Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat proses rehabilitasi dan pemulihan wilayah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa upaya pemulihan akan dilakukan secepat mungkin, menyanggah prediksi bahwa rehabilitasi total bisa memakan waktu hingga lima tahun.
“Kami akan berupaya secepat-cepatnya,” ujar Prasetyo usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penanganan banjir di Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (13 Desember 2025).
Prasetyo menjelaskan bahwa proses rehabilitasi akan berjalan secara paralel dengan upaya penanganan tanggap darurat bencana. Pemerintah akan segera melakukan inventarisasi dan perhitungan terhadap jumlah rumah yang terdampak, serta mengkategorikan tingkat kerusakannya, mulai dari rusak berat, sedang, hingga ringan.
Tahapan Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan. Selama penanganan tanggap darurat berlangsung, pemerintah akan mulai memikirkan tahapan selanjutnya.
- Inventarisasi Kerusakan: Menghitung jumlah rumah yang terdampak bencana.
- Pendataan akan mencakup skala kerusakan, mulai dari berat, sedang, hingga ringan.
- Perencanaan Relokasi: Menyiapkan lokasi baru bagi masyarakat yang rumahnya tidak memungkinkan untuk dihuni kembali.
- Koordinasi telah dilakukan dengan 52 kabupaten/kota yang terdampak.
- Pemerintah menginventarisir tanah negara dan tanah yang pengelolaannya diserahkan kepada pihak tertentu untuk dialokasikan sebagai titik relokasi.
Hal ini penting mengingat sejumlah permukiman warga hilang akibat dahsyatnya banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut. Kesiapan untuk merelokasi warga yang bersedia menjadi prioritas jika kondisi tempat tinggal lama tidak lagi aman.
Dampak Bencana yang Luas
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan, telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa jumlah korban tewas telah menembus lebih dari 1.000 jiwa.
Data dari Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025, yang tercatat di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), menunjukkan angka 1.003 warga meninggal dunia. Rekapitulasi terakhir yang diperbarui pada 14 Desember 2025 pukul 15.00 WIB mengkonfirmasi jumlah tersebut.
Angka ini menjadi pengingat akan skala tragedi yang terjadi dan urgensi penanganan serta pemulihan yang harus dilakukan oleh pemerintah. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, memberikan bantuan darurat, serta merencanakan langkah-langkah pemulihan jangka panjang agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dan membangun kembali kehidupan mereka. Upaya koordinasi lintas sektoral dan keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan mengurangi dampak jangka panjang dari bencana ini.

















