasi Jago dan terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta platform investasi dari mitra ekosistem digital yang sudah ada, seperti Bibit dan Stockbit.






















