Politisi Andi Sinulingga menyorot keputusan Rocky Gerung bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Andi, langkah itu bukanlah kejutan baru, karena ia menilai Rocky sudah lama menginginkan posisi serupa, bahkan sejak masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Andi menyampaikan pandangan itu saat menanggapi perjalanan Rocky yang kini berada di lingkaran pemerintahan. Ia menilai kehadiran Rocky di Wantimpres memperlihatkan bahwa ambisi tersebut telah muncul jauh sebelum pergantian rezim. Dalam komentarnya, Andi menyebut keinginan Rocky untuk menjadi bagian dari tim presiden bukan hal yang tiba-tiba muncul belakangan ini.
“Keinginan Rocky untuk menjadi one team bukanlah hal baru. Ia sudah mengincar posisi tersebut sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo,” ujar Andi. Ia juga mengaitkan gaya komunikasi Rocky yang selama ini dikenal keras dan sering berputar-putar dalam argumentasi dengan upaya yang menurutnya sudah lama diarahkan ke kursi itu.
Di sisi lain, Rocky Gerung menjelaskan sendiri bagaimana ia memandang tugas barunya di Wantimpres. Dalam keterangannya pada Jumat (2/10/2026), Rocky menegaskan bahwa lembaga tersebut tidak bekerja secara teknis seperti pelaksana kebijakan. Ia menyebut arahan dari Presiden Prabowo menempatkan Wantimpres pada posisi yang lebih etis dan normatif.
“Pesan khusus diberikan oleh Pak Presiden bahwa Dewan Pertimbangan punya kedudukan etis bukan teknis,” kata Rocky. Menurut dia, fungsi itu membuat anggota dewan perlu memberi masukan atas dampak kebijakan pemerintah, termasuk menilai kemungkinan ekses yang timbul agar arah kebijakan tetap sejalan dengan visi presiden.
Rocky juga menyebut Wantimpres memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memberi nasihat politik. Ia mengatakan dewan itu ikut memantau perkembangan politik dan kebudayaan yang terjadi di masyarakat. Dalam pandangannya, setiap anggota harus bekerja dengan tanggung jawab etis pribadi, bukan semata-mata mewakili kelompok tertentu. Rocky bahkan menggambarkan Wantimpres sebagai semacam oversight committee, seperti komite pengawasan dalam dunia perusahaan, tetapi dengan tuntutan keahlian dan ketajaman membaca situasi publik. Ia menambahkan bahwa anggota dewan perlu mampu mengambil jarak dari kejadian harian agar bisa melihat persoalan bangsa secara lebih utuh, termasuk melalui kontemplasi, evaluasi, dan pemikiran tentang masa depan republik.
Sumber: trends.tribunnews.com




