Menjaga Privasi Anak: Al Ghazali dan Alyssa Daguise Pilih Lindungi Buah Hati dari Sorotan Publik
Dalam era digital yang serba terhubung, banyak orang tua, terutama figur publik, kerap membagikan momen-momen pertumbuhan anak mereka di media sosial. Namun, pasangan selebritas Al Ghazali dan Alyssa Daguise mengambil langkah yang berbeda. Keduanya secara tegas sepakat untuk tidak mengekspos wajah buah hati mereka ke ranah publik, demi menjaga privasi sang anak.
Keputusan ini mencerminkan prinsip yang kuat dari Al Ghazali, yang ingin memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan sendiri pilihan hidupnya di masa depan, termasuk soal bagaimana ia ingin tampil di hadapan publik.
“Kalau soal itu, aku akan simpan terus sampai anak itu nanti mau sendiri tampil di kamera. Kayak misal dia bilang nggak mau difoto, ya udah nggak usah. Tetap mengutamakan privasi ya,” ungkap Al Ghazali saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Minggu, 22 Februari 2026.
Keputusan untuk menjaga privasi anak ini bukan tanpa pertimbangan matang. Al Ghazali, yang kini berusia 28 tahun, menyadari betapa liar dan sulit diprediksi-nya dunia media sosial saat ini. Ia berpendapat bahwa terlalu banyak hal yang tidak bisa dikontrol di ranah digital.
“Zaman sosial media sekarang ini gila-gilanya. Kita nggak ada yang tahu, orang kan ada yang jahat ada yang baik. Daripada macam-macam, mendingan kita jaga privasi. Anak juga punya hak untuk hidup secara privat,” jelasnya lebih lanjut.
Pengalaman pribadi Al Ghazali sendiri turut membentuk pandangannya ini. Tumbuh sebagai putra dari pasangan musisi ternama, Ahmad Dhani dan Maia Estianty, Al Ghazali sejak kecil sudah terbiasa berada di bawah sorotan kamera dan tampil di televisi. Pengalaman ini membuatnya sadar akan pentingnya kebebasan memilih.
“Aku ngerasain sendiri dari kecil udah kena sorotan kamera, masuk TV terus, dan itu bukan pilihanku waktu itu. Kali ini, aku mau anakku tampil itu murni atas pilihannya sendiri, bukan paksaan,” curhat Al Ghazali, menyoroti kontras antara masa kecilnya dan apa yang ia inginkan untuk anaknya.
Lebih jauh, Al Ghazali juga menyinggung sisi ketidaknyamanan yang seringkali menyertai popularitas. Ia bahkan mengutip pandangan pesepak bola dunia, Cristiano Ronaldo, mengenai ketenaran yang dianggapnya bisa menjadi sesuatu yang membosankan.
“Gak enaknya itu ya hidup jadi nggak ada privasi aja. Ronaldo (Cristiano Ronaldo) pernah bilang, kalau disuruh tanda tangan kontrak jadi pemain bola top tapi nggak terkenal, dia mau. Karena menurut dia fame (popularitas) itu membosankan,” tutur Al Ghazali.
Ketenaran Sebagai “Tiang Gantungan”: Risiko di Balik Popularitas
Di akhir perbincangannya, kakak dari El Rumi dan Dul Jaelani ini memberikan sebuah perumpamaan yang tegas mengenai hakikat popularitas. Ia melihat ketenaran memiliki risiko yang sangat besar, layaknya sebuah “tiang gantung”.
“Menurut aku pribadi juga, fame itu semacam kayak tiang gantung. Kalau kita berbuat salah sedikit aja, ya ibarat gantung diri namanya. Iya, fame itu seperti tiang gantungan,” pungkas Al Ghazali, menekankan betapa rentannya seorang figur publik terhadap kesalahan kecil yang dapat berakibat fatal pada citra mereka.
Keputusan Al Ghazali dan Alyssa Daguise untuk melindungi privasi anak mereka ini menjadi sebuah contoh yang menarik di tengah tren berbagi kehidupan anak di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa ada nilai-nilai yang lebih penting daripada sekadar eksistensi digital, yaitu perlindungan dan kebebasan individu, bahkan sejak usia dini.




