Di tengah keterbatasan dan tantangan, bisnis bisa lahir dari hal-hal yang tidak terduga. Ini pula yang dialami oleh Aji W Santoso saat membangun Antique Creative Art (ACA) Company, sebuah perusahaan yang menghasilkan miniatur kendaraan dari bahan-bahan bekas.
Bagi sebagian orang, limbah seperti kartu perdana, korek api gas, atau kotak nasi bekas hanyalah sampah. Namun, di tangan Aji W Santoso, benda-benda ini berubah menjadi karya seni bernilai tinggi.
Kondisi keuangan yang memprihatinkan dan beban utang keluarga membuat Aji mencari cara untuk bertahan hidup. Saat itu, ia melihat banyak benda bekas yang terbuang di tempat sampah. Dari situ, muncul ide untuk memanfaatkan bahan-bahan tersebut sebagai bahan baku pembuatan miniatur kendaraan.
Selain itu, minat Aji terhadap transportasi juga menjadi salah satu inspirasi. Ia mulai membuat aksesori miniatur kendaraan, mulai dari sepeda hingga kendaraan roda empat. Pada tahun 2016, ia mendirikan ACA Company.
Setelah berhasil menyelesaikan beberapa karya, Aji mulai menjajakan hasil karyanya. Awalnya, ia berjualan langsung, namun pengalaman pertamanya tidak menyenangkan karena digusur oleh satuan polisi pamong praja.
Namun, ia tidak menyerah. Ia kembali berjualan di ajang car free day dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 20.000.
Sayangnya, selama masa pandemi, Aji terpaksa menghentikan usaha miniatur kendaraannya. Untuk bertahan hidup, ia sempat berjualan telur asin di pasar tradisional di Jombang.
Pengalaman berjualan telur asin membentuk mentalitasnya sebagai penjual. Dengan menggunakan topi koboi, ia belajar bagaimana menghadapi konsumen dan berbisnis.
Mentalitas ini kemudian ia bawa kembali ketika kembali menjalani usaha miniatur kendaraan. Setelah pandemi, ia kembali ke Jakarta dan menjajakan produknya.
Tidak disangka, ia pernah diliput oleh salah satu jaringan televisi nasional. Di sana, ia mengaku bahwa produk kerajinan ACA Company sudah tembus pasar ekspor. Padahal, saat itu hanya sampai pasar lokal saja.
Aksi bohongnya ternyata memberikan berkah. Pelan-pelan, ia mulai menerima pesanan dari luar negeri yang tertarik dengan produknya. Bahkan, beberapa pesanan datang dalam bentuk custom.
Untuk menjaga kualitas, Aji mulai memperhatikan bahan-bahan yang digunakan. Ia mulai memilih barang bekas yang presisi agar sesuai dengan pesanan pelanggan.
Kini, produk ACA Company telah menembus pasar global dan menjangkau 50 negara. Harga jual produk miniatur yang dijualnya kini mencapai jutaan rupiah, serta menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah per tahunnya.
Keberhasilan yang Tidak Mudah Diraih
Perjalanan Aji tidak selalu mulus. Dari awal hingga kini, ia menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari kegagalan awal, kehilangan tempat berjualan, hingga harus berpindah jalur bisnis. Namun, semua itu tidak membuatnya menyerah.
Ia tetap berusaha dan percaya bahwa setiap kesulitan adalah langkah menuju kesuksesan. Dengan semangat dan tekad, Aji berhasil membuktikan bahwa dari bahan-bahan yang dianggap tak berguna, bisa lahir karya seni yang bernilai tinggi.
Bukan Sekadar Bisnis, Tapi Kepedulian
ACA Company bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang kepedulian terhadap lingkungan. Dengan memanfaatkan barang bekas, Aji turut serta dalam upaya mengurangi sampah dan mempromosikan daur ulang.
Produk yang dihasilkannya tidak hanya bernilai seni, tetapi juga memiliki makna yang dalam. Setiap miniatur kendaraan yang dibuatnya adalah representasi dari kreativitas dan ketekunan.
Dengan begitu, ACA Company menjadi contoh nyata bahwa bisnis bisa lahir dari keterbatasan, dan dari sana, bisa menciptakan nilai yang besar.



















