Kementerian Masih Menghadapi Ego Sektoral, Menko AHY Minta Kolaborasi Lebih Baik
Masalah ego sektoral di kalangan kementerian dan lembaga pemerintah masih menjadi isu yang perlu diperhatikan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam sebuah acara yang dihadirinya. Ia menilai bahwa kondisi tersebut bisa menghambat koordinasi antar instansi dan berdampak pada pembangunan nasional.
Ego Sektoral dan Persaingan Anggaran
AHY menyebutkan bahwa masih ada beberapa kementerian yang merasa memiliki posisi lebih penting dibanding lembaga lainnya. Sikap seperti ini memicu persaingan dalam memperebutkan anggaran pemerintah. Menurutnya, hal ini tidak hanya mengganggu kerja sama tetapi juga mengurangi efektivitas penggunaan dana negara.
Ia menjelaskan bahwa ego birokrasi sering kali muncul dalam lingkungan pemerintahan. “Sekarang terlalu sering, termasuk di birokrasi antarkementerian dan lembaga itu seperti ada sekat-sekat, seperti ada barriers, ego,” ujarnya.
Pentingnya Kolaborasi Lintas Pihak
AHY menilai bahwa kolaborasi lintas kementerian, pemda, dunia usaha, dan komunitas masih perlu diperkuat agar tujuan pembangunan bisa berjalan maksimal. Dalam sambutannya di Munas Ikastara, ia menyoroti tema “Connect, Collaborate, and Lead the Change” yang dinilainya sangat sesuai dengan tantangan pemerintahan saat ini.
Menurutnya, semangat kolektif dan solusi harus menjadi dasar dari semua kebijakan. “Core-nya ya semangat kita di sini. Kolektif, solution, government, akademik, bisnis, media, dan community atau apapun bentuknya, yang jelas ada tiga hal itu dan saya setuju sekali,” ujarnya.
Contoh Nyata dari Ego Sektoral
AHY memberikan contoh nyata tentang dampak ego sektoral dalam pembangunan infrastruktur. Ia menyebutkan bahwa ada pembangunan bandara yang tidak terkoneksi karena kurangnya integrasi dengan infrastruktur penunjang seperti jalan. Akibatnya, bandara tersebut sepi dan tidak optimal penggunaannya.
“Kita membuat bandara besar tapi kalau konektivitas menuju ke bandara tersebut masih sangat terbatas, bandara itu sepi dan tidak optimal penggunaannya,” ujarnya.
Peran Komunikasi dalam Penanganan Bencana
Selain itu, AHY juga menyinggung pentingnya koordinasi antar lembaga ketika pemerintah berkomunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memahami dampak El Nino terhadap ketahanan pangan. Menurutnya, komunikasi ini diperlukan agar pemerintah bisa mengambil langkah-langkah tepat ketika El Nino benar-benar terjadi.
“Oleh karena itu, ketika mendengarkan mungkin hanya 5 menit, tapi saya catat, saya serap, sehingga saya bisa jadikan itu sebagai referensi ketika terjadi kekeringan berkepanjangan, gagal panen. Infrastruktur harus membuat apa? Bendungannya harus diapain? Irigasi primer, sekunder, tersier harus bagaimana?” tuturnya.
Kesimpulan
AHY menegaskan bahwa kolaborasi dan komunikasi yang baik antar lembaga adalah kunci keberhasilan pembangunan. Ia berharap ego sektoral dapat segera diperbaiki demi kepentingan bersama. “Itulah pentingnya connection,” pungkasnya.



















