Sejak diambil alih Abu Dhabi United Group pada September 2008, Manchester City bukan hanya naik kelas sebagai kekuatan baru Premier League, tetapi juga ikut mengubah nasib sejumlah rivalnya. Lewat belanja pemain, klub asal Manchester itu kerap memboyong pilar penting dari tim-tim yang sedang bersaing di papan atas, mulai dari Aston Villa, Everton, hingga Arsenal.
Dampaknya terasa cepat. Klub-klub yang kehilangan pemain kunci bukan hanya melemah di lapangan, tetapi juga ikut kehilangan momentum untuk menjaga jarak dengan City. Dalam beberapa kasus, pemain yang hengkang justru bergabung saat klub asalnya masih berada dalam fase kompetitif, sehingga efeknya terasa lebih besar dalam persaingan liga.
Aston Villa menjadi contoh paling mencolok. Pada musim 2007/2008 dan 2008/2009, tim asal Birmingham itu finis di urutan keenam dan bahkan sempat membuka musim 2008/2009 dengan kemenangan 4-2 atas Manchester City di Villa Park. Gabriel Agbonlahor mencetak hat-trick dalam laga tersebut, sebelum keseimbangan kekuatan kedua klub berubah drastis setelah City mendapat sokongan finansial baru.
Perubahan itu mulai terlihat pada musim panas 2009 ketika City merekrut Gareth Barry dengan mahar 12 juta pound. Setahun berselang, James Milner menyusul ke Etihad dengan nilai 16 juta pound, dalam kesepakatan yang juga melibatkan Stephen Ireland. Bagi Agbonlahor, Barry adalah pemain terbaik Villa saat itu, sedangkan kepindahan Milner makin menegaskan bahwa City mulai menyasar pemain inti dari rival langsung.
Pola serupa berlanjut pada 2015 lewat Fabian Delph. Saat itu Villa justru terpuruk hingga menjadi juru kunci dan terdegradasi ke Championship. Agbonlahor menyebut rangkaian kehilangan pemain penting tersebut sebagai pukulan besar bagi klubnya. Garry Cook, mantan chief executive Manchester City, bahkan pernah merangkumnya secara lugas dalam buku The Club karya Josh Robinson dan Jon Clegg dengan kalimat, “Kami melumpuhkan Villa,”.
Everton juga merasakan dampak yang tak kalah berat. Pada musim panas 2009, City memboyong Joleon Lescott senilai 22 juta pound, padahal Everton baru saja dua kali beruntun finis di posisi kelima. Lalu pada 2012, Jack Rodwell ikut hijrah ke Manchester City. Bagi tim asuhan David Moyes saat itu, kehilangan pemain bertahan penting di tengah upaya menembus kelompok elite jelas menjadi kemunduran.
Arsenal pun tidak luput dari pola yang sama. Emmanuel Adebayor dan Kolo Toure pindah pada 2009, disusul Gael Clichy dan Samir Nasri pada 2011 ketika Arsenal masih beradaptasi setelah pindah ke Emirates Stadium pada 2006. Kepindahan Nasri terasa lebih menyakitkan karena terjadi saat Cesc Fabregas juga sudah kembali ke Barcelona. Nasri kemudian langsung meraih gelar Premier League pada musim debutnya bersama City.
Setelah memenangi Premier League pada 2011/2012 dan 2013/2014, Manchester City tak berhenti memperkuat skuad. Mereka mulai aktif di pasar internasional dengan mendatangkan Fernandinho dari Shakhtar Donetsk pada 2013 dan Kevin De Bruyne dari Wolfsburg pada 2015. Meski demikian, mereka tetap sesekali merekrut pemain dari sesama klub Inggris, termasuk Raheem Sterling yang datang dari Liverpool pada 2015.
Sumber: jawapos.com




