Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, kekhawatiran akan terancam punahnya bahasa-bahasa daerah di Indonesia mulai mengemuka.
Fenomena ini disoroti oleh Bupati Batang Hari, MHD Fadhil Arief, yang menekankan pentingnya upaya pelestarian bahasa daerah sebagai pondasi utama identitas budaya bangsa. Pandangan ini disampaikan usai beliau menerima penghargaan pada puncak Festival Tunas Ibu Nasional 2026.
Pentingnya Pelestarian Bahasa Daerah
Menurut Fadhil, Indonesia adalah sebuah mozaik yang lahir dari keberagaman suku, ras, budaya, dan bahasa. Keberagaman inilah yang menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa.
Bahasa daerah memegang peranan krusial dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah, yang pada akhirnya akan berujung pada penguatan semangat nasionalisme.
Beliau menegaskan bahwa upaya pelestarian bahasa daerah bukanlah sebuah tindakan yang bertentangan dengan semangat untuk mempelajari bahasa asing. Generasi muda harus mampu memelihara akar budaya mereka sambil tetap terbuka untuk menguasai bahasa internasional.
Langkah Konkret Pemerintah Kabupaten Batang Hari
Menyadari urgensi pelestarian bahasa daerah, Pemerintah Kabupaten Batang Hari telah mengambil langkah-langkah konkret. Salah satunya adalah dengan mengintegrasikan muatan lokal bahasa daerah ke dalam kurikulum pendidikan di wilayahnya.
- Integrasi Kurikulum: Muatan lokal bahasa daerah telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Batang Hari.
- Peraturan Kepala Daerah: Terdapat peraturan yang secara spesifik mengatur penerapan bahasa daerah di setiap tingkatan pemerintahan dan institusi pendidikan.
Tantangan dan Ajakan untuk Orang Tua
Meskipun telah berbagai upaya dilakukan, Fadhil mengakui bahwa pelestarian bahasa daerah masih menghadapi tantangan yang signifikan. Salah satu tantangan terbesar adalah semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari di lingkungan keluarga.
Oleh karena itu, Fadhil secara khusus mengajak para orang tua untuk berperan aktif. Kebiasaan sederhana berbahasa daerah di rumah, jika dilakukan secara konsisten, akan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan bahasa daerah.



















