Kunjungan Wapres RI ke K-SIGN Rote Ndao: Peluang Swasembada Garam Indonesia
Kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke K-SIGN Rote Ndao pada 22 Mei 2026 memberikan semangat baru bagi upaya pemerintah dalam mencapai swasembada garam. Proyek ini diharapkan menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat sektor kelautan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, agar proyek ini tidak berakhir sebagai proyek mangkrak, diperlukan perhatian serius dari pemerintah dalam mengelola rantai pasok hilir.
Langkah Penting untuk Mengoptimalkan K-SIGN Rote Ndao
Agar industri garam di Rote Ndao berkembang secara optimal, pemerintah harus fokus pada beberapa aspek penting berikut:
-
Rampungkan Infrastruktur dan Pastikan Operasional Tepat Waktu
Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Pangan bersama Pemerintah Daerah Rote Ndao harus segera menyelesaikan konstruksi tambak, gudang, jalan akses, dan fasilitas air bersih. Selain itu, stabilitas pasokan listrik serta aliran air laut untuk produksi juga harus dipastikan. Jadwal serah terima dan uji coba operasi harus disusun secara ketat agar pelaksanaan tidak kembali tertunda. -
Serap Tenaga Kerja Lokal dan Alih Teknologi
Industri garam di Rote Ndao wajib memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal melalui program alih teknologi. Pemerintah perlu menyelenggarakan pelatihan teknis bagi masyarakat setempat mengenai manajemen tambak, standardisasi kualitas, dan pengolahan pascapanen. Perusahaan pengelola harus diwajibkan menyerap minimal 70 persen tenaga kerja lokal. Selain itu, kolaborasi dengan koperasi petani garam lokal sangat penting agar masyarakat menjadi bagian dari rantai produksi, bukan sekadar buruh. -
Jamin Pasar dan Stabilkan Harga Jual
Masalah klasik garam Indonesia adalah serbuan impor murah yang membuat harga garam domestik anjlok saat panen raya. Untuk mengatasinya, pemerintah harus membatasi impor garam industri ketika Rote Ndao memasuki musim panen. Pemerintah juga perlu mewajibkan industri pengguna garam—seperti sektor kimia, farmasi, dan makanan—untuk menyerap garam lokal terlebih dahulu. -
Tingkatkan Kualitas ke Level Industri
Garam Rote Ndao memiliki potensi besar untuk menjadi garam industri dan farmasi karena kadar NaCl yang tinggi. Pemerintah mesti membangun unit pencucian (washing plant), pengeringan, dan iodisasi modern di K-SIGN. Fasilitasi pengurusan sertifikasi SNI, BPOM, dan standar ekspor juga harus diberikan. Pemerintah perlu menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan riset pengolahan turunan garam, sehingga komoditas yang dijual memiliki nilai tambah dan bukan sekadar garam mentah. -
Perkuat Kelembagaan dan Pengawasan
Tata kelola industri ini harus diperkuat dengan membentuk Badan Pengelola K-SIGN yang profesional, transparan, dan bebas dari konflik kepentingan politik. Dengan sistem pengelolaan yang baik, diharapkan proyek ini dapat berjalan lancar dan berkontribusi nyata terhadap perekonomian daerah maupun nasional.
Kunjungan Gibran Rakabuming Raka ke K-SIGN Rote Ndao menjadi momentum penting untuk mempercepat realisasi swasembada garam. Dengan langkah-langkah strategis yang telah disebutkan di atas, diharapkan proyek ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi salah satu tulang punggung industri kelautan Indonesia.


















