Aktivitas Vulkanik Meningkat, Ribuan Warga Bener Meriah Mengungsi
Bener Meriah, Aceh – Peningkatan status aktivitas Gunung Burni Telong ke level III atau Siaga telah memicu evakuasi ribuan warga di Kabupaten Bener Meriah. Sebanyak 2.500 jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat aman di beberapa titik pengungsian. Keputusan ini diambil menyusul serangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut sejak Selasa malam hingga Rabu pagi, menimbulkan kekhawatiran dan kepanikan di kalangan masyarakat.
Situasi darurat ini menarik perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, bersama Bupati Bener Meriah, Tagore Abu Bakar, secara langsung meninjau lokasi pengungsian di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, pada Rabu (31/12/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk memantau kondisi pengungsi, menyalurkan bantuan, serta memberikan informasi terkini mengenai status gunung berdasarkan data ilmiah.
Gelombang Pengungsian Meluas Akibat Kepanikan
Awalnya, evakuasi hanya direncanakan untuk warga dari dua desa, yaitu Pantan Pediangen dan Rembune, yang secara geografis paling dekat dengan Gunung Burni Telong. Namun, dampak psikologis dari rangkaian gempa bumi yang terjadi membuat kepanikan meluas ke desa-desa tetangga, termasuk Bandar Lampahan dan Damaran. Warga di desa-desa tersebut pun memilih untuk ikut mengungsi, didorong oleh rasa khawatir akan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik.
Bupati Bener Meriah, Tagore Abu Bakar, menyatakan rasa syukurnya atas kehadiran Kepala BNPB yang sigap memberikan bantuan. “Pemerintah hadir begitu cepat, dan kita berterima kasih kepada pemerintah pusat yang sudah berada di tengah-tengah korban bencana,” ujar Tagore, menekankan respons cepat pemerintah dalam menangani situasi ini.
Para pengungsi kini tersebar di beberapa lokasi yang telah ditentukan, termasuk Rongka, Simpang Balik, dan Lampahan. Mereka mulai meninggalkan rumah sejak dini hari ketika guncangan gempa terasa semakin kuat dan frekuentif.
Peninjauan Langsung dan Penyaluran Bantuan BNPB
Dalam kunjungannya, Letjen TNI Suharyanto tidak hanya meninjau fasilitas pengungsian, tetapi juga secara langsung mendengarkan keluhan dan aspirasi masyarakat yang terdampak. Ia juga memimpin penyaluran bantuan berupa kebutuhan pokok yang sangat krusial untuk menunjang kehidupan para pengungsi selama masa pengungsian.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tercatat sebanyak 16 kali gempa bumi terjadi di wilayah tersebut sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Meskipun intensitas gempa mulai menunjukkan penurunan pada siang harinya, kewaspadaan tetap ditingkatkan.
“Informasi ini sudah kita sampaikan kepada masyarakat pengungsi, bahwa status Gunung Burni Telong berada di level III Siaga,” jelas Suharyanto. Ia menambahkan, pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas gunung dan berharap statusnya dapat segera diturunkan ke level II, sehingga warga dapat kembali beraktivitas normal di rumah masing-masing.
Pesan Koordinasi dan Komunikasi di Tengah Krisis
Suharyanto juga menekankan pentingnya penyampaian informasi yang akurat dan terverifikasi kepada masyarakat. Mengingat situasi di Aceh saat ini juga dihadapkan pada bencana alam lain seperti banjir besar dan longsor, koordinasi yang baik antarlembaga dan komunikasi yang efektif dengan publik menjadi kunci untuk mencegah kepanikan yang lebih luas.
“Pentingnya koordinasi dan komunikasi agar warga tidak semakin panik,” tegasnya. Hal ini bertujuan agar masyarakat mendapatkan gambaran yang jelas mengenai situasi dan langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah.
Kesaksian Langsung dari Pengungsi
Kepanikan dan ketidakpastian tergambar jelas dari kesaksian salah seorang warga Desa Rembune, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, bernama Juniar. Ia menceritakan detik-detik menegangkan saat gempa terjadi, yang membuatnya bersama keluarga berhamburan keluar rumah karena khawatir bangunan tempat tinggal mereka akan runtuh.
“Kami syok dan panik, sampai tidur di halaman rumah awalnya. Biasanya memang sering gempa, tapi tidak separah malam ini,” ungkapnya, menggambarkan intensitas gempa yang tidak biasa.
Sekitar pukul 23.00 WIB, imbauan dari aparatur desa untuk sementara waktu berlindung di tenda pengungsian mulai disebarluaskan. Menjelang tengah malam, seluruh penduduk di kawasan yang terdampak aktivitas Burni Telong akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke tiga titik yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.
Juniar menambahkan, meskipun kerinduan untuk kembali ke rumah terasa kuat, rasa takut akan potensi munculnya debu vulkanik atau gas beracun dari aktivitas gunung masih menyelimuti pikiran warga. “Kami di pengungsian membutuhkan selimut karena dingin, sembako, pampers, serta obat-obatan,” katanya, merinci kebutuhan mendesak yang dirasakan oleh para pengungsi di tenda-tenda darurat. Permohonan ini menjadi pengingat akan kondisi rentan yang dihadapi oleh ribuan jiwa yang terpaksa meninggalkan kenyamanan rumah mereka demi keselamatan.



















