Perjalanan Panjang untuk Bertemu Kembali
Denada akhirnya berhasil bertemu dengan Ressa Rossano, putrinya yang telah lama terpisah. Momen ini menjadi titik penting dalam hubungan mereka yang penuh konflik dan perjuangan. Setelah beberapa waktu yang penuh ketegangan, kini mereka berdua memilih untuk saling menerima dan mengakhiri masa lalu yang menyakitkan.
Sebelumnya, hubungan antara Denada dan Ressa sempat memanas hingga berujung pada perseteruan. Bahkan, Ressa pernah melaporkan Denada atas dugaan penelantaran anak. Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya perlahan membaik. Mereka akhirnya membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka, dengan harapan dapat menjalani kehidupan bersama secara harmonis.
Pertemuan yang dinanti-nantikan itu diisi oleh berbagai emosi yang campur aduk. Denada mengaku bahwa hari-hari sebelum pertemuan tersebut sangat melelahkan baginya. Ia bahkan tidak bisa tidur karena rasa gugup dan harapan yang tinggi.
“Hari itu aku mengirim pesan WhatsApp ke dia. Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari sebelum kita bertemu. Dan ternyata, saat kita benar-benar bertemu, dia juga bercerita bahwa dia tidak bisa tidur. Kita benar-benar sangat antusias,” ujarnya dalam acara Pagi Pagi Ambyar.
Perjalanan menuju lokasi pertemuan juga penuh dengan air mata. Denada mengungkapkan bahwa ia menangis tanpa henti sejak malam sebelumnya, hingga pagi dan subuh. Ia merasa tidak sabar ingin bertemu kembali dengan Ressa, namun juga takut akan reaksi yang akan diberikan oleh putrinya.
“Karena sudah tidak sabar ingin bertemu, pasti ada rasa takut. Aku takut nanti dia bagaimana? Apakah dia membenciku atau marah padaku? Dan aku sering mengomongkan hal itu,” katanya.
Denada bahkan membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Ketakutan akan penolakan membuat hatinya semakin gelisah.
“Aku bilang bahwa aku takut dia kecewa atau marah. Bagaimana nanti dia melihatku, apa dia langsung marah atau bagaimana?” ucapnya.
Namun, kenyataan yang terjadi justru jauh dari bayangan buruk tersebut. Momen pertemuan mereka berlangsung dengan penuh kehangatan dan haru. Denada menggambarkan betapa indahnya momen tersebut.
“Tapi ketika aku masuk dan membuka pintu, melihat dia duduk, begitu dia melihat aku, aku hanya bisa menangis. Langsung menangis dan aku peluk dia,” tambahnya.
Pelukan hangat menjadi simbol dari kerinduan yang lama terpendam. Keduanya sama-sama tidak mampu menahan tangis di momen tersebut. Denada dan Ressa saling memeluk dan menangis, membuat seluruh ruangan ikut terharu.
“Aku peluk dia, dia peluk aku, dia menangis dan aku pun menangis. Satu ruangan itu semua pun menangis. Dan aku hanya berkata ‘maaf ya’ dan dia juga begitu,” tuturnya.
Permintaan maaf menjadi jembatan yang menyatukan kembali hubungan mereka. Momen itu seolah menghapus semua luka yang pernah ada. Denada mengaku bahwa segala ketakutan yang sebelumnya menghantui akhirnya sirna. Ia merasa lega karena pertemuan itu berjalan lebih indah dari yang dibayangkan.
“Jadi hari itu, segala hal yang selama ini aku pikirkan, seperti aku takut dia marah, itu tidak ada,” tutupnya.




















