Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di sebuah sanggar tari, terlihat seorang perempuan dengan lincah menggerakkan tangan dan tubuhnya. Gerakannya bukan sekadar mengikuti irama musik, melainkan juga menjadi medium untuk melepaskan emosi yang terpendam. Perempuan itu adalah Alvia Nur Vida, seorang penari dan pelatih tari yang menjadikan seni tari sebagai cara untuk bertahan dan berekspresi.
Bagi Vida, panggilan akrabnya, menari bukan sekadar hobi, melainkan bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Ia telah menekuni dunia tari sejak usia lima tahun, ketika pertama kali diperkenalkan oleh orang tuanya di taman kanak-kanak. Sejak saat itu, tari menjadi teman setia yang menemani hari-harinya hingga bangku sekolah menengah atas (SMA).
Perjalanan Panjang dengan Tari
Perjalanan Vida di dunia tari tidak selalu mulus. Ia sempat vakum cukup lama saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan SMA karena minimnya dukungan kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolahnya. Namun, jeda panjang itu justru membuatnya menyadari betapa pentingnya tari dalam hidupnya.
“Dulu pernah berhenti nari, terus rasanya kayak ada yang hilang. Akhirnya mulai lagi, karena lewat gerakan tari itu saya bisa menyalurkan perasaan,” ungkap Vida. Kesadaran inilah yang mendorongnya untuk kembali menekuni dunia tari dengan lebih serius.
Pengalaman tampil dan melatih tari pun datang silih berganti. Meskipun tidak banyak mengikuti ajang lomba, Vida pernah mendapat kepercayaan untuk mewakili Jawa Tengah dalam kegiatan kebudayaan di Kalimantan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Pengalaman ini menjadi salah satu momen penting yang semakin memantapkan kecintaannya pada seni tari.
Mengabdi sebagai Pelatih Tari
Kini, Vida lebih banyak mengabdikan diri sebagai pelatih tari. Ia kerap mendampingi siswa-siswi sekolah untuk berbagai kebutuhan acara, mulai dari gelar karya hingga tugas akhir. Beberapa sekolah yang pernah ia latih antara lain SMA Loyola Semarang, SMA Nasima, hingga SMA Negeri 3 Semarang.
“Kalau ngelatih biasanya by event. Setelah acara selesai, ya selesai,” ujarnya sambil tersenyum. Meskipun bersifat sementara, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi setiap siswanya.
Sanggar Tari Tresna Budaya: Rumah Kedua
Sejak bergabung dengan Sanggar Tari Tresna Budaya, Vida merasakan atmosfer yang berbeda. Ia menemukan lingkungan yang suportif dan penuh kekeluargaan. Menurutnya, kekuatan utama sanggar ini bukan hanya pada teknik, tetapi rasa kekeluargaan yang terbangun antaranggota.
“Di sini itu guyub. Enggak cuma pelatih yang kerja, tapi teman-teman yang sudah dewasa juga ikut membantu,” tuturnya dengan bangga. Kebersamaan dan dukungan dari sesama anggota sanggar menjadi motivasi tersendiri bagi Vida untuk terus berkarya dan mengembangkan diri.
Pendekatan Bertahap dalam Melatih
Dalam melatih tari, Vida memilih pendekatan bertahap. Ia tidak memasang target tinggi, terutama bagi penari pemula. Metode yang ia gunakan disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing peserta.
“Tujuannya belajar. Jadi enggak harus langsung bisa. Kita pelan-pelan,” ucapnya. Vida percaya bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menari, asalkan diberikan kesempatan dan bimbingan yang tepat.
Beberapa poin penting dalam metode pelatihan Vida:
- Menyesuaikan dengan Usia dan Kemampuan: Vida selalu memperhatikan usia dan kemampuan setiap peserta didiknya. Ia tidak memaksakan gerakan-gerakan yang sulit bagi pemula.
- Fokus pada Dasar-Dasar Tari: Sebelum mempelajari gerakan-gerakan yang kompleks, Vida memastikan bahwa peserta didiknya menguasai dasar-dasar tari dengan baik.
- Menciptakan Suasana yang Menyenangkan: Vida berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan dan tidak tegang selama proses pelatihan. Ia ingin agar peserta didiknya merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar.
- Memberikan Apresiasi: Vida selalu memberikan apresiasi kepada peserta didiknya atas setiap kemajuan yang mereka capai. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dan memotivasi mereka untuk terus belajar.
Seni Tari Tetap Hidup
Di tengah anggapan bahwa budaya kian ditinggalkan generasi muda, Vida justru melihat denyut yang berbeda. Menurutnya, seni tari masih hidup dan terus berkembang, termasuk di Kota Semarang.
“Kalau di lingkaran teman-teman yang masih berkesenian, budaya itu tetap jalan. Sanggar juga makin banyak,” katanya. Ia optimis bahwa seni tari akan terus lestari di kalangan generasi muda, asalkan ada dukungan dan wadah yang memadai.
Tari Sebagai Ruang Ekspresi
Bagi Alvia Nur Vida, melatih tari bukan sekadar soal teknik gerak. Ia ingin menghadirkan ruang aman bagi anak-anak muda tempat mengekspresikan diri, mengenali perasaan, sekaligus tetap terhubung dengan budaya melalui tubuh dan irama.
Tari, bagi Vida, bukan hanya warisan. Ia adalah napas yang terus dijaga dan dihidupi. Ia berharap dapat terus berkontribusi dalam melestarikan seni tari dan menginspirasi generasi muda untuk mencintai budaya bangsa.



















