Bio Farma dan 23 Century Medical Group Jajaki Pengembangan Stem Cell di Indonesia

Diposting pada

PT Bio Farma (Persero) memulai penjajakan kerja sama dengan perusahaan Malaysia, 23 Century Medical Group Sdn Bhd, untuk membuka peluang bisnis di bidang terapi seluler dan pengobatan regeneratif di Indonesia. Langkah awal itu dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober, dengan fokus pada registrasi, komersialisasi, dan distribusi produk berbasis sel punca atau stem cell serta sekretom.

Kedua pihak belum langsung masuk ke tahap bisnis penuh, melainkan lebih dulu memetakan kebutuhan pasar dan kesiapan sistem kesehatan nasional. Dalam kesepakatan tersebut, Bio Farma dan 23 Century akan menelaah apakah inovasi terapi seluler dapat dihadirkan ke Indonesia dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku, standar mutu, serta kebutuhan layanan kesehatan di tanah air.

Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menilai kerja sama ini sejalan dengan arah transformasi perusahaan di sektor life science. Menurut dia, pengalaman Bio Farma selama bertahun-tahun mengembangkan vaksin dan produk farmasi konvensional bisa menjadi modal untuk masuk ke bidang yang lebih maju. Ia juga menyebut kemitraan ini sebagai kesempatan memperkaya pengetahuan sekaligus memperkuat kapasitas bioteknologi nasional.

Di sisi lain, Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma Dicky Mahardhika Taryono menekankan bahwa pengembangan terapi seluler tidak bisa dilakukan secara instan. Menurut dia, ekosistem yang dibutuhkan mencakup riset yang kuat, tenaga ahli, sistem pengawasan mutu, teknologi produksi, fasilitas manufaktur, hingga dukungan layanan kesehatan. Seluruh elemen tersebut, kata Dicky, harus dibangun bertahap agar Indonesia memiliki ketahanan dan kemandirian di bidang kesehatan.

Dicky juga menegaskan bahwa penjajakan ini bukan semata soal peluang pasar, tetapi bagian dari upaya jangka panjang membangun kemampuan nasional di bidang teknologi kesehatan yang lebih maju. Bio Farma, lanjut dia, ingin memahami lebih dalam aspek ilmu pengetahuan, persyaratan regulasi, sistem mutu, dan kesiapan industri sebelum melangkah lebih jauh. Target akhirnya adalah menghadirkan akses terhadap inovasi kesehatan yang aman dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Dari pihak mitra, CEO 23 Century Medical Group Angelina Tiah Shy Yng melihat arah pengobatan modern semakin bergeser ke pendekatan yang tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga membantu pemulihan fungsi biologis tubuh. Melalui kerja sama ini, perusahaannya ingin memahami kebutuhan pasar Indonesia untuk produk berbasis sel punca, sekretom, dan memory-like natural killer cells, sekaligus mempelajari peluang pengembangan kapabilitas lokal dengan mengutamakan bukti ilmiah, mutu, keselamatan pasien, serta kepatuhan regulasi.

Penjajakan antara Bio Farma dan 23 Century Medical Group juga membuka ruang pembahasan mengenai kesiapan pasar, model komersialisasi, dan sistem distribusi yang diperlukan agar produk-produk tersebut dapat dikembangkan secara bertanggung jawab di Indonesia. Meski demikian, realisasi bisnis masih bergantung pada hasil kajian lanjutan dan pemenuhan seluruh ketentuan yang berlaku.

Tinggalkan Balasan