Banjir Besar 2025: Kerusakan Parah pada Tanggul di Aceh Utara
Pada bulan November 2025, Aceh Utara dilanda banjir besar yang berlangsung dari tanggal 25 hingga 28 November. Kejadian ini menyebabkan kerusakan parah pada puluhan titik tanggul di sejumlah sungai, terutama di Krueng Pase dan Krueng Keureuto. Kerusakan tersebut memicu banjir bandang yang menghancurkan berbagai wilayah seperti Samudera, Syamtalira Aron, Geudong, Lhoksukon, dan sekitarnya.
Banjir ini tidak hanya merusak tanggul, tetapi juga menghancurkan embung, tebing sungai, serta menenggelamkan ribuan rumah. Warga setempat sangat khawatir dengan ancaman banjir ulang yang masih tinggi. Mereka mendesak pemerintah untuk segera melakukan perbaikan agar mencegah kejadian serupa di masa depan.
Kerusakan Tanggul di Beberapa Wilayah
Dari laporan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Utara, tercatat bahwa aliran Krueng Pase dan Krueng Keureuto menjadi lokasi dengan kerusakan terberat. Banyak tanggul jebol atau dalam kondisi kritis. Berikut adalah beberapa daerah yang mengalami kerusakan:
- Kecamatan Syamtalira Aron dan Samudera:
- Desa Teupin Jok: Kerusakan tanggul sepanjang 100 meter.
- Desa Teungoh: Kerusakan tanggul sepanjang 200 meter.
- Desa Mesjid dan Pante: Tanggul dalam kondisi kritis.
-
Mancang dan Meucat: Kerusakan tanggul antara 200–300 meter.
-
Kecamatan Samudera dan Meurah Mulia:
- Desa Teupin Beulangan, Paya Terbang, Kitou, Tanjong Mesjid, Tanjong Hagu, Tanjong Awe: Kerusakan tanggul antara 100–200 meter.
Selain itu, Krueng Keureuto yang melalui wilayah seperti Tanah Luas, Lhoksukon, Tanah Pasir, dan Lapang juga mengalami kerusakan parah. Contohnya:
- Desa Geumata, Lhoksukon: Kerusakan tanggul sepanjang 100 meter.
- Desa Serba Jaman Tunong, Kecamatan Tanah Luas: Tanggul dalam kondisi kritis.
- Desa Alue Drien, Mancang, Merbo Jurong: Tanggul dalam kondisi kritis.
Luapan air dari Krueng Keureuto juga menyebabkan banjir di wilayah Lhoksukon, Paya Bakong, Tanah Luas, hingga Lapang.
Kerusakan pada Sungai Lainnya
Selain Krueng Pase dan Krueng Keureuto, beberapa sungai lain seperti Krueng Peuto (Lhoksukon), Krueng Nisam, Krueng Sawang, dan Krueng Jambo Aye juga mengalami kerusakan. Contohnya:
- Krueng Peuto: Beberapa titik tanggul jebol dan kritis.
- Krueng Nisam: Longsoran tebing dan kerusakan berat.
- Krueng Sawang: Teralis longsor sepanjang 100–300 meter.
- Krueng Jambo Aye: Longsoran tebing dan tanggul kritis.
Selain itu, beberapa embung seperti Teupin Keubeu dan Lhok Gajah juga mengalami kerusakan berat pada pelimpah, tanggul, dan pintu air.
Kekhawatiran Masyarakat
Kerusakan tanggul yang begitu besar memunculkan kekhawatiran mendalam di tengah masyarakat. Warga yang tinggal di bantaran sungai seperti Krueng Pase dan Krueng Keureuto mendesak pemerintah untuk segera melakukan perbaikan. Mereka menilai, tanpa adanya penahan air yang memadai, setiap hujan deras berpotensi memicu banjir kembali.
“Jika tidak cepat diperbaiki, ini sangat berbahaya. Warga di sepanjang sungai hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun,” ujar Hadi, warga Kecamatan Samudera.
Respons Pemerintah
Pemerintah daerah telah menetapkan status Tanggap Darurat, namun masyarakat meminta agar pemerintah provinsi dan pusat mempercepat pengerahan alat berat, material, serta tenaga teknis untuk rehabilitasi tanggul. Mereka berharap upaya perbaikan dapat segera dilakukan agar bisa mencegah kerusakan lebih lanjut.



















