Bek tim nasional Benin, Mohamed Tijani, mengatakan skuadnya tidak menyiapkan strategi khusus untuk membatasi Lionel Messi saat menghadapi Argentina dalam laga persahabatan di Stadion Monumental, Buenos Aires. Menurut pemain berusia 29 tahun itu, perbedaan kualitas antara kedua tim terlalu jauh jika dilihat dari komposisi pemain dan pengalaman di level internasional. Karena itu, Benin memilih menjalani pertandingan dengan pendekatan santai ketimbang fokus pada upaya meredam kapten Argentina tersebut.
Tijani menyampaikan pandangannya itu saat berbicara kepada media lokal C5N, tak lama sebelum sesi latihan resmi digelar. Ia menegaskan bahwa tim pelatih tidak memberikan instruksi khusus untuk mengawal Messi secara ketat. Mantan pemain bertahan Rayo Vallecano itu bahkan menyebut laga tersebut sebagai kesempatan untuk menikmati suasana dan momen perpisahan seorang legenda sepak bola, bukan sebagai ajang untuk mengejar hasil dengan tekanan besar.
Dalam pernyataannya, Tijani juga melontarkan pujian tinggi kepada penyerang berusia 37 tahun itu. Ia menempatkan Messi di posisi yang sangat istimewa dibanding pemain lain di era modern. Salah satu ucapannya yang paling menonjol adalah, “Messi, Anda adalah Tuhan.” Ia menambahkan bahwa menurut dirinya, Messi adalah yang terbaik di dunia.
Sikap serupa juga datang dari dokter tim nasional Benin yang ikut mendampingi skuad selama berada di Buenos Aires. Ia ikut menegaskan bahwa Messi adalah pemain terbaik di dunia dan menyebutnya sebagai sosok dewa dalam sepak bola. Pujian dari kubu tamu ini memperlihatkan betapa besar penghormatan mereka terhadap peraih delapan Ballon d’Or tersebut, meski harus berada di sisi berlawanan lapangan.
Laga ini punya arti khusus bagi Argentina karena menjadi bagian dari perpisahan Messi di panggung internasional. Pertandingan ekshibisi tersebut menandai akhir perjalanan panjang sang kapten bersama tim nasional, sebelum ia melanjutkan fokus pada karier klub bersama Inter Miami di Major League Soccer. Kontrak dan masa baktinya di klub Amerika Serikat itu disebut masih berjalan hingga musim 2028 berakhir.
Bagi Argentina, duel ini juga menjadi momen awal untuk memikirkan masa depan tanpa sosok yang selama ini menjadi motor serangan utama. Pelatih Lionel Scaloni perlu menyiapkan transisi skuad pada periode berikutnya. Sementara bagi Benin, menghadapi raksasa dunia di stadion ikonik Buenos Aires menjadi pengalaman berharga yang bisa menambah bekal menjelang kualifikasi Piala Afrika berikutnya.
Sumber: kumparan.com




