Membongkar Mitos dan Fakta: Air Dingin vs. Air Hangat Saat Berbuka Puasa
Perdebatan klasik yang selalu muncul setiap kali bulan Ramadan tiba adalah pertanyaan sederhana namun sering kali memicu diskusi panjang: manakah yang lebih baik untuk berbuka puasa, air es atau air hangat? Banyak yang berpendapat bahwa mengonsumsi air dingin saat perut kosong dapat menyebabkan kembung. Namun, di sisi lain, tak sedikit pula yang merasa hidrasi belum sempurna tanpa segelas teh manis dingin atau sirup dingin yang menyegarkan setelah seharian menahan dahaga.
Untuk menjawab kegelisahan yang tak kunjung usai ini, seorang praktisi kesehatan yang juga seorang dokter, dr. Tirta Mandira Hudhi, akhirnya buka suara. Melalui sebuah sesi tanya jawab yang disiarkan, dr. Tirta berusaha meluruskan berbagai mitos yang beredar di masyarakat terkait kebiasaan berbuka puasa. Ia menekankan bahwa penyebab perut kembung saat berbuka puasa bukanlah suhu air yang dikonsumsi, melainkan volume cairan yang masuk ke dalam perut secara keseluruhan.
“Perut kembung itu sebetulnya disebabkan oleh terlalu banyak asupan cairan. Bukan karena kebanyakan minum air dingin. Air panas pun bisa menyebabkan kembung, begitu pula air bersuhu biasa,” jelas dr. Tirta dalam sebuah tayangan daring.
Namun demikian, dr. Tirta memberikan peringatan penting terkait potensi bahaya minum air dingin secara langsung ketika perut dalam keadaan kosong. Hal ini berpotensi memicu kondisi yang dikenal sebagai brain freeze atau sakit kepala mendadak akibat konsumsi dingin.
“Air dingin, jika diminum saat perut kosong, dapat meningkatkan risiko terjadinya brain freeze. Rasa nyeri yang timbul bisa sampai ke kepala. Bahkan air bersuhu biasa pun bisa memicu ini, karena tidak semua orang memiliki toleransi yang sama terhadap suhu dingin,” terangnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta menambahkan bahwa pada akhirnya, suhu air apa pun yang masuk ke dalam lambung akan disesuaikan oleh sistem pencernaan tubuh.
“Di dalam lambung, semua suhu akan secara otomatis dinormalkan kembali,” imbuhnya.
Meskipun konsumsi air dingin tidak sepenuhnya dilarang dalam dunia medis, dr. Tirta mengungkapkan bahwa air hangat memiliki keunggulan tersendiri, terutama bagi organ pencernaan yang telah beristirahat selama belasan jam.
Keistimewaan Air Hangat untuk Pencernaan
“Ketika kita berpuasa, tidak ada makanan maupun minuman yang masuk melalui kerongkongan. Nah, ketika kita minum air hangat, ini akan memberikan sensasi yang nyaman dan menenangkan bagi kerongkongan,” ujar dr. Tirta.
Ia melanjutkan, air hangat diklaim mampu memicu efek vasodilatasi, yaitu pelebaran pembuluh darah, di area sekitar kerongkongan. Efek ini dapat membuat tubuh terasa lebih rileks. Menariknya lagi, air hangat juga disebut-dapat membantu membunuh kuman.
“Yang dimaksud di sini adalah air hangat, bukan air panas. Jika Anda minum air panas, tidak hanya mikroorganisme yang bisa mati, tetapi juga bisa melukai jaringan mulut Anda. Jadi, cukuplah air hangat. Anda bisa memilih teh hangat atau air mineral hangat,” sarannya.
Takaran Ideal untuk Berbuka Puasa yang Sehat
Lantas, bagaimana takaran yang tepat agar momen berbuka puasa tetap sehat, tubuh terhidrasi dengan baik, namun tidak menyebabkan perut kembung?
Dr. Tirta membagikan resep sederhana yang sangat mudah untuk dipraktikkan. Kuncinya adalah tidak berlebihan. Cukup siapkan air mineral dengan suhu ruang atau air hangat.
“Jadi, saat berbuka, minum satu gelas air mineral sekitar 330 ml, ditambah dengan tiga butir kurma. Menurut saya, itu sudah cukup,” pungkasnya.
Penting untuk diingat bahwa selain memperhatikan suhu air, menjaga keseimbangan hidrasi secara keseluruhan sepanjang hari juga krusial. Minum air secara bertahap sejak berbuka hingga sahur akan membantu tubuh tetap terhidrasi tanpa membebani sistem pencernaan.
Tips Tambahan untuk Berbuka Puasa yang Optimal:
- Hindari Minuman Manis Berlebihan: Gula berlebih dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan rasa haus di kemudian hari.
- Pilih Makanan Sehat: Setelah berpuasa seharian, tubuh membutuhkan nutrisi yang baik. Prioritaskan buah-buahan, sayuran, dan protein.
- Makan Perlahan: Beri waktu bagi lambung untuk beradaptasi setelah tidak terisi makanan dan minuman selama berjam-jam.
- Perhatikan Sinyal Tubuh: Dengarkan tubuh Anda. Jika merasa tidak nyaman dengan air dingin, pilihlah air hangat atau suhu ruang.
Dengan memahami fakta medis di balik perdebatan ini dan menerapkan tips yang disarankan, Anda dapat menikmati momen berbuka puasa dengan lebih sehat dan nyaman.













