Nama dokter Gia ramai dibicarakan setelah unggahan singkatnya di media sosial memicu komentar yang menyeret urusan pribadi. Dalam threads yang ia buat soal kapan Pemilu 2029 akan digelar, salah satu warganet justru menyinggung kehidupan rumah tangganya. Alih-alih membalas dengan nada tinggi, dokter Gia menanggapi secara tenang. Sikap itu lalu memantik dukungan dari rekan sesama dokter, termasuk dr. Putut Giri Saputro, Sp.OG.
Peristiwa ini berawal dari unggahan dokter Gia yang sebenarnya tidak berkaitan dengan keluarga atau pernikahan. Ia hanya menanyakan jadwal Pemilu 2029. Namun, respons yang muncul justru melenceng jauh dari topik pembahasan. Komentar dari seorang pengguna media sosial tersebut membawa-bawa persoalan anak dalam rumah tangga dokter Gia dan dianggap tidak pantas karena menyentuh ranah yang sangat pribadi.
Di tengah komentar yang bernada menyudutkan itu, dokter Gia memilih tidak terpancing. Ia membalas dengan pernyataan singkat yang menegaskan bahwa kebahagiaan dirinya dan pasangan tidak bergantung pada hadir atau tidaknya anak. “Dengan ataupun tanpa anak. Hidup kami berdua akan tetap bahagia,” tulis dokter Gia. Jawaban itu mendapat perhatian luas karena disampaikan tanpa serangan balik atau kata-kata kasar.
Respons yang kalem tersebut kemudian mengundang simpati dari banyak pihak, terutama sesama tenaga medis. Salah satu yang ikut angkat bicara adalah dr. Putut Giri Saputro, Sp.OG. Ia menyebut dokter Gia sebagai kakaknya dan menegaskan bahwa dirinya tahu betul pribadi dokter Gia. Dalam pembelaannya, Putut mengecam ujaran kebencian yang diarahkan kepada dokter Gia dan menilai komentar semacam itu tidak seharusnya dilontarkan kepada siapa pun.
Putut juga mengingatkan bahwa sebagai dokter obstetri dan ginekologi, ia kerap melihat langsung perjuangan pasangan yang mendambakan kehadiran anak. Dari pengalaman itu, ia meminta publik lebih berhati-hati sebelum berkomentar di ruang digital. Menurutnya, bila seseorang tidak bisa memberi dukungan, pilihan terbaik adalah diam daripada mengucapkan hal yang menyakiti.
Kasus ini kembali menunjukkan bagaimana percakapan di media sosial bisa bergeser menjadi serangan personal hanya dalam hitungan detik. Padahal, unggahan awal dokter Gia tidak menyentuh isu keluarga sama sekali. Dukungan dari rekan seprofesi juga memperlihatkan bahwa empati masih menjadi hal penting, terutama ketika topik yang disinggung berkaitan dengan kehidupan rumah tangga dan harapan memiliki anak.
Meski dihujani komentar yang tidak enak dibaca, dokter Gia memilih menunjukkan ketenangan. Sikap tersebut justru membuat banyak orang memberi apresiasi, karena ia tidak membalas dengan emosi dan tetap menjaga batas pada urusan pribadinya.
Sumber: www.popmama.com




