Anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, baru-baru ini menyoroti dugaan penyalahgunaan dan pemotongan dana yang seharusnya diperuntukkan bagi para atlet disabilitas di bawah naungan NPCI (National Paralympic Committee Indonesia) di berbagai daerah. Isu ini mencuat ke permukaan dan menimbulkan kekhawatiran mendalam, mengingat para atlet difabel telah berjuang keras dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Dugaan penyelewengan dana pembinaan untuk kepentingan di luar kegiatan olahraga semakin memperburuk situasi ini. Verrell Bramasta menekankan pentingnya tindakan tegas dari pemerintah untuk menindaklanjuti laporan serius terkait kasus ini. Ia menyatakan keprihatinannya atas nasib para atlet yang tidak mendapatkan hak-hak mereka, padahal telah mengharumkan nama daerah.
Dalam rapat Komisi X DPR bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, Verrell mengungkapkan bahwa terdapat 22 atlet disabilitas yang mengaku tidak menerima gaji dan uang makan. Lebih lanjut, mereka juga menghadapi upaya pembungkaman ketika berusaha menuntut hak-hak mereka yang seharusnya.
“Ini bukan sekadar soal administrasi. Ada dugaan abuse of power. Atlet yang sudah mengharumkan nama daerah justru diperlakukan tidak manusiawi,” tegas Verrell.
Perhatian Verrell terhadap dunia olahraga disabilitas bukanlah semata-mata karena sorotan publik. Jauh sebelum isu NPCI mencuat, ia telah menerima audiensi dari para atlet NPCI Bekasi yang mengadukan berbagai permasalahan, termasuk:
- Gaji yang tertunda berbulan-bulan: Para atlet mengeluhkan keterlambatan pembayaran gaji yang sangat memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
- Ketidakjelasan jabatan: Status dan posisi para atlet dalam struktur organisasi tidak jelas, menimbulkan ketidakpastian dan keraguan.
- Dugaan pemecatan sepihak: Beberapa atlet diduga dipecat tanpa alasan yang jelas dan tanpa proses yang adil.
Dari pertemuan tersebut, Verrell melihat langsung betapa ketimpangan perlindungan terhadap atlet disabilitas seringkali terjadi secara sistemik. Ia menyadari bahwa masalah ini bukan hanya sekadar kasus individual, tetapi merupakan masalah yang lebih besar yang membutuhkan perhatian serius dan solusi yang komprehensif.
Selain itu, Verrell juga menunjukkan upaya nyata dan perhatian penuh untuk memajukan kesejahteraan bidang olahraga di Indonesia melalui audiensi dengan Andi Jerni, seorang atlet kickboxing nasional. Audiensi ini bertujuan untuk memperjuangkan agar atlet diperhatikan secara merata pada semua cabang olahraga, termasuk non-olimpiade. Verrell menyadari bahwa seringkali cabang olahraga non-olimpiade kurang mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai.
Verrell juga berpartisipasi langsung dalam kegiatan yang melibatkan atlet disabilitas. Ketika menghadiri Fun Paralympic Karawang, ia ikut bermain tenis meja dan voli duduk bersama para atlet difabel. Pengalaman ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang perjuangan dan dedikasi para atlet.
“Baru kali ini saya merasakan bisa bermain voli duduk. Saya benar-benar salut dengan dedikasi mereka,” ujarnya. Ia mengakui bahwa latihan dan teknik yang harus dikuasai para atlet difabel sangat berat dan membutuhkan kegigihan yang luar biasa.
Menyikapi berbagai temuan, aduan, dan bukti ketimpangan yang diterimanya, Verrell menegaskan bahwa perjuangan atlet disabilitas tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Ia menekankan bahwa negara harus hadir bukan hanya saat mereka berdiri di podium membawa medali, tetapi terutama ketika hak-hak mereka terancam atau dirampas.
Verrell mendesak Kemenpora untuk segera mengambil langkah-langkah konkret, antara lain:
- Mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan dana: Investigasi mendalam harus dilakukan untuk mengungkap kebenaran dan menindak tegas para pelaku penyalahgunaan dana.
- Memastikan hak 22 atlet NPCI Bekasi dipenuhi: Hak-hak para atlet yang belum terpenuhi harus segera dipenuhi, termasuk pembayaran gaji dan uang makan yang tertunggak.
- Memperkuat mekanisme pengawasan: Sistem pengawasan harus diperketat untuk mencegah praktik serupa terulang kembali di daerah lain.
Bagi Verrell, olahraga bukan sekadar pertandingan, tetapi ruang martabat, keadilan, dan kesempatan. Ia percaya bahwa setiap atlet, tanpa memandang kondisi fisik, memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.
“Kalau mereka bisa berjuang untuk merah-putih, maka negara wajib berjuang untuk mereka juga,” pungkas Verrell. Ia menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban moral dan hukum untuk melindungi dan memperjuangkan hak-hak para atlet, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Dukungan dan perhatian yang diberikan kepada para atlet disabilitas akan menjadi investasi penting bagi kemajuan olahraga Indonesia dan peningkatan kualitas hidup para atlet.




















