Tragedi di Banggai Kepulauan: Jenazah Balita Diantar Motor Gara-Gara Ambulans Desa Tak Bisa Menampung
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Desa Peling Seasa, Kecamatan Bulagi, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Jenazah seorang balita berusia tiga tahun terpaksa diangkut menggunakan sepeda motor menuju tempat pemakaman, lantaran ambulans desa yang seharusnya menjadi fasilitas penolong, tidak dapat menampung jasad mungil tersebut. Kejadian ini sontak mengundang keprihatinan mendalam dari masyarakat dan dengan cepat menyebar luas di media sosial, memicu berbagai reaksi.
Perjalanan menuju pemakaman di Desa Sosom yang berjarak sekitar delapan kilometer menjadi saksi bisu kesedihan seorang ibu. Ia terpaksa menggendong jenazah buah hatinya selama perjalanan tersebut, dengan seorang pria mengendarai sepeda motor. Air mata dan kesedihan jelas terpancar dari wajah sang ibu yang masih berduka, disaksikan oleh warga lain yang turut merasakan kepedihan atas insiden ini.
Menurut informasi yang beredar, ambulans yang ada di Desa Peling Seasa merupakan bagian dari program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu “BERANI Sehat”. Namun, ironisnya, fasilitas yang seharusnya siap sedia untuk berbagai kondisi darurat medis, dilaporkan hanya diperuntukkan bagi pasien yang sedang sakit. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan implementasi program tersebut di tingkat paling bawah, yaitu desa.
Kabar mengenai penolakan jenazah balita untuk diangkut ambulans ini beredar pada hari Senin, 1 Juni 2026. Dalam sebuah rekaman video yang viral, terdengar suara seseorang menjelaskan situasi yang terjadi. “Sebenarnya ada ambulans di Seasa, cuma tidak bisa dimuat,” ujar suara tersebut, mengindikasikan adanya keterbatasan kapasitas atau kebijakan penggunaan ambulans yang tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Sorotan Terhadap Program BERANI Sehat dan Harapan Warga
Insiden ini secara langsung menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap program-program kesehatan yang dijalankan oleh pemerintah daerah. Warga Desa Peling Seasa, melalui berbagai platform, menyuarakan harapan agar Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, berkenan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap program BERANI Sehat, hingga ke tingkat operasional di setiap desa.
Beberapa poin yang menjadi perhatian utama meliputi:
- Kapasitas Ambulans: Apakah ambulans yang ada di desa-desa memiliki spesifikasi yang memadai untuk berbagai keperluan, termasuk mengangkut jenazah?
- Kebijakan Penggunaan: Mengapa ambulans yang seharusnya menjadi fasilitas publik darurat, memiliki batasan penggunaan yang justru menghambat pelayanan di saat-saat krusial seperti ini?
- Koordinasi dan Kesiapsiagaan: Bagaimana sistem koordinasi antara pihak desa, puskesmas, dan dinas kesehatan terkait untuk memastikan semua fasilitas berfungsi optimal?
Ketiadaan ambulans yang memadai atau kebijakan penggunaannya yang kaku dalam situasi darurat seperti ini jelas menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat, terutama di daerah terpencil. Perjalanan sejauh delapan kilometer dengan menggendong jenazah di atas sepeda motor adalah gambaran nyata dari tantangan yang dihadapi warga dalam mengakses layanan dasar.
Hingga berita ini ditulis, Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden memilukan ini. Respons dari pihak pemerintah daerah sangat dinantikan oleh masyarakat, terutama untuk memberikan kejelasan mengenai kejadian tersebut dan langkah-langkah perbaikan yang akan diambil demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas pendukung seperti ambulans, haruslah dapat diakses dengan mudah dan tanpa hambatan, terutama dalam situasi yang membutuhkan penanganan segera dan penuh empati. Program-program kesehatan yang digulirkan hendaknya benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat di lapangan, bukan sekadar menjadi program di atas kertas. Evaluasi yang komprehensif dan tindakan perbaikan yang nyata sangat diharapkan demi kesejahteraan seluruh masyarakat Sulawesi Tengah.




