Gunung Anak Krakatau kembali memasuki fase erupsi pada Senin malam, 5 Oktober 2026, dengan dua letusan yang muncul hampir berurutan hanya dalam selang sekitar 15 menit. Aktivitas itu terjadi pada pukul 20.13 WIB dan disusul pukul 20.28 WIB, menurut laporan pemantauan yang diterima sehari kemudian dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Letusan kedua menjadi yang paling rinci tercatat alat pemantau. Seismograf merekam getaran dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan lama erupsi 61 detik. Dari pengamatan visual, semburan material vulkanik tidak tampak. Laporan resmi yang disampaikan Kepala Pos Pengamatan, Suwarno, menyebut erupsi pada 20.28 WIB itu terekam jelas di alat, meski permukaan gunung tidak menampilkan letusan yang bisa dilihat langsung.
Erupsi pertama pada pukul 20.13 WIB juga tidak menunjukkan visual letusan. Saat laporan dibuat, aktivitas tersebut bahkan masih berlangsung. Urutan dua kejadian itu menunjukkan bahwa Anak Krakatau bergerak dalam tempo cepat pada satu malam yang sama, dengan jeda yang sangat singkat antara letusan awal dan susulan.
Jika ditarik ke catatan sebelumnya, erupsi pada 5 Oktober itu muncul sekitar 25 hari setelah aktivitas terakhir yang tercatat pada 10 September 2026. Pada kejadian 10 September pukul 09.10 WIB, letusan juga tidak terlihat secara langsung. Namun, amplitudo yang terekam lebih tinggi, yakni 47 milimeter, meski durasinya jauh lebih pendek, hanya 17 detik.
Perbandingan dua kejadian tersebut memperlihatkan pola yang berbeda. Letusan awal Oktober memiliki getaran lebih kecil, tetapi bertahan lebih lama. Sebaliknya, erupsi 10 September menghasilkan amplitudo lebih besar namun berlangsung singkat. Perbedaan ini penting karena menunjukkan bahwa karakter erupsi gunung api aktif bisa berubah dari satu kejadian ke kejadian lain, baik dari sisi kekuatan getaran maupun lamanya proses letusan.
Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif di kawasan Cagar Alam Krakatau, Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung ini tumbuh dari sisa kaldera yang ditinggalkan letusan besar Krakatau pada 1883. Dalam aktivitasnya, Anak Krakatau kerap memperlihatkan pola erupsi strombolian, yaitu letusan eksplosif skala ringan hingga sedang yang terjadi berkala dengan ledakan kecil yang berulang.
Sumber: newsmaker.tribunnews.com




