Jembatan Komunikasi: Diya Lovena, Sang Juru Bahasa Isyarat di Pelaihari
Di tengah hiruk pikuk sebuah acara publik, perhatian mungkin tertuju pada narasumber atau pembicara utama. Namun, di samping mereka, seringkali berdiri sosok yang bergerak sigap, menerjemahkan setiap kata yang terucap menjadi bahasa visual yang penuh makna. Dialah Diya Lovena, seorang perempuan muda dari Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, yang mendedikasikan dirinya sebagai juru bahasa isyarat (JBI).
Bagi sebagian orang, gerakan tangan dan ekspresi wajah yang ditampilkan Diya mungkin terlihat asing. Namun, bagi komunitas penyandang tunarungu, gerakan tersebut adalah kunci untuk membuka akses terhadap informasi yang selama ini kerap terhalang. Diya Lovena, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Pelaihari, telah mengabdikan diri sejak menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2020 untuk mendidik anak-anak tunarungu.
Bahasa Isyarat: Lebih dari Sekadar Alat Komunikasi di Kelas
Bagi anak-anak tunarungu, bahasa isyarat bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan merupakan bahasa kehidupan yang esensial. “Untuk anak tunarungu, memang harus diajarkan bahasa isyarat. Karena sebagian besar informasi mereka tangkap dari visual,” jelas Diya. Kemampuannya dalam memahami dan menyampaikan informasi melalui bahasa isyarat menjadikannya sosok vital dalam lingkungan pendidikannya.
Sebagai seorang alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Diya mulai merambah peran sebagai Juru Bahasa Isyarat pada tahun 2024. Perjalanannya dimulai ketika ia diminta untuk membantu menerjemahkan kegiatan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tala. Sejak saat itu, tawaran untuk menjadi JBI terus berdatangan, mencakup berbagai agenda penting seperti kegiatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tala. Hingga kini, Diya tercatat telah tampil lebih dari lima kali dalam berbagai kegiatan publik sebagai JBI.
Tantangan di Balik Keluwesan Gerakan
Meskipun terlihat luwes dan profesional di depan umum, Diya mengakui bahwa pekerjaan sebagai JBI bukanlah perkara mudah. Tantangan terbesar yang sering dihadapi adalah kecepatan pembicara. Ia harus mampu menyesuaikan kecepatan ucapannya dengan gerakan isyarat yang harus disampaikan secara cepat dan tepat agar maknanya tidak hilang. “Kadang pembicara terlalu cepat. Jadi kami harus benar-benar fokus supaya isyaratnya tetap sesuai dengan maksud yang disampaikan,” ungkapnya.
Selain kecepatan, penguasaan kosakata bahasa isyarat yang luas juga menjadi kunci. Menghafal dan memahami setiap makna dari isyarat yang digunakan merupakan pekerjaan rumah yang terus menerus ia lakukan. Setiap isyarat memiliki nuansa dan konteks yang berbeda, sehingga diperlukan ketelitian dan dedikasi tinggi untuk menguasainya.
Minimnya Juru Bahasa Isyarat dan Pentingnya Inklusi
Di Kabupaten Tanah Laut, keberadaan juru bahasa isyarat masih tergolong sangat terbatas. Penggunaan JBI dalam kegiatan publik pun masih minim jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada. Meskipun beberapa kegiatan berskala besar seperti konferensi pers Polres Tala pada Maret 2025 atau pembukaan Pekan Olahraga Paralimpik Provinsi (Peparprov) V Kalsel di Tala pada November 2025 telah mulai menghadirkan JBI, namun banyak kegiatan lain, terutama yang disebarkan melalui media sosial, masih belum terjangkau.
Diya menekankan pentingnya kehadiran JBI sebagai salah satu wujud nyata inklusi. “Di antara publik itu pasti ada juga yang difabel. Jadi penting agar inti informasi tetap sampai kepada mereka,” ujarnya. Tanpa penerjemah bahasa isyarat, penyandang tunarungu berisiko tertinggal dalam mendapatkan informasi yang sama dengan masyarakat umum, menciptakan kesenjangan akses yang perlu diatasi.
Secara ideal, seorang JBI seharusnya memiliki lisensi resmi yang dikeluarkan oleh Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat (PLJ). Namun, di Tala, jumlah JBI yang memiliki lisensi resmi masih sedikit. Meskipun demikian, di lingkungan sekolah tempat Diya mengajar, cukup banyak guru yang mahir menggunakan bahasa isyarat. Tantangannya adalah keberanian mereka untuk tampil di depan publik dan mengabdikan diri sebagai JBI.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Inklusif
Mengenai honorarium, Diya menjelaskan bahwa tarif yang diterima tidak selalu tetap. Untuk kegiatan besar, honornya biasanya mengikuti standar kota besar seperti Banjarmasin, berkisar ratusan ribu rupiah per acara. Sementara untuk acara yang lebih kecil dengan durasi sekitar dua jam, tarifnya bisa lebih rendah.
Namun, bagi Diya, nilai pekerjaan ini jauh melampaui sekadar imbalan materi. Ia memiliki harapan besar agar semakin banyak pihak yang menyadari betapa krusialnya peran juru bahasa isyarat, terutama di era digital saat ini di mana media sosial telah menjadi ruang interaksi publik yang dominan.
Harapan Diya sejalan dengan perkembangan positif yang mulai terjadi di Pelaihari, yaitu kehadiran Unit Layanan Disabilitas (ULD). Keberadaan ULD ini diharapkan dapat mendorong penguatan layanan yang lebih inklusif, termasuk peningkatan penggunaan bahasa isyarat di berbagai ruang publik, sehingga informasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.




